<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Islam Adalah Jalan Hidupku</title>
	<atom:link href="http://taukhid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taukhid.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Nov 2009 16:54:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='taukhid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a37f8bb810152753c48c17d78ea3ec35?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Islam Adalah Jalan Hidupku</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Wanita di Persimpangan Jalan: Kepala Rumah Tangga Perempuan atau Ibu Rumah Tangga</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 16:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nikah]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Oleh. Dra. Rahma Qomariyah, M.Pd.I
(Anggota DPP Muslimah HTI dan Ketua Lajnah Tsaqofiyah Muslimah HTI Pusat)

 
 
 
Pengantar
Pada tahun 1928 saat kongres pemuda para wanita juga ikut sehingga sumpah pemuda diucapkan oleh pemuda dan pemudi. Semangat perjuangan ini terus berkobar di kalangan organisasi perempuan, sehingga mereka mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 Desember [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=433&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong>Oleh. Dra. Rahma Qomariyah, M.Pd.I<br />
</strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">(Anggota DPP Muslimah HTI dan Ketua Lajnah Tsaqofiyah Muslimah HTI Pusat)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Pengantar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Pada tahun 1928 saat kongres pemuda para wanita juga ikut sehingga sumpah pemuda diucapkan oleh pemuda dan pemudi.<strong> </strong></span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Semangat perjuangan ini terus berkobar di kalangan organisasi perempuan, sehingga mereka mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta</span><a name="_ftnref1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. Kongres Perempuan Indonesia (KPI) di Yokyakarta tersebut merupakan tonggak awal pergerakan modern kaum perempuan di Indonesia. Hasil dari Kongres Perempuan Indonesia I adalah dua hal yang sanpat penting dilakukan oleh perempuan Indonesia yaitu: meningkatkan harkat perempuan, dan ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Disamping itu kongres ini melahirkan organisasi perempuan yaitu Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI)</span><a name="_ftnref2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> .<span id="more-433"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Inilah puncak perjuangan wanita, dengan terselenggaranya kongres perempuan pertama tanggal 22 Desember 1928. Dan merupakan wujud peran serta perempuan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan. Karenanya tanggal 22 desemser diperingati sebagai hari Ibu</span><a name="_ftnref3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Peringatan tersebut antara lain: dengan  memanjakan sang ratu rumah tangga, lomba, seminar, diskusi dan workshop. Pada hari istimewa itu  para ibu rumah tangga diberi’cuti’ tidak melakukan pekerjaan rutinnya yaitu urusan rumah tangga, bahkan ganti bapak-bapak yang mengerjakan dan melayaninya. Tidak jarang dalam diskusi, seminar dan workshop sebagai peringatan hari ibu, digulirkannya kembali ide-ide feminisme yang menuntut pekerjaan rumah tangga merupakan kewajiban bersama suami-isteri. <em>Sehingga muncul jabatan baru bagi wanita sebagai perempuan kepala keluarga dan bagi laki-laki sebagai bapak rumah tangga.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Feminisme: Peran Wanita  Sebagai Ibu Rumah Tangga bukan Kewajiban, tapi Bentukan Budaya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Patriarkhi dipahami secara harfiyah yang berarti ”kekuasaan bapak”(<em>role of the father</em>) yaitu keluarga yang dipimpin dan dikuasai laki laki</span><a name="_ftnref4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. Dampak budaya patriarkhi pada pembagian peran adalah sebagai berikut suami berperan di sektor publik, produktif, maskulin dan kewajiban mencari nafkah utama. Sementara peran isteri di sektor domestik, reproduksi, feminin dan seandainya mencari nafkah, maka sebagai pencari nafkah tambahan</span><a name="_ftnref5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. <strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Konstruksi sosial tentang gender menjadikan perempuan lebih memilih pekerjaan yang sifatnya melayani dan masih berkaitan dengan peran domestiknya di rumah tangga. Dengan demikian lapangan kerja juga mengalami segregasi atau pemilahan antara tugas laki-laki dan perempuan. Peran yang umum dipilih oleh perempuan pun menjadi guru, perawat, pekerja sosial, buruh sederhana, sekertaris dan lain sebagainya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Masyarakat juga lebih memandang laki-laki mampu menjadi insinyur, dokter, astronot dan lain-lain<a name="_ftnref6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Perempuan dan laki-laki adalah hasil dari sebuah relasi sosial. Jika kita mengubah relasi sosial, maka kita mengubah kategori perempuan dan laki-laki.Selanjutnya akan mempengaruhi beban kerja. Pada masyarakat patrilineal dan androsentris, beban gender laki-laki lebih dominan daripada anak perempuan. Dan setiap masyarakat akan dipengaruhi faktor kondisi obyektif geografis, yang kemudian ikut menentukan sistem sosial budaya yang khas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Adanya pemahaman bahwa peran gender diatas dapat dipertukarkan, baik bagi laki-laki maupun perempuan dan tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati yang hanya melekat pada jenis kelamin tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Dalam Jurnal HARKAT, disebutkan bahwa <strong><em>mayoritas yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin wanita dalam rumah tangga karena salah dalam menafsirkan surat an Nisa’ ayat 34. </em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 1cm .0001pt 28.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 28.25pt .0001pt 1cm;" dir="rtl"><span class="verse"><span style="font-size:14pt;font-family:&amp;">الرِّجالُ قَوّٰمونَ عَلَى النِّساءِ بِما فَضَّلَ اللَّهُ بَعضَهُم عَلىٰ بَعضٍ وَبِما أَنفَقوا مِن أَموٰلِهِم ۚ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِلغَيبِ بِما حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَالّٰتى تَخافونَ نُشوزَهُنَّ فَعِظوهُنَّ وَاهجُروهُنَّ فِى المَضاجِعِ وَاضرِبوهُنَّ ۖ فَإِن أَطَعنَكُم فَلا تَبغوا عَلَيهِنَّ سَبيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلِيًّا كَبيرًا <strong>﴿٣٤﴾</strong></span></span><span class="verse"><strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 1cm .0001pt 28.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 1cm .0001pt 28.25pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri<a name="_ftnref7" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></a>[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]<a name="_ftnref8" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></a>. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291]<a name="_ftnref9" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></a>, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]<a name="_ftnref10" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></a>. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Selanjutnya penulis memaparkan pemahamannya tentang surat tersebut, merujuk pendapat Asghar Ali Engineer bahwa ayat tersebut bersifat deskriptif atau sosiologis.Bahwa turunnya ayat tentang <em>laki-laki menjadi pemimpin wanita dalam rumah tangga, pada masyarakat yang pada saat itu kaum laki-laki memiliki kelebihan dari wanita berupa harta dan menafkahkan hartanya kepada keluarganya</em>. Dan <strong><em>perintah itu sifatnya tidak wajib</em></strong> karena tidak berbentuk kata perintah atau ayatnya tidak berbunyi: ”<em>Kaum laki-laki wajib/harus menjadi pemimpin bagi wanita</em>”. Ayat yang tidak berbentuk perintah tidak bisa dianggap sebagai ayat yang normative/teologis dan preskriptif atau difahami sebagai perintah dan bisa dipakai sebagai pedoman<a name="_ftnref11" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Karenanya menurut penulis artikel ini bahwa UU Perkawinan yang mengatur Peran suami dan isteri sudah tidah cocok dan penetapan peran suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah menciptakan <em>streotype</em><a name="_ftnref12" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></a>. Misalnya undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 31 ayat 3 menyatakan bahwa ” Suami adalah Kepala Keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga . Dan pasal 34 ayat 1 menyatakan bahwa ”Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Kepemimpinan Rumah Tangga Perspektif Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Mengenai peraturan yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan, Alloh Dzat Pencipta manusia berikut kebutuhannya memberikan aturan yang adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Terkait dengan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai manusia (insan), di dalam nash akan ditemukan adanya hak, kewajiban, peran dan fungsi yang sama antara laki-laki dan perempuan</span><a name="_ftnref13" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Syari’at Islam memberikan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan untuk menjalankan ibadah seperti shalat, shaum, haji dan zakat. Syari’at Islam telah memberikan hukum-hukum muamalat yang berhubungan dengan persoalan jual-beli, perburuhan, perwakilan, pertanggungjawaban berlaku sama untuk perempuan maupun laki-laki. Akan tetapi dilihat dari sisi kodratnya bahwa laki-laki adalah laki –laki dan perempuan adalah perempuan maka terdapat hukum yang berbeda seperti aurat perempuan, hukum tentang kehamilan, hukum tentang persusuan, wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dst, semuanya dibebankan pada perempuan bukan pada laki-laki. Sedangkan kepemimpinan yang mengandung kekuasaan pemerintahan, kepemimpinan keluarga, nafkah, jihad, batas aurat laki-laki dst, hukum-hukum ini dibebankan pada laki-laki tidak pada wanita. </span></p>
<p class="MsoHeader" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dalam rumah tangga, <strong>Allah memberikan <em>peran bagi suami adalah sebagai pemimpin rumah tangga</em></strong><em> </em>dan wajib memimpin, melindungi dan memberi nafkah kepada anggota keluarganya. Sedangkan <strong><em>peran istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga</em> </strong>yang bertanggug jawab mengatur rumah tangganya di bawah kepemimpinan suami</span><a name="_ftnref14" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Sebagaimana firman Allah surat an Nisa’ ayat 34 :</span></p>
<p class="MsoHeader" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 32.55pt .0001pt 21.3pt;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:&amp;">الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ <span style="text-decoration:underline;">وَبِمَا أَنْفَقُو</span>ا مِنْ أَمْوَالِهِمْ </span></strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:37.4pt;margin:0 26.95pt .0001pt 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 26.95pt .0001pt 37.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…<a name="_ftnref15" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dari ayat ini jelas bahwa Allah menetapkan peran suami sebagai <em>pemimpin rumah tangga</em> <strong>bukan karena</strong> <em>pertama,</em> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">وَبِمَا أَنْفَقُوا</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">(dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka)<a name="_ftnref16" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></a>, sehingga saat isteri bekerja dan gajinya lebih besar, tidak menjadikan isteri sebagai pemimpin dalam rumah tangga. <em>Kedua,</em> penetapan <em>illat</em> suatu hukum tidak ditetapkan secara <em>aqli</em>, akan tetapi ditetapkan secara <em>syar’i.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Disamping itu terdapat nash lain yang tidak terdapat kata </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">وَبِمَا أَنْفَقُو</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">, tapi nash tersebut menunjukkan bahwa peran suami sebagai pemimpin rumah tangga dan isteri sebagai pengatur rumah tangga di bawah kepemimpinan suami. Sabda Rasulullah Saw:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:justify;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 28.3pt 6pt 36pt;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&amp;">وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهَا. (متفق عليه)</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:justify;margin:0 36pt 6pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">“…</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dan wanita adalah penjaga tanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya<em>”.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Peran suami sebagai pemimpin keluarga juga ditunjukkan dengan banyaknya nash-nash yang mewajibkan keta’atan dan perizinan isteri kepada suami, karena keta’atan merupakan konsekwensi dari kepemimpinan<a name="_ftnref17" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></a>. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:24.25pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&amp;">اتقي الله ولا تخا لفي زوجك </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Hendaklah engaku bertakwa kepada Allah dan tidak melanggar perintah suamimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Tentang perizinan Rasulullah pernah bersabda sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 24.25pt .0001pt 27pt;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&amp;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ<a name="_ftnref18" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&amp;">[18]</span></strong></span><!--[endif]--></span></a></span></strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 24.4pt .0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Artinya: Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (puasa sunnah), sementara suaminya menyaksikannya, kecuali dengan izinya (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Pergaulan suami-isteri perspektif Islam sangat harmonis, bagaikan dua sahabat (Shahabani) sebagaimana dikatakan Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam <em>Nidzam Ijtima’i fil Islam</em>, sehingga mampu mengantarkan keluarga <em>sakinah mawaddah warahmah</em>. Karena sekalipun kepemimpinan ada pada suami tidak menjadikan suami otoriter dan menzalimi isteri, karena relasi suami isteri bukan seperti komandan dengan prajurit atau terdakwa dengan polisi<a name="_ftnref19" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></a>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Disamping itu pada saat beban isteri sangat banyak dan berat, sehingga isteri tidak kuat untuk mengerjakannya misalnya mengasuh balita 3-5 anak, masih harus mencuci, menyeterika, memasak dan lain lain. Maka bukan berarti dia harus tetap mengerjakan semua itu sampai sakit-sakitan, bahkan akhirnya sampai melalaikan kewajiban yang lain misalnya berdakwah. Akan tetapi pada saat itu, suami berkewajiban membantunya, untuk meringankan beban isteri. Bantuan itu baik dibantu dengan tangannya sendiri maupun dengan menggaji pembantu. Semuanya ini termasuk dalam cakupan pemberian nafkah secara ma’ruf. Sebagaimana firman Allah dal al Baqarah ayat 233:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-2.9pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">4</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">n</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">?</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">t</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">ã</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Ï</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ä</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">9</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ö</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">p</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">R</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ù</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">Q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">#</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">¼</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ã</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">&amp;</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">s</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">!</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">£</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">`</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ß</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">g</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">%</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ø</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Í</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">£</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">`</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">å</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">k</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">E</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ó</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">¡</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Ï</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">.</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Å</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ã</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">÷</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">p</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">R</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ù</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">Q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Î</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">/</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">4</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">w</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ß</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">#</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">¯</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">=</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">s</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">3</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">?</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ë</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">§</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ø</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">ÿ</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">t</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">R</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">w</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Î</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">)</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">y</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">g</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">y</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ó</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ã</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">4</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">w</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">§</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">!</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">Ò</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">è</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">?</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">8</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">o</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">t</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Î</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">!</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">º</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">y</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">d</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Ï</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">s</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">!</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Î</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">/</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">w</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">r</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">×</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ä</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">9</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ö</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">t</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">B</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">¼</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">ç</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">m</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">©</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">9</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">¾</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Í</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">n</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Ï</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">$</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">s</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB3;">!</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB5;">u</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB2;">q</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">Î</span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB1;">/</span><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:HQPB4;">4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu <strong><em>dengan cara ma’ruf</em></strong>. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. <strong><em>Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya</em></strong> dan seorang ayah karena anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">Inilah hukum yang adil, menyelesaikan masalah serta memulyakan wanita, agar lebih jelas simaklah mekanisme hukum keluarga sebagai berikut: di dalam Islam perempuan tidak diwajibkan bekerja untuk mencari nafkah, bahkan harus dinafkahi seumur hidup dengan mekanisme perwalian dan terakhir yang bertanggung jawab adalah negara untuk memenuhi kebutuhannya. Adapun hukum bekerja bagi perempuan adalah <em>mubah </em><em>(boleh)</em> baik di sektor yang membutuhkan intelektualitas dan profesionalisme kerja seperti rektor perguruan tinggi, kepala departemen kesehatan dan kepala rumah sakit sampai yang hanya membutuhkan tenaganya saja</span><a name="_ftnref20" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">. Dan hasil kerjanya adalah milik perempuan itu sendiri, bukan milik keluarga, dan hanyalah <em>sunnah</em><a name="_ftnref21" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></a> untuk di shodaqohkan ke keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Akan tetapi Islam memberi tanggung jawab menjaga kehamilan, menyusui, mengasuh anak dan mengatur rumah tangga pada seorang ibu. Dari sini terlihat bagaimana indahnya hukum Islam tersebut, wanita diberi banyak pilihan: <em>Pilihan pertama</em>, memilih bekerja atau tidak bekerja dan mencurahkan waktunya untuk membentuk putra-putrinya menjadi <em>generasi khoiru ummah</em> serta senantiasa memperbaiki kerusakan –kerusakan yang ada di masyarakat, beramar ma’ruf nahi munkar. <em>Pilihan kedua</em>, bekerja yang tidak menghabiskan waktunya di tempat kerja, dengan syarat wajib menyelesaikan tugas utamanya sebagai <em>Ibu dan Pengatur rumah tangga .</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Bisa kita bayangkan betapa dzalimnya peraturan yang mewajibkan wanita bekerja <em>(menanggung nafkah).</em> Karena pada faktanya perempuan yang hamil tidak bisa kehamilan tersebut dititipkan suaminya (<em>ditanggung berdua),</em> dan tidak semua perempuan hamil normal tidak ada masalah, akan tetapi terdapat pada mayoritas perempuan pada saat mengandung kondisi tubuhnya lebih lemah dan banyak masalah dari yang ringan seperti pusing-pusing dan muntah-muntah sampai harus <em>bed rest total.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Disamping itu tidak ada satupun manajemen perusahaan atau institusi yang mampu mencapai kesuksesan, pada saat pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia) tidak beres dalam menetapkan job description masing-masing SDM. Misalnya dua orang karyawan sama-sama menjadi manajer operasional. Hal ini tentu akan berdampak pada kinerja yang buruk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> Begitu pula saat peran ( hak dan kewajiban ) dalam keluarga tidak jelas misalnya wanita dan pria masing-masing punya hak untuk menikahkan dirinya sendiri, sama-sama punya kewajiban mencari nafkah, sama-sama punya hak menceraikan dan sama-sama wajib beriddah. Semuanya itu tidak sesuai dengan fithroh manusia. Jika sudah demikian tidak akan menentramkan hati dan memuaskan akal, maka pada gilirannya akan terjadilah hancurnya sebuah keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;"> </span></p>
<div style="text-align:justify;"><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]-->
<p>&nbsp;</p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></a> Modul Pelatihan Kesetaraan dan keadilan gender bagi organisasi masyarakat keagamaan, Jakarta, Kemntrian Negara Pemberdayaan Perempuan, 2006, hlm 13</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></a> Tim Penyusun KPP,Bunga Rampai-panduan dan bahan pembelajaran pelatihan pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional,KPP,2003,hlm 17-18</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></a> Tim Penyusun KPP,Bunga Rampai-panduan dan bahan pembelajaran pelatihan pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional,KPP,2003,hlm 17</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibid, hlm. 58</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibid, 58-67</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibid, 67</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn7" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="SV"> [289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn8" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"> </span><span style="font-size:10pt;" lang="SV">[290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn9" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="SV">[291] <em>Nusyuz</em>: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a name="_ftn10" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></a> Nina Nurmila, “ Ketika Perempuan Mencari Nafkah” ,  <em>Jurnal HARKAT- Media Komunikasi Gender</em>, Jakarta, PSW UIN Syarif Hidayatullah ,Vol 2. No.2 April 2002, hlm.50-51</p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibid, 52-53</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></a> Abdurrahman Al Baghdadi, <em>Emansipasi Adakah Dalam Islam</em>, Jakarta, Gema Insani Press,1997</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></a> Taqiyuddin An Nabhani<em>, Nidzam Ijtima’i</em>, Beirut, Libanon, Darul Ummah, 2003, hlm.141-146</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoNormal" style="margin-right:26.95pt;text-align:justify;"><a name="_ftn15" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;" lang="EN-US"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-size:10pt;" lang="FI"> TQS an-Nisa : 34)</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></a> lihat surat annisa’ ayat 34</p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></a> Taqiyuddin An Nabhani<em>, Nidzam Ijtima’i</em>, Beirut, Libanon, Darul Ummah, 2003, hlm.143</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></a> Hadis shaheh, diriwayatkan oleh Bukhari, hadis no. 4797</p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[19]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibid, hlm. 141-146</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 26.95pt .0001pt 37.4pt;">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn20">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[20]</span></span><!--[endif]--></span></a> Abdurrahman Al Baghdadi, <em>Emansipasi Adakah Dalam Islam</em>, Jakarta, Gema Insani Press,1997</p>
</div>
<div id="ftn21">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/05/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&amp;">[21]</span></span><!--[endif]--></span></a> <em>Sunnah</em> adalah suatu amal jika dilakukan berpahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.</p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=433&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/wanita-di-persimpangan-jalan-kepala-rumah-tangga-perempuan-atau-ibu-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haram Berdiam Diri Dari Menegakkan Khilafah Dengan Alasan Menunggu Imam Mahdi</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/haram-berdiam-diri-dari-menegakkan-khilafah-dengan-alasan-menunggu-imam-mahdi/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/haram-berdiam-diri-dari-menegakkan-khilafah-dengan-alasan-menunggu-imam-mahdi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 16:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[DAKWAH]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=429</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab “Masâil Fiqhiyyah Mukhtârah”, cetakan kedua (2008), karya Syaikh Abu Iyas Mahmud Abdul Lathif bin Mahmud (Uwaidhah), terdapat jawaban atas pertanyaan seputar Imam Mahdi dan aktivitas untuk menegakkan Khilafah. Mengingat pentingnya masalah ini, maka tulisan ini kami persembahkan kepada para pengunjung situs agar semua dapat mengambil faedah darinya, in sya’ Allah, jika Allah SWT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=429&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam kitab <em>“Masâil Fiqhiyyah Mukhtârah”</em>, cetakan kedua (2008), karya Syaikh Abu Iyas Mahmud Abdul Lathif bin Mahmud (Uwaidhah), terdapat jawaban atas pertanyaan seputar Imam Mahdi dan aktivitas untuk menegakkan Khilafah. Mengingat pentingnya masalah ini, maka tulisan ini kami persembahkan kepada para pengunjung situs agar semua dapat mengambil faedah darinya, in sya’ Allah, jika Allah SWT berkehendak.<span id="more-429"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pertanyaannya: Tidak sedikit di antara kaum Muslim—khususnya mereka yang masih kental dengan kehidupan beragama—yang menyakini bahwa Khilafah akan kembali tegak. Dan Khilafah yang akan tegak kembali itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yang mereka maksudkan dengan itu adalah Khilafah Rasyidah. Namun, aku tidak melihat mereka itu melakukan aktivitas untuk menegakkan Khilafah ini. Apabila mereka ditanya tentang alasan mengapa mereka berdiam diri (tidak melakukan) aktivitas menegakkan Khilafah, maka mereka menjawab bahwa Imam Mahdi-lah kelak yang akan menegakkannya. Dan sebelum datangnya Imam Mahdi, Khilafah tidak akan pernah tegak. Oleh karena itu, tidak perlu menyeru mereka untuk beraktivitas menegakkan Khilafah. Sehingga, pertanyaannya: Apakah Khilafah akan tegak secara nyata; dan apakah Imam Mahdi yang akan menegakkannya? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jawab: Sesungguhnya pernyataan bahwa Khilafah akan tegak adalah pernyataan yang benar, yang ditunjukkan oleh banyak sekali hadits dari Nabi SAW, dan hadits-hadits itu semuanya shahih atau hasan. Mengingat, hadits-hadits itu tidak ada yang mutawatir, maka masalah ini tidak boleh dijadikan sebagai sebuah keyakinan. Sehingga, pernyataan bahwa kaum Muslim meyakini bahwa Khilafah akan tegak adalah pernyataan yang tidak benar. Sebab, keyakinan itu harus dibangun berdasarkan ayat Al-Qur’an atau hadits mutawatir. Sementara berdirinya Khilafah terdapat dalam hadits-hadits shahih dan hasan, bukan hadits mutawatir. Sehingga, tidak boleh menjadikan berdirinya kembali Khilafah sebagai sebuah keyakinan. Namun, kami membenarkan akan berdirinya kembali Khilafah dengan pembenaran yang tidak pasti; kami katakan bahwa Khilafah akan tegak kembali dengan izin Allah. Berikut ini hadits-hadits terkait masalah tersebut: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pertama. Dari Sauban radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah SAW:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">إِنَّ اللهَ زَوَى لِي اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan (memperlihatkan) bumi kepadaku. Sehingga, aku melihat bumi mulai dari ujung Timur hingga ujung Barat. Dan umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku….” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sabda beliau, “umatku, kekuasaannya akan meliputi bumi yang telah dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku” belum terrealisasikan hingga sekarang. Sebab, kaum Muslim belum pernah menguasai bumi mulai ujung Timur hingga ujung Barat hingga sekarang. Dan ini akan terjadi di masa yang akan datang. Sehingga ini menjadi isyarat akan berdirinya negara bagi kaum Muslim yang akan menaklukkan bumi mulai dari ujung Timur bumi hingga ujung Baratnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kedua. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">”Jika kalian telah berjual-beli dengan cara ’înah (penjualan secara kredit dengan tambahan harga); dan kalian telah mengambil ekor sapi, lalu kalian (lebih) suka bertani, hingga kalian meninggalkan jihad, maka (ketika itu) Allah menimpakan kepada kalian kehinaan, Allah tidak akan mecabutnya sampai kalian kembali ke agama kalian.” (HR. Abu Dawud) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sabda beliau, ”sampai kalian kembali ke agama kalian” artinya adalah sampai kalian kembali melaksanakan ajaran agama, dan menerapkannya untuk semua urusan kehidupan kalian. Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira) dari Rasulullah SAW bahwa kaum Muslim akan kembali lagi menerapkan agamanya secara kâffah, menyeluruh, setelah sebelumnya mereka meninggalkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketiga. Dari Abu Qabil yang berkata: Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ’anhu. Lalu, ia ditanya tentang manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Kemudian ia mengambil kotak yang ada hiasannya, ia mengeluarkan surat dari katak tersebut, ia berkata: Abdullah Berkata, ”Pada saat kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba Rasulullah SAW ditanya, manakah di antara dua kota yang akan ditaklukkan pertama, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلاً يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">”Kota Heraklius yang akan ditaklukkan pertama—yakni Konstantinopel.” (HR. Ahmad) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang penaklukkan dua kota, Konstantinopel dan Rumiyah—yaitu Roma ibu kota Italia—beliau tidak menafikan (membantah) penaklukkan Roma. Namun beliau hanya mengatakan bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan pertama. Ini menunjukkan bahwa Roma akan ditaklukkan setelahnya. Sementara hingga saat ini, Roma belum ditaklukkan oleh kaum Muslim. Dengan demikian, hadits ini merupakan bisyârah (kabar gembira), bahwa kaum Muslim akan menaklukkan ibu kota Italia tersebut. Dan tidak terbayangkan bahwa kaum Muslim akan menaklukkannya sebelum kembalinya Khilafah yang menghidupkan kembali jihad di jalan Allah dan penaklukkan kota (melakukan futuhat).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keempat. Dari Nu’man bin Basyir, dari Hudzaifah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudia akan ada fase penguasa yang zalim. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Selanjutnya akan datang kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian belia SAW diam.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabarani) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hadits ini menjelaskan bahwa Khilafah akan tegak kembali setelah fase penguasa yang zalim (mulkan ’adhan), dan fase penguasa diktator (mulkan jabariyan). Dan Khilafah yang akan tegak itu adalah Khilafah ‘ala minhaji an-nubuwah, Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian, yakni Khilafah yang menilai dirinya seperti Khilafah pada masa Khulafaur Rasyidin. Sehingga dengan izin Allah, Khilafah yang akan tegak adalah Khilafah Rasyidah. Inilah jawaban untuk pertanyaan masalah pertama. Sedangkan jawaban untuk pertanyaan masalah kedua adalah sebagai berikut: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sesungguhnya, sekalipun hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah menyebutkan bahwa Al-Mahdi akan menegakkan Khilafah, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa kaum Muslim wajin menunggu Al-Mahdi sampai Al-Mahdi mendirikan Khilafah untuk mereka. Apa yang diwajibkan atas mereka tetap wajib, yaitu menegakkan Khilafah. Menegakkan Khilafah di samping wajib atas Al-Mahdi, wajib pula atas kaum Muslim selain dia. Sehingga, mereka yang masih kental dengan kehidupan beragama, seperti yang digambarkannya, tidak punya hujjah (alasan) yang dapat mereka jadikan dasar untuk berdiam diri, tidak beraktivitas untuk menegakkan Khilafah, hanya dengan mengajukan pernyataan bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah, sebagaimana hal itu tampak dengan jelas. Oleh karena itu, mereka yang masih beragama, namun berdiam diri, tidak beraktivitas menegakkan Khilafah, maka mereka berdosa, akibat sikapnya yang berdiam diri, tidak berbuat apa-apa, dan Allah juga akan meminta pertanggungjawaban mereka atas sikap diamnya ini. Konsekwensinya, jika mereka mati sebelum tegaknya Khilafah, maka ia mati seperti matinya kaum jahiliyah (mati dalam keadaan berdosa). Sebab, ada riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhu yang berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Siapa saja yang melepaskan ketaatan, maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah (dalam keadaan berdosa).” (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sementara itu, orang yang selamat dari mati jahiliyah adalah orang-orang yang beraktivitas menegakkan Khilafah. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang masih beragama waspadalah agar jangan sampai kalian mati jahiliyah, yang tentu kalian tidak menginginkannya. Ini yang pertama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kedua, sesungguhnya hadits-hadits an-nabawiyah asy-syarîfah tidak secara mutlak menyebutkan bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah, karena banyak sekali hadits yang meriwayatkannya. Sedangkan, masing-masing hadits yang disebutkan semuanya menunjukkan bahwa Al-Mahdi adalah seorang Khalifah yang baik dan memerintah dengan adil. Misalnya sabda Rasulullah SAW: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">الْمَهْدِيُّ مِنِّي أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى اْلأَنْفِ يَمَْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Al-Mahdi itu dari keturunanku, wajahnya tampan, dan hidungnya mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan kebaikan dan keadilan. Dimana sebelumnya, bumi dipenuhi dengan kekejaman dan ketidak adilan. Dan ia berkuasa selama tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud) </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sehingga, dalam hal ini, nama nash yang mereka jadikan dalil bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah? Justru kami memiliki nash yang menolak pemahaman bahwa Al-Mahdi yang akan menegakkan Khilafah. Dan nash ini menjelaskan bahwa Al-Mahdi akan menjadi Khalifah setelah meninggalnya Khalifah sebelumnya. Sehingga, ini menegaskan bahwa Khilafah akan tegak sebelum Al-Mahdi menjadi Khalifah. Al-Mahdi adalah Khalifah yang menggantikan Khalifah sebelumnya dalam daulah Khilafah Rasyidah yang—tidak lama lagi—akan datang (berdiri) dengan izin Allah. Sekali lagi, ini menegaskan bahwa Al-Mahdi bukan orang yang menegakkan Khilafah. Dengan begitu, gugurlah hujjah (alasan) mereka untuk berdiam diri, tidak beraktivitas, dan hanya menunggu Al-Mahdi, yang menurut klaim mereka bahwa Al-Mahdi inilah yang akan menegakkan Khilafah untuk mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu ’anha berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;">يَكُونُ اخْتِلافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَيٌّاتِي مَكَّةَ، فَيَسْتَخْرِجُهُ النَّاسُ مِنْ بَيْتِهِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش مِنَ الشَّامِ حَتَّى إذَا كَانُوا بالبَيْدَاءِ خُسِفَ بِهِمْ، فَيَأتِيْهِ عَصَائِبُ العِرَاقِ وأبْدَالُ الشَّامِ: ويَنْشئا رَجُلٌ بالشَّامِ أَخْوالُهُ مِنْ كَلْبٍ، فَيُجَهَّزُ إليهِ جَيْش، فَيَهْزِمُهُمُ الله، فَتَكُونُ الدَّائِرَةُ عَلَيْهِمْ، فَذَلِكَ يَوْمُ كَلْبٍ، الخَائِبُ مَنْ خَابَ مِنْ غَنِيْمَةِ كَلْبٍ، فَيَسْتَفْتِحُ الكُنُوزَ، وَيَقْسِمُ أَلامْوَالَ وَيُلْقِي إلاسْلاَمُ بِجَرَانِهِ ِإلى أَلارْضِ، فَيَعِيْشُونَ بِذَلِكَ سَبْعَ سِنينَ أو قال: تِسْعَ.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terjadi perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, seorang dari Bani Hasyim (Al-Mahdi) keluar pergi ke Makkah. Masyarakat membawanya (Al-Mahdi) keluar rumah menuju antara ar-rukn (hajar aswad) dan al-maqâm (maqam Ibrahim ‘alaihissalam). Sementara, dari Syam telah disiapkan pasukan untuk menyerangnya, namun ketika mereka berada di al-Baida’ (sebuah tempat antara Makkah dan Madinah), mereka semua ditenggelamkan (oleh Allah). (Melihat karamahnya itu), beberapa kelompok dari Irak, dan para wali (Abdal) dari Syam mendatanginya (untuk berbaiat). Seseorang di Syam yang ibunya dari Bani Kalb, menyiapkan pasukan untuk menyerangnya, kemudian Allah-pun mengalahkan mereka, sehingga bencana pun menimpa mereka, maka hari itu merupakan hari kekalahan bagi Bani Kalb. Bahkan, orang yang menyesal adalah orang yang tidak berhasil mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) Bani Kalb. Kemudian, ia (Al-Mahdi) membuka berbagai harta simpanan, membagi-bagi harta, menyampaikan (mendakwahkan) Islam ke wilayah-wilayah sekitarnya. Masyarakat hidup bersama (Al-Mahdi) itu selama tujuh tahun, atau sembilan tahun.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, Al-Haitsami menyebutnya dalam Majma’uz Zawâij, ia berkata “semuanya rawinya adalah para rawi yang shahih). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hadits ini disepakati oleh para rawi hadits dan pensyarahnya bahwa Khalifah yang dimaksud dalam hadits ini adalah Al-Mahdi (Imam Mahdi). Hadits ini merupakan nash yang sharîh (gamblang) bahwa Khalifah (Imam Mahdi) ini datang menggantikan Khalifah sebelumnya, “Terjadi perselisihan ketika meninggalnya seorang Khalifah. Kemudian, seorang dari….” Dengan demikian, Imam Mahdi bukan orang yang akan menegakkan Khilafah, dan ia juga bukan Khalifah pertama dalam negara Khilafah Rasyidah—yang tidak lama lagi—akan tegak dengan izin Allah. Sehingga yang tersisa di depan setiap orang Muslim adalah kekhawatiran dan ketakutan dari mati jahiliyah, mati dalam keadaan berdosa. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain, selain bangkit dengan penuh semangat beraktivitas untuk menegakkan kembali Khilafah, dan mengangkat seorang Khalifah. Wallahu a’lam bish-shawab.(www.</span> <span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">http://www.al-aqsa.org)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/429/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/429/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/429/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=429&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/11/12/haram-berdiam-diri-dari-menegakkan-khilafah-dengan-alasan-menunggu-imam-mahdi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METODOLOGI TAFSIR ATHA&#8217; ABU RASYTAH</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/metodologi-tafsir-atha-abu-rasytah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/metodologi-tafsir-atha-abu-rasytah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tsaqofah & Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi
Pengantar

Penafsiran Al-Qur`an amat memerlukan metodologi. Tanpa metodologi tafsir, upaya penafsiran Qur`an akan berjalan tanpa kaidah dan lebih bersifat arbitrer, alias suka-suka tanpa alasan rasional. Ini seperti orang yang menuju suatu kota tapi tak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dia akan mencoba-coba (trial and error) yang mungkin tidak sampai tujuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=427&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></p>
<p align="center">Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi</p>
<p align="justify"><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=ru02A%2F45RKBy1pljDzbf34h4l5k2TGxc"><img src="http://s3.tinypic.com/25in39l_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Pengantar</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Penafsiran Al-Qur`an amat memerlukan metodologi. Tanpa metodologi tafsir, upaya penafsiran Qur`an akan berjalan tanpa kaidah dan lebih bersifat <em>arbitrer</em>, alias suka-suka tanpa alasan rasional. Ini seperti orang yang menuju suatu kota tapi tak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dia akan mencoba-coba (<em>trial and error</em>) yang mungkin tidak sampai tujuan atau malah tersesat.</p>
<p align="justify">Di sinilah urgensi metodologi tafsir, atau istilah teknisnya <em>ushul at-tafsir</em>, yang didefinisikan sebagai sekumpulan kaidah (<em>qawa&#8217;id</em>) atau dasar (<em>asas</em>) yang wajib digunakan oleh mufassir untuk menafsirkan Al-Qur`an secara benar. (Al-&#8217;Ak,<em> Ushul At-Tafsir wa Qawa&#8217;iduhu</em>, hal. 30; Al-Rumi, <em>Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuhu</em>, hal. 11; Haqqi, <em>Ulumul Qur`an min Khilal Muqaddimat Al-Tafasir</em>, Juz I hal. 52).<span id="more-427"></span></p>
<p align="justify">Tulisan ini bertujuan menjelaskan metodologi tafsir yang digagas Syaikh Atha` Abu Rasytah, pemimpin Hizbut Tahrir kini, dalam kitabnya <em>At-Taisir fi Ushul At-Tafsir</em>, (Beirut : Darul Ummah), 2006.</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Latar Belakang dan Tujuan</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Abu Rasytah berpandangan penafsiran Al-Qur`an yang paling baik terjadi pada masa Rasulullah SAW dan masa sahabat. Pada masa ideal ini, umat Islam memahami Al-Qur`an berdasarkan tiga hal, yaitu : penjelasan Rasulullah SAW, kaidah-kaidah Bahasa Arab, dan akal dalam batas-batas kemampuannya. (hal. 11-13).</p>
<p align="justify">Pada saat Allah memerintahkan mereka shalat (QS Al-Baqarah : 34), mereka memahami kata <em>shalat</em> dari praktik shalat yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketika Allah mengharamkan bangkai (QS Al-Maidah : 3), mereka memahami artinya berdasarkan kaidah Bahasa Arab, yaitu pengharaman memakan bangkai (<em>tahrim akli al-maitah</em>). Mereka pun memahami ayat-ayat Al-Qur`an dengan akal dalam batas-batas kemampuannya, yaitu hanya pada objek-objek yang dapat diindera, misalnya alam semesta. Bukan pada hal-hal yang ghaib, misalnya memikirkan sifat-sifat Allah, apakah ia menyatu atau terpisah dengan dzat Allah. (hal. 11-13).</p>
<p align="justify">Namun sejak generasi tabi&#8217;it tabi&#8217;in dan sesudahnya (sejak abad ke-2 H), kualitas penafsiran Al-Qur`an umat mengalami kemerosotan. Abu Rasytah menyebut tiga macam musibah beruntun yang kemudian merusak pola pikir umat dalam menafsirkan Al-Qur`an. <em>Musibah pertama</em>, terjadi ketika kemampuan bahasa Arab umat melemah sehingga Al-Qur`an ditafsirkan tidak sesuai lagi dengan kaidah Bahasa Arab. <em>Musibah kedua</em>, terjadi saat sebagian umat membebaskan akal dalam memahami al-Qur`an, tanpa mengenal batas-batas kemampuan akal, semisal membahas kemakhluqan Al-Qur`an (<em>khalq al-Qur`an</em>). Sedang <em>musibah ketiga</em>, terjadi ketika ada sebagian umat yang mengadopsi berbagai konsep rusak dari filsafat Yunani, lalu menggunakannya untuk menafsirkan Al-Qur`an. (hal. 14). (Lihat Abu Ulbah, <em>Syawa`ib At-Tafsir</em>, hal. 33-51).</p>
<p align="justify">Rasa prihatin melihat kemerosotan penafsiran Al-Qur`an inilah yang melatarbelakangi Abu Rasytah menulis kitabnya <em>At-Taisir fi Ushul At-Tafsir</em>. Tujuan yang beliau harapkan adalah merumuskan metodologi tafsir yang sahih seperti yang pernah digunakan umat Islam pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat. (hal. 32)</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">Pokok-Pokok Metodologi Tafsir</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Metodologi tafsir Abu Rasytah secara garis besar tidak keluar dari lingkup metodologi tafsir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Beliau banyak mengembangkan gagasan pendahulunya, yakni Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya <em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em> Juz I (Bab Tafsir) dan kitab <em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em> Juz III (Ushul Fiqih).</p>
<p align="justify">Metodologi tafsir beliau dapat diringkas dalam pokok-pokok berikut :</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">1. Menjadikan Bahasa Arab Penafsir Al-Qur`an</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Abu Rasytah menegaskan tak mungkin seseorang memahami Al-Qur`an dengan benar tanpa memahami bahasa Arab. Sebab Al-Qur`an telah diturunkan dalam bahasa Arab (QS Yusuf : 2; QS An-Nahl : 103). (hal. 22).</p>
<p align="justify">Prosedur pemaknaan Al-Qur`an dengan bahasa Arab adalah sebagai berikut :</p>
<p align="justify">(1) suatu ayat hendaknya lebih dulu ditafsirkan menurut <em>haqiqah syar&#8217;iyah</em>, yaitu makna hakiki menurut syar&#8217;i. Misalkan kata <em>shalat</em> (QS Al-Baqarah : 34) harus ditafsirkan secara syar&#8217;i sebagai shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW, meski makna asal shalat secara bahasa adalah <em>ad-du`a</em> (doa).</p>
<p align="justify">(2) jika tidak ada makna syar&#8217;i-nya, hendaklah ayat ditafsirkan menurut <em>haqiqah &#8216;urfiyah</em>, yaitu makna hakiki menurut kebiasan orang Arab berbicara. Jika makna <em>haqiqah &#8216;urfiyah</em> juga tak ada, maka ayat ditafsirkan menurut <em>haqiqah lughawiyah</em>, yaitu makna hakiki sebagai makna asal bahasa. Misalkan firman Allah SWT :</p>
<h4>وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ</h4>
<p><em> </em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang berkaki empat dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).&#8221;</em> (QS Fathir : 28).</p>
<p align="justify">Pada ayat ini, kata <em>an-nas</em> diartikan sebagai Adam AS dan keturunannya (<em>haqiqah lughawiyah</em>), kata <em>al-an&#8217;am</em> diartikan onta, sapi, dan domba (<em>haqiqah lughawiyah</em>). Tapi kata <em>ad-dawab</em> diartikan binatang yang berkaki empat (<em>haqiqah &#8216;urfiyah</em>), tidak diartikan &#8220;binatang yang melata di bumi&#8221; (<em>haqiqah lughawiyah</em>). Sebab <em>haqiqah &#8216;urfiyah</em> menurut bahasa Arab harus didahulukan daripada <em>haqiqah lughawiyah</em>. (hal. 33).</p>
<p align="justify">(3) jika suatu ayat tidak dapat ditafsirkan dalam ketiga makna hakikinya mengikuti tertib di atas, ia diartikan menurut makna majazinya. Makna majazi adalah makna sekunder, setelah makna primernya (yaitu makna hakiki) tidak dapat digunakan dalam pengertian aslinya. Misal kata <em>wajhun</em> dalam ayat yang berbunyi <em>wa yabqa wajhu rabbika</em> (QS Ar-Rahman : 27). Kata <em>wajhun</em> tidaklah tepat jika diartikan dalam makna hakikinya (wajah) : &#8220;<em>Dan tetap kekal <strong>wajah</strong> Tuhanmu</em>.&#8221; Sebab tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. (QS Al-Syura : 11). Maka kata wajah itu hendaklah dialihkan menuju makna majazinya, yaitu dzat, sehingga makna ayat menjadi : &#8220;<em>Dan tetap kekal <strong>dzat</strong> Tuhanmu</em>.&#8221; (hal. 27-28).</p>
<p align="justify">Jadi, posisi Abu Rasytah memang menerima adanya makna majazi dalam bahasa Arab dan Al-Qur`an. Ini berbeda dengan posisi Ibnu Taimiyah dan pengikutnya seperti Ibnul Qayyim Jauziyah yang menolak keberadaan makna majazi. (Ya&#8217;qub, <em>Asbab Al-Khatha` fi At-Tafsir</em>, hal. 239; Al-Dahasy, <em>Al-Aqwal al-Syadzah fi At-Tafsir</em>, hal. 169; Al-Fanisan, <em>Ikhtilaf Mufassirin Asbabuhu wa Atsaruhu</em>, hal. 105; Al-Rumi, <em>Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuhu</em>, hal. 105).</p>
<p align="justify">(4) suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui <em>isytiqaq</em>, yaitu proses derivasi berbagai kata yang berasal dari sebuah akar kata. Misalkan kata <em>rahmah</em>, <em>rahiim</em>, dan <em>rahmaan</em>, yang berasal dari kata <em>rahima</em>. Proses <em>isytiqaq</em> menurut <em>wazan</em> (pola baku pembentukan kata) dalam bahasa Arab meski melahirkan banyak kata, namun memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata <em>rahmaan</em> (QS Al-Isra` : 110), artinya adalah kasih sayang yang banyak (<em>al-katsir ar-rahmah</em>), yang masih satu makna secara umum dengan akar katanya, yakni <em>rahima</em> (mengasihi/menyayangi). (hal. 33).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="justify">(5) suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui <em>ta&#8217;rib</em>, yaitu proses arabisasi suatu kata yang berasal dari bahasa non Arab sesuai dengan <em>wazan</em> bahasa Arab. Misalkan kata <em>sundus</em> dan <em>istabraq</em> (QS Al-Insan : 21) yang berasal dari bahasa Nabatean (<em>an-nabathiyah</em>). Kedua kata itu dapat diberi makna oleh orang Arab mengikuti makna aslinya dari bahasa yang non Arab, yaitu <em>sundus</em> berarti sutera halus sedang <em>istabraq</em> berarti sutera kasar. (hal. 34)</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">2. Menjadikan Akal Penafsir Al-Qur`an dalam Batas Kemampuannya</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Akal hanya dapat berfungsi jika objek yang dipikirkan adalah fakta yang dapat diindera. Jika yang dipikirkan bukan fakta yang dapat diindera, berarti akal sudah melampaui batas kemampuannya.</p>
<p align="justify">Karena itu, perkara-perkara yang ghaib tidak dapat dibahas menggunakan akal, melainkan harus menggunakan sarana lain, yaitu dalil <em>naqli</em> (berita yang dinukil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah).</p>
<p align="justify">Contohnya adalah kata <em>kalamullah</em> (QS At-Taubah : 6). Jadi Allah sendiri telah menyebut bahwa Al-Qur`an adalah kalamullah. Maka tidak perlu dibahas lagi mengenai <em>kaifiyah</em> (bagaimana) caranya Allah berkalam itu. Sebab pembahasan ini sudah berada di luar kemampuan akal manusia. (hal. 35).</p>
<p><strong>3. Menjadikan <em>Muhkam</em> Hakim untuk <em>Mutasyabih</em></strong><em> </em></p>
<p align="justify"><em>Muhkam</em> artinya ayat yang hanya memiliki satu makna. Sedang <em>mutasyabih</em> adalah ayat yang mengandung makna lebih dari satu. Muhkam adalah induk Al-Qur`an atau makna asal yang wajib menjadi rujukan (QS Ali &#8216;Imran : 7). Maka muhkam menjadi hakim (penentu) makna mutasyabih. (hal.28-29)</p>
<p align="justify">Contoh mutasyabih adalah kata <em>wajhun</em> dalam QS Ar-Rahman : 27. Kata <em>wajhun </em>ini tidak dapat diartikan &#8220;wajah tapi tak seperti wajah kita&#8221;. Sebab pemaknaan ini masih tetap mengikuti arti hakikinya, yakni wajah. Padahal Aqidah Islam tidak membolehkan adanya <em>tasybih</em> (penyerupaan) antara Allah dengan makhluq-Nya. Jadi kata <em>wajhun </em>yang mutasyabih (QS Ar-Rahman : 27) wajib dipalingkan ke arah makna majazinya, karena ada ayat muhkam (QS Al-Syura : 11) sebagai hakim yang tidak membenarkan makna hakikinya. Firman Allah yang muhkam :</p>
<h4>لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ</h4>
<p><em> </em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan dia (Allah).&#8221;</em> (QS Al-Syura : 11).</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">4. Memperhatikan Hubungan Ayat Sebelumnya dengan Sesudahnya</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Abu Ruystah menegaskan bahwa ada hubungan antara ayat sebelumnya dengan sesudahnya. Misalkan QS Al-Baqarah : 3-5 adalah ayat yang menerangkan ciri-ciri tertentu, yaitu ciri muttaqin yang disebut dalam ayat sebelumnya (QS Al-Baqarah : 2). Kedua kelompok ayat memiliki hubungan bahwa orang beruntung (<em>muflihun</em>), dicirikan dengan iman dan amal shaleh. (hal. 43).</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">5. Mentarjih <em>Dalalah</em> (Makna) yang Berbilang</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Abu Rasytah tidak membiarkan satu ayat memiliki beberapa makna sekaligus. Beliau cenderung melakukan tarjih (memilih yang terkuat) dari beberapa kemungkinan makna ayat. Contohnya, arti <em>alim lam mim</em> pada awal QS Al-Baqarah. Menurut Abu Rasytah, arti <em>alim lam mim</em> yang paling tepat adalah nama bagi surat Al-Baqarah itu. (hal. 41). <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p><strong></p>
<p align="justify">DAFTAR BACAAN</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Abu Ar-Rasytah, Atha` bin Khalil, <em>Al-Taisir fi Ushul al-Tafsir</em>, (Beirut : Darul Ummah), 2006</p>
<p align="justify">Abu Syuhbah, M. Muhammad, <em>Al-Madkhal li Dirasah Al-Qur`an Al-Karim</em>, (Riyadh : Darul Liwa`), 1987</p>
<p align="justify">Abu Ulbah, Abdurrahim Faris, <em>Syawa`ib At-Tafsir fi al-Qarn Ar-Rabi&#8217; &#8216;Asyara Al-Hijri</em>, (Beirut : t.p), 2005</p>
<p align="justify">Al-&#8217;Ak, Khalid Abdurrahman,<em> Ushul At-Tafsir wa Qawa&#8217;iduhu</em>, (Beirut : Darun Nafa`is), 1986</p>
<p align="justify">Al-Baghdadi, Abdurrahman, <em>Beberapa Pandangan Mengenai Penafsiran Al-Qur`an (Nazharat fi al-Tafsir al-Ashri li Al-Qur`an al-Karim)</em>, Penerjemah Abu Laila &amp; Muhammad Tohir, (Bandung : Almaarif), 1988</p>
<p align="justify">Al-Dzahabi, Muhammad Husain, <em>At-Tafsir wa Mufassirun</em>, Juz I-III, (Kairo : Maktabah Wahbah), 2000</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em>Ilmu Al-Tafsir</em>, (Kairo : Darul Ma&#8217;arif), t.t.</p>
<p align="justify">Al-Fanisan, Su&#8217;ud, <em>Ikhtilaf Mufassirin Asbabuhu wa Atsaruhu</em>, (Riyadh : Markaz Ad-Dirasat wa Al-I&#8217;lam), 1997</p>
<p align="justify">Al-Hasan, M. Ali, <em>Al-Manar fi Ulum al-Qur`an</em>, (Amman : Mathba&#8217;ah Al-Syarq), 1983</p>
<p align="justify">Al-Hasani, Muhammad bin Alawi Al-Maliki, <em>Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Qur`an</em>, (Jeddah : Dar Al-Syuruq), 1983</p>
<p align="justify">Al-Muhtasib, Abdul Majid Abdus Salam, <em>Ittijahat al-Tafsir fi Al-Ashr Al-Rahin</em>, (Amman : Maktabah Al-Nahdhah Al-Islamiyah), 1982</p>
<p align="justify">Al-Nabhani, Taqiyuddin, <em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em>, Juz I, (Beirut : Darul Ummah), 2003</p>
<p align="justify">&#8212;&#8212;&#8212;-, <em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em>, Juz III, (Beirut : Darul Ummah), 2005</p>
<p align="justify">Al-Dahasy, Abdurrahman, <em>Al-Aqwal al-Syadzdzah fi At-Tafsir</em>, (Manchester : Al-Hikmah), 2004</p>
<p align="justify">Al-Qaththan, Mana&#8217;, <em>Mabahits fi Ulum al-Qur`an</em>, (Kairo : Maktabah Wahbah), 2000</p>
<p align="justify">Al-Rumi, Fahad, <em>Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuhu</em>, (t.tp : Maktabah At-Taubah), 1419 H</p>
<p align="justify">Al-Sabat, Khalid bin Ustman, <em>Qawa&#8217;id At-Tafsir Jam&#8217;an wa Dirasatan</em>, (Madinah : Dar Ibn Affan), 1421 H</p>
<p align="justify">Al-Sa&#8217;di, Abdurrahman Nashir, <em>70 Kaidah Penafsiran al-Qur`an (Al-Qawa`id Al-Hisan li Tafsir Al-Qur`an)</em>, Penerjemah Marsuni Sasaky &amp; Mustahab Hasbullah, (Jakarta : Pustaka Firdaus), 1997</p>
<p align="justify">Al-Shabuni, Muhammad Ali, <em>Al-Tibyan fi Ulum al-Qur`an,</em> (Beirut : Alam al-Kutub), 1985</p>
<p align="justify">Al-Shalih, Shubhi, <em>Mabahits fi Ulum al-Qur`an</em>, (Beirut : Darul Ilmi lil Malayin), 1988</p>
<p align="justify">Baidan, Nashruddin, <em>Metodologi Penafsiran Al-Qur`an</em>, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 2000</p>
<p align="justify">Dahlan, Abd. Rahman, <em>Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur`an, </em>(Bandung : Mizan), 1998</p>
<p align="justify">Fakhry, Majid, <em>Sejarah Filsafat Islam (A History of Islamic Philosophy),</em> Penerjemah R. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta : Pustaka Jaya), 1986<em> </em></p>
<p align="justify">Goldziher, Ignaz, <em>Madzahib At-Tafsir al-Islami</em>, Penerjemah Abdul Halim an-Najjar, (Kairo : Maktabah Al-Khanja), 1955</p>
<p align="justify">Haqqi, Muhammad Shafa, <em>Ulumul Qur`an min Khilal Muqaddimat Al-Tafasir</em>, Juz I-II, (Beirut : Muassasah Ar-Risalah), 2004</p>
<p align="justify">Ibnu Taimiyah, <em>Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir</em>, (Kuwait : Darul Qur`an al-Karim), 1971</p>
<p align="justify">Mustaqim, Abdul, <em>Madzahibut Tafsir Peta Metodologi Penafsiran Al-Qur`an Periode Klasik Hingga Kontemporer</em>, (Yogyakarta : Nun Pustaka), 2003</p>
<p align="justify">Mustaqim, Abdul &amp; Syamsudin, Sahiron (Ed.), <em>Studi Al-Qur`an Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir</em>, (Yogyakarta : Tiara Wacana), 2002</p>
<p align="justify">Ushama, Thameem, <em>Metodologi Tafsir Al-Qur`an Kajian Kritis, Objektif, dan Komprehensif (Methodologies of The Quranic Exegesis)</em>, Penerjemah Hasan Basri &amp; Amroeni, (Jakarta : Riora Cipta), 2000</p>
<p align="justify">Ya&#8217;qub, Thahir Mahmud Muhammad, <em>Asbab Al-Khatha` fi At-Tafsir</em>, (Damam : Dar Ibnul Jauzi), 1425 H</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=427&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/metodologi-tafsir-atha-abu-rasytah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s3.tinypic.com/25in39l_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MAU UNTUNG TAPI TIDAK MAU MENANGGUNG RISIKO RUGI</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/mau-untung-tapi-tidak-mau-menanggung-risiko-rugi/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/mau-untung-tapi-tidak-mau-menanggung-risiko-rugi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[
Tanya :

Ustadz, mohon dijelaskan dalil yang terkait dengan sikap dalam bisnis yang curang, yakni kalau untung dia dapat lebih besar, kalau rugi mitranya yang menanggung. (IN, Jakarta)

Jawab :

&#8216;A`isyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : al-kharaj bi adh-dhomaan. &#8220;Hak memperoleh keuntungan (pendapatan/manfaat) adalah imbangan dari liabilitas [kesediaan menanggung kerugian].&#8221; (HR Abu Dawud no 3044, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=425&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></p>
<p align="justify"><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=oUhAAKZslK80AGSmrNO1Eg%3D%3D"><img src="http://s5.tinypic.com/2d0klyr_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya :</p>
<p></strong><em></p>
<p align="justify">Ustadz, mohon dijelaskan dalil yang terkait dengan sikap dalam bisnis yang curang, yakni kalau untung dia dapat lebih besar, kalau rugi mitranya yang menanggung. (IN, Jakarta)</p>
<p></em><strong></p>
<p align="justify">Jawab :</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">&#8216;A`isyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : <strong>al-kharaj bi adh-dhomaan</strong>. <em>&#8220;Hak memperoleh keuntungan (pendapatan/manfaat) adalah imbangan dari liabilitas [kesediaan menanggung kerugian].&#8221;</em> (HR Abu Dawud no 3044, At-Tirmidy no 1206, An-Nasa`i no 4414, Ibnu Majah no 2234, Ahmad no 24806). Hadis sahih (Lihat Nashiruddin Al-Albani, <em>Mukhtashar Irwa`ul Ghalil</em>, hadis no 1446).<span id="more-425"></span></p>
<p align="justify">Para ulama menjelaskan maksud hadis ini dengan membuat permisalan contoh kasus, yaitu kasus pengembalian barang dagangan yang dikembalikan oleh pembeli kepada penjual karena ada cacat pada barang tersebut. Ketika barang dagangan itu masih di tangan pembeli (tapi belum dikembalikan kepada penjual) lalu menghasilkan suatu pendapatan/manfaat, siapakah yang berhak memiliki pendapatan/manfaat barang itu, penjual ataukah pembeli? Di sinilah hadis ini menunjukkan bahwa apa-apa yang keluar (<em>kharaj</em>) dari sesuatu barang yang telah dibeli, misalnya anak kambing dari kambing yang telah dibeli, atau jasa/pelayanan dari budak yang telah dibeli, atau buah dari pohon yang sudah dibeli, adalah hak bagi pihak pembeli (bukan hak penjual). Ini dikarenakan pembeli itulah yang bersedia menanggung kerugian (<em>dhoman</em>), misalnya risiko kerusakan/cacat/hilang pada barang yang sudah dibeli tersebut.(Lihat Imam Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, [Beirut : Dar Ibnu Hazm, 2000], hal 1075, <em>Aunul Ma&#8217;bud</em>, Juz VIII, hal. 3, Imran Ahsan Khan Nyazee, <em>Fikih Korporasi, </em>[Surabaya : JP Books, 2008], hal. 75).</p>
<p align="justify">Dengan demikian, sikap seseorang yang hanya mau untung tapi tak mau menanggung kerugian –atau melemparkan tanggung jawab kerugian kepada pihak lain— amat bertentangan dengan prinsip umum <em>al-kharaj bi al-dhaman</em> di atas. Sebab prinsip ini menegaskan bahwa pihak yang berhak mendapatkan keuntungan hanyalah pihak yang siap menanggung kerugian. Inilah prinsip umum muamalah yang adil.</p>
<p align="justify">Selain itu, sikap tersebut juga bertentangan dengan kaidah hukum Islam (<em>al-qawaid al fiqhiyyah, Islamic legal maxim</em>) yang berbunyi : <em><strong>Al-Ghurmu bi al-ghunmi</strong>. </em>&#8220;Kesediaan menanggung kerugian diimbangi dengan hak mendapatkan keuntungan.&#8221; (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, <em>An-Nizham al-Iqtisahdi fi al-Islam</em>, hal. 190; lihat juga kaidah ini dalam kitab-kitab ushul fiqih seperti : <em>Kasyful Asrar</em>, Juz III hal. 155, <em>Syarah At-Talwih &#8216;Ala Al-Taudhih</em>, Juz II hal. 391, <em>Al-Mantsur fi Al-Qawaid</em>, Juz II hal. 111, <em>At-Taqrir wa At-Tahbir</em>, Juz III hal. 497, <em>Al-Asybah wa An-Nazha`ir</em>, Juz I hal. 244)</p>
<p align="justify">Kaidah hukum Islam ini pengertiannya sama dengan hadis yang diuraikan sebelumnya, yaitu hanya mereka yang mau menanggung kerugian sajalah yang berhak mendapatkan keuntungan.</p>
<p align="justify">Maka dari itu, sikap seseorang yang hanya mau untung tapi tak mau menanggung kerugian (atau memikulkan kerugian kepada pihak lain) adalah sikap yang diharamkan menurut ajaran Islam. <em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<p align="justify"><strong>Yogyakarta, 8 Oktober 2009</strong></p>
<p align="justify"><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/425/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=425&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/mau-untung-tapi-tidak-mau-menanggung-risiko-rugi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s5.tinypic.com/2d0klyr_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TIDAK BOLEH ADA INFORMASI ASIMETRI DALAM MUAMALAH</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/tidak-boleh-ada-informasi-asimetri-dalam-muamalah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/tidak-boleh-ada-informasi-asimetri-dalam-muamalah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:43:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[
Tanya :
Ustadz, apakah ada ayat atau hadis mengenai informasi asimetri dalam bermuamalah sehingga orang tidak mendapat info menyeluruh. (IN, Jakarta).  
Jawab : 
Diriwayatkan oleh Abu Hurrairah RA, bahwasanya dia berkata : &#8220;Rasulullah SAW telah melarang penduduk kota menjual barang dagangan kepada penduduk desa.&#8221; (Arab : nahaa rasulullah SAW &#8216;an yabii&#8217;a haadhirun li-baadin). (HR Bukhari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=422&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></p>
<p align="justify"><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=DaVqq3CRWTAoHWJtK2iDGA%3D%3D"><img src="http://s5.tinypic.com/2enyvpi_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya :</p>
<p></strong><em>Ustadz, apakah ada ayat atau hadis mengenai informasi asimetri dalam bermuamalah sehingga orang tidak mendapat info menyeluruh. (IN, Jakarta).</em><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p align="justify"><strong>Jawab : </strong></p>
<p align="justify">Diriwayatkan oleh Abu Hurrairah RA, bahwasanya dia berkata : <em>&#8220;Rasulullah SAW telah melarang penduduk kota menjual barang dagangan kepada penduduk desa.&#8221;</em> (<em>Arab : nahaa rasulullah SAW &#8216;an yabii&#8217;a haadhirun li-baadin</em>). (HR Bukhari no 1996, Muslim no 2532, Abu Dawud no 2982, Tirmidzi no 1143, Nasa`i no 3187, Ibnu Majah no 2166, Ahmad no 1330). Hadis sahih.<span id="more-422"></span></p>
<p align="justify">Hadis ini secara tekstual telah mengharamkan penduduk kota untuk berdagang dengan penduduk desa. Namun keharaman ini sebenarnya disebabkan oleh suatu <em>illat</em> (alasan penetapan hukum, <em>ratio legis</em>), yaitu tidak diketahuinya harga pasar oleh orang desa (<em>&#8216;adamu ma&#8217;rifati si&#8217;ri as-suuq</em>) . (Taqiyuddin an-Nabhani, <em>Al-Syakhshiyah al-Islamiyah</em>, Juz III hal. 357).</p>
<p><em> </em></p>
<p align="justify"><em>Illat</em> tersebut dapat dipahami, misalnya dari hadis riwayat Thalhah bin Ubaidillah RA. Suatu saat ada seorang A&#8217;rabi (orang Arab baduwi/pedusunan) datang kepadanya membawa suatu barang dagangan. Lalu Thalhah bin Ubaidillah RA berkata kepadanya : <em>&#8220;Sesungguhnya Nabi SAW telah melarang penduduk kota berjual beli dengan penduduk desa. Tapi pergilah kamu ke pasar dan perhatikan dengan siapa kamu berjual beli lalu bermusyawarahlah dengan aku hingga aku dapat memerintahmu dan melarangmu.&#8221;</em> (Ibnu Hajar Al-Asqalani, <em>Fathul Bari</em>, Juz VI hal. 482).</p>
<p align="justify">Pernyataan Thalhah bin Ubaidillah RA di atas menunjukkan bahwa larangan jual beli penduduk kota dengan penduduk desa didasarkan pada alasan tertentu, yaitu tidak diketahuinya harga di pasar oleh penduduk desa.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, hadis Rasulullah SAW di atas tidak membenarkan adanya informasi asimetri di antara para pelaku muamalah. Dalam kasus di atas informasi asimetri yang dimaksud adalah informasi tentang harga di pasar, dimana informasi ini diketahui secara sepihak oleh orang kota tapi tak diketahui oleh orang desa. Informasi yang asimetri di antara para pelaku muamalah seperti ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p align="justify"><strong>Yogyakarta, 8 oktober 2009</strong></p>
<p align="justify"><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<p align="justify">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/422/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/422/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/422/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=422&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/tidak-boleh-ada-informasi-asimetri-dalam-muamalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s5.tinypic.com/2enyvpi_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MENIMPAKAN RISIKO BISNIS KEPADA PIHAK LAIN</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/menimpakan-risiko-bisnis-kepada-pihak-lain/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/menimpakan-risiko-bisnis-kepada-pihak-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[
Tanya :
Ustadz, saya sedang mencari ayat atau hadis tentang sikap berlebihan mengambil risiko bisnis sehingga menimbulkan kerugian, dan kerugian itu lalu diderita pihak lain. Mohon bantuannya (IN, Jakarta). 
Jawab :

Firman Allah SWT (artinya) :
 &#8220;Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu&#8217;min dan mu&#8217;minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=420&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong></p>
<p align="justify"><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=oUhAAKZslK9r4qtwGHtFcw%3D%3D"><img src="http://s5.tinypic.com/1zqeerb_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya :</p>
<p></strong><em>Ustadz, saya sedang mencari ayat atau hadis tentang sikap berlebihan mengambil risiko bisnis sehingga menimbulkan kerugian, dan kerugian itu lalu diderita pihak lain. Mohon bantuannya (IN, Jakarta).<span id="more-420"></span></em><strong> </strong><strong></p>
<p align="justify">Jawab :</p>
<p></strong></p>
<p align="justify">Firman Allah SWT (artinya) :</p>
<p><strong> </strong><em>&#8220;Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu&#8217;min dan mu&#8217;minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.&#8221;</em><strong> (QS Al-Ahzab : 58)</strong><strong> </strong></p>
<p align="justify">Yang dimaksud &#8220;menyakiti mu&#8217;min dan mu&#8217;minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat&#8221; (<em>bi-ghairi ma iktasabuu</em>), adalah menisbatkan suatu perbuatan kepada mu&#8217;min dan mu&#8217;minat, padahal mereka tidak pernah melakukan perbuatan itu. (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, Juz VI hal. 480).</p>
<p align="justify">Dengan demikian, keumuman makna ayat di atas dapat diterapkan pada kasus yang ditanyakan, yakni adanya tindakan berisiko oleh satu pihak yang menimbulkan kerugian, tapi tanggung jawab kerugian ini justru dipikul oleh pihak lain yang tidak melakukan tindakan berisiko tersebut.</p>
<p align="justify">Tindakan seperti ini haram hukumnya, karena sesuai lafazh ayat tersebut, ini merupakan suatu kebohongan (<em>buhtan</em>) dan dosa yang nyata (<em>itsmun mubin</em>).</p>
<p align="justify">Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda : <em>&#8220;Tidak boleh menimbulkan suatu bahaya bagi diri sendiri ataupun bahaya bagi orang lain.&#8221; (Arab : laa dharara wa laa dhiraara) </em>(HR Ibnu Majah no 2332, Ahmad no 2719, Ath-Thabrani no 1370). Hadis sahih (Lihat Nashiruddin al-Albani, <em>As-Silsilah Ash-Shahihah</em>, Juz I hal. 249).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="justify">Hadis ini merupakan dalil yang bermakna umum, yakni mengharamkan segala bentuk <em>dharar</em> (bahaya), baik bahaya bagi sendiri (<em>dharar</em>) maupun bahaya bagi orang lain (<em>dhirar</em>). Keumuman hadis ini dikarenakan lafazh &#8220;dharar&#8221; datang dalam bentuk <em>isim nakirah</em> (<em>indefinite noun</em>) yang terletak dalam struktur kalimat negasi. (M. Husain Abdullah, <em>Mafahim Islamiyah</em>, Juz II hal. 60; <em>Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh</em>, hal. 314).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="justify">Keumuman hadis ini dapat diterapkan juga pada kasus yang ditanyakan, karena tindakan menimbulkan kerugian yang dipikul oleh pihak lain termasuk dalam lafazh <em>&#8220;dhirar&#8221;</em> dalam hadis tersebut. <em>&#8220;Dhirar</em>&#8221; artinya menimbulkan bahaya bagi orang lain (<em>iiqaa&#8217;u adh-dharar bil akharin</em>), termasuk di antaranya bahaya finansial (kerugian). Tindakan seperti ini diharamkan dalam Islam karena telah dinafikan oleh hadis Rasulullah SAW ini. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p align="justify"><strong>Yogyakarta, 8 Oktober 2009</strong></p>
<p align="justify"><strong>Muhammad Shiddiq Al Jawi </strong></p>
<p align="justify">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/420/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/420/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/420/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=420&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/10/15/menimpakan-risiko-bisnis-kepada-pihak-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s5.tinypic.com/1zqeerb_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Idul Fitri 1 Syawal 1430 / 20 september 2009</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/19/selamat-hari-idul-fitri-1-syawal-1430-20-september-2009/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/19/selamat-hari-idul-fitri-1-syawal-1430-20-september-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Sep 2009 13:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[

Kami
mengucapkan 
تقبّل الله منّا ومنكم تقبّل ياكريم
 و جعلنا الله و إيّاكم من العائدين و الفائزين

” Semoga Allah menerima (puasa) kita dan kalian 
dan Allah semoga menjadikan kita dan kalian dari orang yang kembali (dalam keadaan suci) 
dan orang yang mendapatkan kemenangan “
Andai tangan tak kuasa menjabat
Setidaknya kata masih dapat terungkap
Setulus hati mengucapkan
Selamat Idul Fitri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=418&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="entry">
<div class="snap_preview">
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong><em><span style="font-size:20pt;">Kami</span></em></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>mengucapkan </strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:20pt;color:red;">تقبّل الله منّا ومنكم تقبّل ياكريم</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:20pt;color:red;"> و جعلنا الله و إيّاكم من العائدين و الفائزين</span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">” Semoga Allah menerima (puasa) kita dan kalian </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">dan Allah semoga menjadikan kita dan kalian dari orang yang kembali (dalam keadaan suci) </span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">dan orang yang mendapatkan kemenangan</span> “</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:red;">Andai tangan tak kuasa menjabat<br />
Setidaknya kata masih dapat terungkap<br />
Setulus hati mengucapkan<br />
Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir &amp; batin<br />
Ridho Allah dan berkahNya</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:red;">Menyertai hambanya<br />
Yang saling ucapkan maaf<br />
Dan memberi maaf<br />
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H<br />
Maaf Lahir Bathin</span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/418/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/418/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/418/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=418&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/19/selamat-hari-idul-fitri-1-syawal-1430-20-september-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I’tikaf</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/i%e2%80%99tikaf/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/i%e2%80%99tikaf/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 17:04:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[ 
Memasuki sepuluh terakhir Ramadhan Rasulullah saw meningkatkan aktivitas ibadahnya dibandingkan hari-hari sebelumnya.
 
عَنْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
 
Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir (Ramadhan) lebih dari kesungguhan beliau pada hari lain.” (HR. Muslim)
 
Salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=415&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/09/itikaf.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14887" title="itikaf" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/09/itikaf.jpg" alt="" width="185" height="115" /></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Memasuki sepuluh terakhir Ramadhan Rasulullah saw meningkatkan aktivitas ibadahnya dibandingkan hari-hari sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir (Ramadhan) lebih dari kesungguhan beliau pada hari lain.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan oleh beliau kepada ummatnya pada bulan Ramadhan adalah I’tikaf. I’tikaf secara bahasa adalah mendiami sesuatu dan menahan diri untuknya. Secara syar’i I’tikaf berarti berdiam diri di masjid beberapa saat dengan sifat tertentu dengan niat bertaqarrub kepada Allah swt<span id="more-415"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hukum I’tikaf</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">I’tikaf hukumnya sunnah berdasarkan sejumlah riwayat antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَائِشَةَ &#8211; رضى الله عنها &#8211; أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Aisyah r.a. bahwa Nabi saw beri’tikaf sepuluh terakhir Ramadhan hingga Allah azza wa jalla mewafatkan beliau kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelahnya.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (H.R. Bukhari &amp; Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النبى -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ عَامًا فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ قَابِلٍ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Ubay bin Ka’ab r.a. bahwa nabi saw melakukan i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan kemudian beliau melakukan perjalanan setahun maka beliau tidak beri’tikaf. </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Namun pada tahun berikutnya beliau melakukannya 20 hari.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Baihaqy dan al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah dan menurutnya shahih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ &#8211; رضى الله عنه &#8211; قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ فِى قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ عَلَى سُدَّتِهَا حَصِيرٌ &#8211; قَالَ &#8211; فَأَخَذَ الْحَصِيرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِى نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ فَدَنَوْا مِنْهُ فَقَالَ « إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Abu Said al-Khudry r.a. ia berkata: Rasulullah saw melakukan I’tikaf pada sepuluh hari pertama Ramadhan kemudian beri’tikaf pada sepuluh kedua di Kubah Turki yang di sisinya terdapat pembatas. Ia berkata: maka beliau mengambil pembatas dengan tangannya dan meletakkannya di kubah dimana tampak kepala beliau lalu ia berbicara kepada orang-orang sehingga mereka menundukkan diri mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya saya i’tikaf pada sepuluh hari pertama untuk mendapatkan malam ini, kemudian saya I’tikaf pada sepuluh malam kedua kemudian saya didatangi dan dan dikatakan kepada saya bahwa I’tikaf pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa diantara kalian yang senang melakukannya maka i’tikaflah. Lalu orang-orang I’tkaf bersama beliau</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (H.R. Muslim dan Ibnu Khuzaimah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Berdasarkan riwayat di atas, itikaf merupakan aktivitas taqarrub yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah di bulan Ramadhan khususnya di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Hukum ibadah tersebut sunnah. Kesimpulana tersebut diperoleh dari sabda Rasulullah saw yang mengatakan: <em>“barangsiapa diantara kalian yang senang beri’tikaf maka beri’tikaflah.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tempat I’tikaf</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Itikaf hanya dapat dilakukan di masjid. Tidak ada batasan jenis mesjid yang dapat digunakan untuk i’tikaf apakah masjid jami’, tempat dilakukan shalat jumat atau bukan. Hal ini karena nash-nash yang menjelaskan tentang i’tikaf senantiasa dikaitkan dengan mesjid. Sementara itu lafadz mesjid tersebut berbentuk mutlak dan tidak ada <em>taqyid</em> terhadap jenis mesjid tersebut apakah mesjid yang digunakan untuk shalat berjama’ah, shalat jum’at atau selainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (187)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan janganlah kalian melakukan hubungan seks dengan mereka ketika kalian sedang i’tikaf di mesjid. Itulah ketentuan-ketentuan Allah maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertaqwa.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(QS. al-Baqarah: 187)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَلِىُّ بْنُ حُسَيْنٍ أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَزُورُهُ فِى اعْتِكَافِهِ فِى الْمَسْجِدِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ وَقَامَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَقْلِبُهَا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Ali bin Husain bahwa Shafiyyah istri Nabi saw mengiformasikan kepadanya bahwa ia telah mendatangi Rasulullah saw yang sedang I’tikaf di mesjid di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ia berbicara dengan beliau lalu berdiri dan berpaling. Nabi saw juga berdiri dan menciumnya.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Bukhari-Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ : اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ : « أَلاَ إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِى الْقِرَاءَةِ ». أَوْ قَالَ : « فِى الصَّلاَةِ ».</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Abu Said ia berkata: “Rasulullah saw sedang i’tikaf di mesjid lalu beliau mendengar orang-orang mengeraskan bacaaanya. Iapun membuka tabir dan bersabda: “Ketahuilah bahwa masing-masing kalian sedang bermunajat kepada tuhannya maka janganlah sebagian kalian mengganggu yang lain dan mengeraskan suaranya di atas suara yang lain dalam membaca (atau ia berkata) dalam shalat.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (HR. Abu Daud dan al-Hakim. Al-Hakim menshahihkannya)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Waktu Pelaksanaan I’tikaf</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">I’tikaf dalam dilakukan kapan saja baik siang atau malam di sepanjang tahun. Ini karena dalil yang berkenaan dengan I’tikaf tidak memberikan pembatasan <em>(taqyid)</em> atau pengkhususan <em>(takhsis)</em> dalam pelaksanaannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw dan para sahabat melakukan I’tikaf pada bulan Ramdlan maka hal tersebut menunjukkan sangat dianjurkannya waktu tersebut. terlebih lagi di sepuluh terakhir bulan Ramadhan dimana di sana terdapat lailatul qadar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Meski demikian di luar bulan Ramadhan juga diperkenankan untuk i’tikaf. Hal ini misalnya diperoleh dari hadits riwayat:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ كُنْتُ نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ أَنْ أَعْتَكِفُ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ؟ قَالَ: فَأَوْفِ بِنَذَرِكَ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Umar pernah bertanya kepada Ra</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">sulullah saw: “Dulu saya pernah bernadzar di masa jahiliyyah untuk i’tikaf malam di masjid al-haram, Rasul saw bersabda:”Ttunaikanlah nadzarmu.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Perintah Rasul kepada Umar tersebut berbentuk umum dan tidak ada batasan bahwa harus dilaksanakan di bulan Ramadhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Rasulullah saw memulai I’tikaf beliau sesaat setelah melaksanakan shalat Subuh. Karena perbuatan tersebut adalah <em>liqasdi al-qurbah</em>, yakni semata-mata untuk bertaqarrub maka status hukumnya sunnah. Meski demikian hal tersebut bukan syarat sehingga i’tikaf dapat dimulai kapan saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Adapun lama waktu I’tikap tidak dibatasi oleh syara’ sehingga ia dapat dilakukan berapapun lamanya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa i’tikaf minimal satu hari sementara imam Malik yang mengatakan minimal sehari semalam yang kemudian meralatnya menjadi minimal sepuluh hari. Namun demikian tidak diketemukan dalil yang mengharuskan batas tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aktivitas orang yang beri’tikaf</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kegiatan itikaf diisi dengan amalan-amalam <em>taqarrub</em> seperti shalat, membaca al-Quran, dzikir dan menuntut ilmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Meski demikian orang yang sedang i’tikaf boleh keluar untuk memenuhi hajat yang harus dipenuhi yaitu: buang air kecil, buang air besar, muntah, mandi, wudlu dan yang sejenisnya seperti keluar untuk mengambil selimut jika dingin, alat pendingin jika udara panas, melakukan hal-hal yang wajib seperti menghadiri shalat jumat. Dengan demikian segala aktivitas mengharuskan orang yang sedang beri’tikaf untuk keluar memenuhi hajatnya maka tidak membatalkan i’tikaf. Namun jika ia keluar tanpa ada kebutuhan maka i’tikafnya batal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aktivitas di dalam masjid yang dilarang untuk dilakukan seperti meludah, jual beli, membunyikan ruas-ruas tulang tangan maka hal tersebut juga dilarang untuk dilakukan bagi orang yang sedang I’tikaf. Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ فَإِنَّ التَّشْبِيكَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَزَالُ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ فِي الْمَسْجِدِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apabila salah seorang diantara kalian berada di masjid maka janganlah ia membunyikan ruas-ruas tangannya. Karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan setan. Sesungguhnya salah seorang dari kalian masih senantiasa shalat selama ia berada di masjid.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Ahmad dan menurut al-Haitsamy sanadnya hasan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ التَّحَلُّقِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصّ</span><span style="font-family:&quot;">َلَاةِ وَعَنْ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِي الْمَسْجِدِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakenya bahwa Nabi saw melarang mencukur rambut di hari Jumat sebelum shalat dan jula beli di masjid. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. an-Nasai. Menurut Albani hadits ini shahih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ <span style="color:black;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span> الْبُزَاقُ فِى الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Meludah di masjid adalah dosa dan penghapus dosa itu adalah memendamnya.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">” (HR. Bukhari-Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Demikian pula semua aktivitas yang mubah dilakukan di dalam mesjid maka mubah pula dilakukan oleh orang yang sedang melakukan i’tikaf seperti makan dan tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ الزُّبَيْدِيَّ يَقُولُ كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Abdullah bin al-Harits bin Jaz’in az-Zubaidy berkata: “Pada masa Rasulullah saw kami makan roti dan daging di masjid.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Arnauth)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: جَاءَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، بَيْتَ فَاطِمَةَ، فَلَمْ يَجِدْ علِيًّا فِي الْبَيْتِ فَقَالَ: أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ قَالَتْ: كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ شَيْءٌ، فَغَاضَبَنِي، فَخَرَجَ، فَلَمْ يَقِلْ عِنْدِي فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لإِنْسَانٍ: انْظُرْ أَيْنَ هُوَ فَجَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ هُوَ فِي الْمَسْجِدِ رَاقِدٌ فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَهُوَ مُضْطَجِعٌ، قَدْ سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ شِقِّهِ، وَأَصَابَهُ تُرَابٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَمْسَحُهُ عَنْهُ، وَيَقُولُ: قُمْ أَبا تُرَابٍ قُمْ أَبَا تُرَابٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah saw mendatangi Fatimah namun beliau tidak menjumpai Ali di rumah maka beliau bertanya: “Dimana Anak pamanmu?” Aisyah menjawab: “Saya dengan dia ada masalah, ia marah kepadaku lalu keluar dan tidak mengatakan apa-apa pada saya.” Maka Rasulullah saw berkata kepada seseorang: “Carilah dia”. Kemudian orang tersebut datang dan berkata: “Ya Rasulullah ia sedang duduk di masjid.” Maka Rasulullah saw mendatanginya sementara Ali dalam keadaan berbaring sementara selendangnya jatuh dari bahunya dan menimpa tanah. Rasul kemudian mengusapnya dan berkata: “Bangunlah Abu Turab! Bangunlah Abu Turab!” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(H.R. Bukhari) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di samping itu secara khusus terdapat sejumlah riwayat yang menggambarkan sejumlah aktivitas mubah yang dilakukan Rasul pada saat beliau I’tikaf.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Aisyah r.a. ia berkata: “Nabi saw menyandarkan kepalanya kepadaku sementara (sebagian tubuh) beliau berada di masjid. Saya menyisir beliau sementara saya dalam keadaan haid.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (H.R. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا كَانَتْ تُرَجِّلُ النَّبَِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حَائِضٌ وَهُوَ مُعْتَكِفٌ فِي الْمَسْجِدِ وَهِيَ فِي حُجْرَتِهَا يُنَاوِلُهَا رَأْسَهُ (فِي رِوَايَةِ اللَيْثِ َزَادَ) وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَة ٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفاً( وَفِيْ رِوَايَةِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى) وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Aisyah ia bahwa ia memangku Nabi saw sementara ia sedang haid. Nabi i’tikaf di masjid sementara ia berada di kamarnya dimana ia menggapai kepada Nabi. Dalam riwayat Laits ada tambahan bahwa beliau jika sedang i’tikaf tidak masuk ke rumah kecuali ada keperluan. (dalam riwayat Yahya bin Yahya) beliau tidak masuk kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَلِىُّ بْنُ حُسَيْنٍ أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِى اعْتِكَافِهِ فِى الْمَسْجِدِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ وَقَامَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْلِبُهَا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Ali bin Husain bahwa Shafiyyah istri Nabi saw mengiformasikan kepadanya bahwa ia telah mendatangi Rasulullah saw yang sedang I’tikaf di mesjid di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ia berbicara dengan beliau lalu berdiri dan berpaling. Nabi saw juga berdiri dan menciumnya.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Bukhari-Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Riwayat-riwayat diatas menunjukkan bahwa Rasulullah saw melakukan sejumlah aktivitas yang mubah selama melaksanakan i’tikaf seperti menyisir rambut, berjalan, mencium istrinya dan diriwayat lain dimandikan oleh Aisyah. <em>WaLlahu a’lam bisshawab</em> (muis)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/415/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=415&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/i%e2%80%99tikaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2009/09/itikaf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">itikaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggapai Lailatul Qadar</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/menggapai-lailatul-qadar/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/menggapai-lailatul-qadar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 17:01:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[ 
Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah di bulan Ramadlan dimana Allah swt menurunkan telah menurunkan Alquran di malam tersebut. Menurut Ibnu Abbas Allah swt menurunkan Al Quran sekaligus dari lauh mahfudz ke baitul ‘izzah di langit dunia. Setelah itu ia diturunkan secara berangsur-angsur sesuai realitas yang ada selama 23 tahun kepada Rasulullah saw.[1]
Keistimewaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=413&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah di bulan Ramadlan dimana Allah swt menurunkan telah menurunkan Alquran di malam tersebut. Menurut Ibnu Abbas Allah swt menurunkan Al Quran sekaligus dari lauh mahfudz ke <em>baitul ‘izzah</em> di langit dunia. Setelah itu ia diturunkan secara berangsur-angsur sesuai realitas yang ada selama 23 tahun kepada Rasulullah saw.<a name="_ftnref1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Keistimewaan Lailatul Qadar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Lailatul qadar juga memiliki keistimewaan dibandingkan malam-malam lainnya. Keistimewaan tersebut antara lain amalan di malam tersebut pahalanya lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83,3 tahun di luar malam tersebut. Allah swt berfirman:<span id="more-413"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (۱) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (۲) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (۳) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (۴) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (۵) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran pada malam lailatul Qadar. </span></em><span class="gen"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar 1-5)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Menurut at-Thabary para ulama memiliki pendapat beragam tentang “malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan.” Ada yang mentakwilkan beramal dengan amalan yang diridhai Allah pada malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan selainnya. Mujahid mengatakan maksudnya adalah beramal, berpuasa dan shalat malam padanya lebih baik dari seribu bulan. Ada juga yang mengatakan bahwa lailatul qadar lebih baik dari bulan selain bulan Ramadlan.</span></span><a name="_ftnref2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Selain itu orang yang shalat malam pada malam tersebut dengan maksud untuk mendapatkan pahala dari Allah swt akan dihapuskan dosanya yang lalu dan yang akan datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الْبَوَاقِى، مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw berkata: malam lailatul qadar berada pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang shalat dimalamnya untuk mendapatkan pahalanya, maka Allah tabaraka wata’ala akan menghapus dosanya yang telah lalu dan yang akan datang</span></em><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> (HR. Ahmad)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Oleh karena itu Rasulullah saw dan para sahabat senantiasa berupaya untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir. Hal ini karena besarnya keistimewaan lailatul qadar secara khusus disamping keutamaan yang ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadlan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;">عَنْ عَائِشَةَ &#8211; رضى الله عنها &#8211; قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Aisyah berkata: “Adalah Rasulullah saw jika masuk sepuluh malam terakhir Ramadlan beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(H.R. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Menurut An-Nawawy frase ‘mengencangkan sarung’ adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah lebih dari malam-malam biasanya. Ada juga yang mengartikannya dengan menjauhi keluarganya untuk menyibukkan diri beribadah; menghidupkan malam maksudnya menghabiskannya hingga sahur dengan shalat dan ibadah lain; membangunkan keluarga artinya membangunkan mereka untuk melaksanakan shalat dan ibadah lain di malam hari; serius dalam beribadah artinya menambah dari yang biasanya. Hadits ini menurut beliau menunjukkan anjuran untuk menambah ibadah di malam terakhir Ramadlan.</span></span><a name="_ftnref3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عٌيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ مَا أَنَا بِمُلْتَمِسُهَا بَعْدَ مَا سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَّا فِي عَشْرِ الْأَوَاخِرِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ اِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ مِنْهُ قَالَ فَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّي فِي الْعَِشْرِين مِنْ رَمَضَانَ كَصَلَاتِهِ فِيْ سَائِرِ السُّنَّةِ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ اجْتَهَدَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Uyainah bin Abdurrahman dari Bapaknya: “Saya membicarakan lailatul qadar di sisi Abu Bakrah kemudian beliau berkata: “Saya tidak mencarinya kecuali pada sepuluh malam terakhir setelah saya mendengarnya dari Rasulullah saw. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:”Carilah pada sepuluh malam terakhir yaitu pada malam-malam ganjil darinya. Lalu Bapak Abdurrahman berkata: “Abu Bakrah shalat pada 20 malam pertama di bulan Ramadlan sama sebagaimana shalatnya di hari-hari lain sepanjang tahun. Namun ketika memasuki sepuluh malam terakhir iapun bersungguh-sungguh.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">” (H.R. Ahmad dan menurut al-Arnauth sanadnya hasan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ قَالَ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ibnu Buraidah ia berkata: Aisyah r.a. berkata: “Ya Nabi Allah bagaimana pendapatmu jika saya menjumpai malam lailatul qadar maka apa yang saya ucapkan. Beliau menjawab: Ucapkanlah: “Ya Allah sesungguhnya engkau maha pengampun dan mencintai orang-orang yang memohon ampun maka ampunilah saya”. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">(HR. Ahmad. Menurut al-Arnauth sanadnya shahih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Sifat-sifat Lailatul Qadar</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Sejumlah riwayat telah memberikan tanda-tanda datangnya lailatul qadar baik pada saat terjadinya maupun setelahnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span class="gen"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلِقَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَتَهَا ضَعِيفَةً حَمْرَاءَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata: Rasululullah saw bersabda: “Lailatul qadar adalah malam yang tenang, tidak panas dan tidak dingin. Pagi harinya matahari teduh dan berwarna merah.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">(HR. Abu Daud at-Thayalisy. Menurut al-Haitsamy para perawi haditsnya tsiqah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ هِيَ الَّتِي أَخْبَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ بَيْضَاءَ تَرَقْرَقُ</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Zar bin Habisy ia berkata: saya mendengar Ubay bin Ka’ab r.a. berkata: “Malam lailatul qadar adalah pada malam ke-27 yaitu malam yang menurut berita dari Rasullah kepada kami mataharinya terbit dengan cahaya yang putih bersinar.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> (HR. Ahmad. Menurut al-Arnauth hadits ini shahih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الْبَوَاقِى، مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَهِىَ لَيْلَةُ وِتْرٍ تِسْعٍ، أَوْ سَبْعٍ، أَوْ خَامِسَةٍ، أَوْ ثَالِثَةٍ، أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ. وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ، كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ، لاَ بَرْدَ فِيهَا وَلاَ حَرَّ، وَلاَ يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ، وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَلاَ يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw berkata: “Malam lailatul qadar berada pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang shalat pada malam tersebut untuk mendapatkan pahalanya, maka Allah tabaraka wata’ala akan menghapus dosanya yang telah lalu dan yang akan datang dan malam tersebut ada pada malam ganjil yaitu malam ke-21, ke-23, ke 25, ke-27, dan ke-29. Rasulullah saw bersabda: “Malam lailatul qadar tanda-tandanya bersih dan tenang, seakan ada bulan yang bersinar, tenang dan lembut, tidak panas dan tidak dingin. Pada malam itu bintang tidak diperkenankan untuk dilemparkan hingga subuh. Pada pagi harinya matahari terbit dengan (cahaya) rata dan tidak terik. Sinarnya seperti bulan di malam purnama. Pada saat itu setan tidak dibebaskan untuk keluar. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">)</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">HR. Ahmad menurut al Haitsamy para perawi hadits ini tsiqah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنِّي كُنْتُ أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ، ثُمَّ نُسِّيتُهَا ، وَهِيَ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ لَيْلَتِهَا ، وَهِيَ لَيْلَةٌ طَلْقَةٌ بَلْجَةٌ ، لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ (وَزَادَ الزِّيَادِيُّ <img class="wp-smiley" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا يَفْضَحُ كَوَاكِبَهَا (وَقَالاَ <img class="wp-smiley" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /> لاَ يَخْرُجُ شَيْطَانُهَا حَتَّى يُضِيئَ فَجْرُهَا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Saya pernah melihat lailatul qadar kemudian saya dibuat lupa. Ia berada malam sepuluh terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin (Azzayad memberi tambahan) ia seperti bulan yang menyingkap bintang-bintangnya. (keduanya berkata) pada malam itu setan tidak keluar hingga terbit fajar.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Hadits-hadits diatas merupakan hadits yang layak untuk dijadikan sebagai sifat-sifat lailatul qadar. Memang terdapat sejumlah riwayat yang menjelaskan sifat laitul qadar namun hadits-hadits tersebut lemah sehingga tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Hadits tersebut antara lain:<em> “Malam itu setan tidak dilepasakan dan tidak terjadi penyakit di dalamnya</em>“(HR. Ibnu Abi Hatim); <em>“pepohonan di malam itu jatuh ke bumi kemudian kembali lagi ke posisinya dan segala sesuatu pada malam itu sujud</em>“(HR. at-Thabarany) dan; <em>“Sesungguhnya air asin pada malam itu menjadi tawar” </em>(HR. al-Baihaqy). </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Kesemua hadits tersebut tidak sahih apalagi bertentangan dengan fakta yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari hadits di atas  dapat disimpulkan bahwa malam lailatul qadar adalah malam yang tidak panas dan juga tidak dingin seperti malam sebelum dan setelahnya, malam itu terasa tenang dan cerah seakan malam itu terbit bulan purnama, tidak ada angin yang bertiup, badai, hujan debu dan kabut. Demikian pula malam itu tidak terlihat meteor jatuh. Malam itu juga jiwa terasa tenang yang merupaka rahmat dari Allah kepada hambanya di malam yang mulai dan penuh berkah tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Pada pagi harinya matahari bersinar dengan cahaya yang merah dan lemah seperti ketika hendak terbenam sehingga mudah dilihat karena tidak menyakiti mata. Meski realitas sinar matahari tetap sebagaimana biasanya namun keadaan tersebut bisa diakibatkan oleh cuaca yang sejuk, atau karena tersebarnya awan tipis, kabit tipis sehingga menutupi sebagian sinarnya.<a name="_ftnref4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Waktu Lailatul Qadar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Di dalam kitab <em>Fathul Bary</em>, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa para ulama telah berbeda pendapat kapan terjadinya lailatul qadar dengan lebih dari 40 pendapat. Beliau kemudian menyebutkan masing-masing pendapat tersebut yang berjumlah 46 pendapat. Pendapat tersebut antara lain: lailatul qadar dapat terjadi pada setiap malam, hanya pada seluruh malam di bulan Ramadlan, malam ke-17 Ramadlan, pertengahan 10 malam kedua, malam ke-19, malam ke-21, malam ke-23, malam ke-27, dan malam-malam ganjil di sepuluh terakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Setelah mengemukakan seluruh pendapat tersebut Ibnu Hajar</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> berkata: <em>dan yang saya tarjih dari berbagai pendapat tersebut adalah lailatul qadar berada pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir yang berpindah dari satu malam ke malam yang lain sebagaimana yang difahami dari sejumlah hadits pada bab ini. Bisa jadi pada malam 21 sebagaimana yang dikemukakan oleh kalangan Syafi’iyyah atau malam 27 sebagaimana yang dipegang oleh Jumhur berdasarkan hadits-hadits yang mereka jadikan pegangan. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan demikian penetapan malam lailatul qadar membutuhkan adanya tarjih dari sejumlah pendapat tersebut dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang maqbul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dalam masalah ini terdapat sejumlah hadits yang disepakati oleh Buhari-Muslim dan ada pula yang diriwayatkan sendiri-sendiri oleh mereka serta hadits yang diriwayatkan oleh selain mereka berdua. Prinsip yang dijadikan pengangan dalam mentarjih hadits-hadits tersebut adalah beristidlal dengan hadits yang disepakati oleh Bukhari Muslim lebih diutamakan dari yang lain. Demikian pula jika terjadi pertentangan atau perbedaan antara hadits shahih dengan hadits hasan maka yang diambil adalah hadits shahih jika keduanya tidak dapat disatukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selain itu jika terdapat hadits Nabi tentang satu masalah kemudian terdapat pendapat sahabat yang bertentangan dengan hadits tersebut maka pendapat sahabat tersebut diabaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari sejumlah nash yang ada terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim yang mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: اعْتَكَفْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْعَشْرَ الأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ، فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشْرَينَ، فَخَطَبَا، وَقَالَ: إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Jabir bin Abdullah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: saya pernah melihat lailatul qadar kemudian saya dibuat lupa. Ia berada malam sepuluh terakhir.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> (HR. Bukhari-Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari hadits di atas Rasulullah saw menjelasakan bahwa beliau pernah mengetahui malam lailatul qadar kemudian dibuat lupa mengenai waktu terjadinya. Dengan demikian jika Rasulullah saw saja lupa kapan pastinya lailatul qadar maka selain beliau tentu tidak dapat memberikan penetapan kapan waktu terjadinya. Namun demikian beliau memberikan batasan bahwa ia terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadlan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tidak ada hadits yang kualitasnya sama yang bertentangan dengan hadits ini. Adapun hadits-hadits yang bertentangan dengan hadits tersebut kualitasnya lebih rendah. Demikian pula hadits-hadits tersebut tidak dijelaskan apakah dikeluarkan lebih dahulu atau setelah hadits tersebut. Dengan demikian <em>nasakh</em> tidak dapat ditetapkan pada masalah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Memang sejumlah sahabat dan fuqaqah telah menetapkan kapan waktunya lailatul qadar berdasarkan tanda-tanda yang telah dinyatakan dalam sejumlah hadits. Namun demikian penetapan tersebut bersifat <em>dzanny</em> dan tidak sampai pada derajat <em>qath’iy</em>. Sebagai contoh Ubay bin Ka’ab yang menyatakan bahwa lailatul qadar terjadi pada malam ke-27. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ يَقُولُ سَأَلْتُ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ &#8211; رضى الله عنه &#8211; فَقُلْتُ إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ يَقُمِ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَقَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ أَرَادَ أَنْ لاَ يَتَّكِلَ النَّاسُ أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِى رَمَضَانَ وَأَنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. ثُمَّ حَلَفَ لاَ يَسْتَثْنِى أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْعَلاَمَةِ أَوْ بِالآيَةِ الَّتِى أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Zirra bin Hubaisy ia berkata: saya bertanya kepada Ubay bin Ka’ab r.a. dan mengatakan: Sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata: barangsiapa yang mendirikan shalat malam setahun maka ia akan mendapati Lailatul Qadar. Maka beliau berkata: semoga Allah merahmatinya, Allah tidak bermaksud membebani manusia. Bukankah ia telah mengetahui bahwa lailatul qadar pada bulan Ramadlan dan berada pada sepuluh terakhir darinya yakni pada malam ke-27. kemudian beliau bersumpah bahwa tidak terjadi kecuali pada malam ke-27, maka saya berkata: apa dasarmu wahai Abu Mundzir? Ia menjawab: tanda-tanda yang telah diinformasikan Rasul kepada saw mengenai lailatul qadar ada pada saat itu dan ia tidak tersebar</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari hadits diatas jelas bahwa penetapan malam ke-27 tersebut bukan merupakan statemen Rasul saw namun merupakan kesimpulan Ubay dari tanda-tanda yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Adapan sumpah beliau tidak lantaran menjadikan waktu tersebut <em>qath’iy</em> pada malam ke-27 karena ia merupakan hasil ijtihad yang sifatnya <em>dzanny</em>. Andaikan pendapat beliau adalah hal yang <em>qathiy</em> niscaya sahabat yang lain tidak ada yang menyelisihinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Para sahabat juga berbeda dalam menetapkan lailatul qadar berdasarkan pemahaman mereka terhadap keterangan yang telah dinyatakan oleh Rasulullah saw. Said al-Khudri misalnya menyatakan bahwa lalilatul qadar jatuh pada malam ke-21 sementara Abdullah bin Unais yang berkesimpulan bahwa lailatul qadar jatuh pada malam ke-23. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا وَأَرَانِى صَبِيحَتَهَا أَسْجُدُ فِى مَاءٍ وَطِينٍ. قَالَ فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ انْصَرَفَ وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّينِ لَعَلَى أَنْفِهِ وَجَبْهَتِهِ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ يَقُولُ : ثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Abdullah bin Unais bahwa Rasulullah saw bersabda: “Saya melihat malam lailatul qadar kemudian saya dibuat lupa dan saya bermimpi pada subuh harinya sujud di atas tanah dan air. lalu Abdullah berkata: telah terjadi hujan pada malam ke-23 dan Rasulullah saw shalat bersama kami dan setelah itu beliau berpaling dan nampak bekas air dan tanah pada jidad dan hidungnya. Abdullah bin Unais berkata: malam itu ke-23.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: اعْتَكَفْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْعَشْرَ الأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ، فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشْرَينَ، فَخَطَبَا، وَقَالَ: إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ، وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ، فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَلْيَرْجِعْ فَرَجَعْنَا وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءٍ قَزَعَةَ؛ فَجَاءَتْ سَحَابَةٌ فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ، وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ، وَأَقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ، حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبْهَتِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari Abu Said ia berkata: Kami i’tikaf bersama Rasulullah saw pada sepuluh malam kedua, lalu beliau keluar pada subuh hari ke-20 dan berkhutbah: “Sesungguhnya saya telah melihat lailatul qadar kemudian saya dibuat lupa, maka carilah pada sepulu malam terakhir di malam ganjil. Saya bermimpi saya sujud di atas tanah dan air. Barangsiapa yang beri’itikaf bersama Rasulullah saw maka kembalilah, maka kami pun kembali. Kami tidak tidak melihat di langit ada awan tipis namun setelah itu datang awan mendung dan turun hujan hingga merembes ke atap mesjid yang terbuat dari pelepah kurma. Shalat kemudian dilaksanakan dan saya melihat beliau sujud di atas tanah dan air sehingga nampak bekas tanah pada jidadnnya.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam riwayat Bukhari lainnya Ibnu Said berkata: </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span><span style="font-family:&quot;"> </span><span style="font-family:&quot;">م</span><span style="font-family:&quot;">ِ</span><span style="font-family:&quot;">نْ صُبْحِ إِحْدى وَعِشْرِيْنَ</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> (Peristiwa itu) pada subuh hari malam ke-21).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Namun demikian terdapat banyak riwayat lain yang bersifat mutlaq yang tidak membatasi kapan Rasulullah sujud di atas tanah dan air. Sementara pada hadits di atas terdapat batasan <em>(taqyid)</em> yang berbeda yaitu malam ke-21 dan malam ke-23. Meski demikian hadits di atas dapat dikompromikan. Sehingga prinsip mengamalkan seluruh dari dalil lebih dari mengabaikan sebagian dapat diterapkan. Rasulullah dalam banyak riwayat tidak membatasi kapan beliau bermimpi sujud di atas air dan tanah. Namun ketika subuh hari malam ke-21 dan malam ke-23 terjadi hujan sehingga Abu Said menganggap malam ke-21 adalah lailatul qadar sementara Abdullah bin Unais berpandangan bahwa malam ke-23 adalah lailatul qadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hal lain yang perlu ditegaskan adalah pernyataan Rasulullah saw bermimpi sujud di atas air dan tanah adalah pernyataan terpisah dari pernyataan beliau tentang lailatul qadar. Sehingga sujud di atas tanah dan air tidak dapat dijadikan sebagai tanda lailatul qadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Apalagi terdapat sejumlah riwayat yang jelas yang menyatakan bahwa rentang waktu terjadinya lailatul qadar adalah malam ganjil sepuluh malam terakhir dimana Rasulullah saw mendorong manusia untuk mencarinya di waktu-waktu tersebut. Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهَا كَانَتْ أُبِينَتْ لِى لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَإِنِّى خَرَجْتُ لأُخْبِرَكُمْ بِهَا فَجَاءَ رَجُلاَنِ يَحْتَقَّانِ مَعَهُمَا الشَّيْطَانُ فَنُسِّيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ الْتَمِسُوهَا فِى التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai sekalian manusia dulu telah jelas padaku lailatul qadar. Kemudian ketika saya bermaksud keluar menginformasikannya kepada kalian, maka datang dua orang yang bersama setan lalu saya dilupakan tentang malam tersebut. maka carilah pada malam ke-21, ke-23 dan ke-25.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">(HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam riwayat lain dinyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عٌيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ مَا أَنَا بِمُلْتَمِسُهَا بَعْدَ مَا سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِلَّا فِي عَشْرِ الْأَوَاخِرِ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ اِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ مِنْهُ قَالَ فَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّي فِي الْعَِشْرِين مِنْ رَمَضَانَ كَصَلَاتِهِ فِيْ سَائِرِ السُّنَّةِ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ اجْتَهَدَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Uyainah bin Abdurrahman dari Bapaknya: “Saya membicarakan lailatul qadar di sisi Abu Bakrah kemudian beliau berkata: “Saya tidak mencarinya kecuali pada sepuluh malam terakhir setelah saya mendengarnya dari Rasulullah saw. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:”Carilah pada sepuluh malam terakhir yaitu pada malam-malam ganjil darinya. Lalu Bapak Abdurrahman berkata: “Abu Bakrah shalat pada 20 malam pertama di bulan Ramadlan sama sebagaimana shalatnya di hari-hari lain sepanjang tahun. Naamun ketika memasuki sepuluh malam terakhir iapun pun bersungguh-sungguh.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">” (H.R. Ahmad dan menurut al-Arnauth sanadnya hasan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kedua hadits diatas menujukkan bahwa Rasulullah saw menyerukan kaum muslim untuk bersungguh-sungguh pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Rasulullah bahkan mengatakan bahwa bahwa lupanya beliau terhadap lailatul qadar merupakan kehendak Allah dan hal tersebut merupakan hal yang baik bagi kaum muslim. Dengan demikian kaum muslim dapat memperbanyak amalan di malam-malam yang kemungkinan terjadinya lailatul qadar dan tidak hanya fokus beribadah di satu malam saja yang dianggap lailatul qadar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتُ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ أَوْ السَّابِعَةِ أَوْ الْخَامِسَةِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ubadah bin Shamit ia berkata: Rasulullah saw keluar bersama kami dan beliau bermaksud menginformasikan kepada kami lailatul qadar. Lalu datang dua orang berselisih maka beliau bersabda: “Saya keluar dan bermaksud menginformasikan lailatul qadar lalu datang dua orang berselisih maka (waktu lailatul qadar tersebut) diangkat dari saya. Semoga itu lebih baik bagi kalian. Maka carilah ia pada malam ke-21, ke-23 atau ke-25</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">. (H.R. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ <span style="color:black;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </span>أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْمَنَامِ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ <span style="color:black;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </span> أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-family:&quot;">Dari Ibnu Umar r.a. bahwa orang-orang dari Sahabat Nabi saw bermimpi melihat lailatul qadar pada pada tuju malam terakhir maka Rasulullah saw bersabda. </span></em><em><span style="font-family:&quot;">Saya pun melihat mimpi kalian dan sama yaitu pada tujuh terakhir. Barangsiapa yang berupaya mendapatkannya maka carilah pada tujuh malam terakhir.”</span></em><span style="font-family:&quot;"> (HR. Bukhari)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. فَقَالَ النَّبِىُّ <span style="color:black;">صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ </span>أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِى الْوِتْرِ مِنْهَا. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-family:&quot;">Dari Salim dari Bapaknya r.a. berkata: Seorang laki-laki berkata bahwa lailatul qadar pada pada malam ke-27. Maka Nabi saw bersabda: “Saya melihat mimpi kalian bahwa ia berada pada sepuluh malam terakhir maka carilah pada hari-hari ganjilnya.</span></em><span style="font-family:&quot;">” (HR. Muslim)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">ابْنَ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ &#8211; يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ &#8211; فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى ».</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-family:&quot;">Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata. Rasulullah saw bersabda: “Carilah lailatul qadar pada sebelum malam terakhir. Jika diatara kalian ada yang merasa lemah maka janganlah mengabaikan tujuh malam terakhir.”</span></em><span style="font-family:&quot;"> (H.R. Muslim)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;">Riwayat tersebut menyebutkan perintah untuk mencarinya di malam ganjil di sepuluh malam terakhir dan tujuh malam terakhir. Dimana antara tujuh malam terakhir dan sepuluh malam terakhir tidak ditetapkan. </span><span style="font-family:&quot;">Ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar ada pada malam-malam tersebut. Hal ini diperkuat oleh hadits Aisyah yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw meningkatkan keseriusannya beribadah pada malam sepuluh terakhir yang berlangsung hingga beliau wafat.<a name="_ftnref5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-family:&quot;">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Rasulullah saw pernah mengetahui kapan terjadinya lailatul qadar kemudian Allah swt membuat beliau lupa hingga ia diwafatkan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan demikian siapapun selain beliau termasuk sahabat tidak dapat menentukan kapan pastinya lailatul qadar. Meski demikian beliau telah memberikan rentang waktu terjadinya malam lailatul qadar yakni di sepuluh terakhir bulan Ramadlan pada malam-malam ganjil. Dengan kata lain lailatul qadar  dapat terjadi pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27 dan ke-29. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-family:&quot;color:black;">عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الْبَوَاقِى، مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، وَهِىَ لَيْلَةُ وِتْرٍ تِسْعٍ، أَوْ سَبْعٍ، أَوْ خَامِسَةٍ، أَوْ ثَالِثَةٍ، أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Dari Ubadah bin Shamit bahwa Rasulullah saw berkata: “Malam lailatul qadar berada pada sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang shalat dimalamnya untuk mendapatkan pahalanya, maka Allah tabaraka wata’ala akan menghapus dosanya yang telah lalu dan yang akan datang dan malam tersebut ada pada malam ganjil 21, 23, 25, 27, dan 29.” </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">(HR. Ahmad menurut al Haitsamy para perawi hadits ini tsiqah)</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">. <em>Wallahu a’lam bisshawab</em>. (muis)</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--><br />
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-family:&quot;">Ibnu Katsir, <em>Tafsir al Quran al-Adzhim, </em>VIII/441, al-Maktabah as-Syamilah.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-family:&quot;"> Ibnu Jarir, <em>Tafsir at-Thabaty</em>, XXVI/533, al-Maktabah as-Syamilah.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-family:&quot;"> An-Nawawy, <em>Syarh an-Nawawy ‘ala Muslim-</em>, VIII/80, al-Maktabah as-Syamilah</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-family:&quot;"> Mahmud Latif Uwaidhah, <em>al-Jami’ li ahkami as-Shiyam</em>, hlm. 258</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><a name="_ftn5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2009/09/10/menggapai-lailatul-qadar/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&quot;"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-family:&quot;"> Penjelasan lebih detail mengenai masalah ini lihat Mahmud Latif Uwaidhah, <em>al-jami’ li ahkam as-Shiyam</em>, hlm.260</span></p>
</div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/413/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/413/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/413/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=413&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/09/13/menggapai-lailatul-qadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Membuat Spanduk Natal</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/07/16/hukum-membuat-spanduk-natal/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/07/16/hukum-membuat-spanduk-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 16:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[eramuslim.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr wb Ustadz..langsung saja ya&#8230;.
saya punya percetakan, kemudian ada orang non muslim meminta jasa percetakan saya untuk membuatkan misalnya spanduk natalan, apakah saya boleh mengerjakan spanduk natalan orang tersebut? minta penjelasannya, berikut dengan dalil2nya. Jazaklh khoir&#8230;.
 ZPION 
Jawaban
Waalaikumussalam Wr Wb
Pada dasarnya tidak ada larangan bermuamalah bisnis dengan orang-orang kafir dalam hal-hal yang mengandung kemaslahatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=410&subd=taukhid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="garis-bawah" style="text-align:justify;">Assalamu&#8217;alaikum wr wb Ustadz..langsung saja ya&#8230;.</p>
<p>saya punya percetakan, kemudian ada orang non muslim meminta jasa percetakan saya untuk membuatkan misalnya spanduk natalan, apakah saya boleh mengerjakan spanduk natalan orang tersebut? minta penjelasannya, berikut dengan dalil2nya. Jazaklh khoir&#8230;.</p>
<p><strong> ZPION </strong></div>
<h3 style="border-bottom:1px solid #cccccc;text-align:justify;">Jawaban</h3>
<p style="text-align:justify;">Waalaikumussalam Wr Wb</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya tidak ada larangan bermuamalah bisnis dengan orang-orang kafir dalam hal-hal yang mengandung kemaslahatan bagi manusia dan tidak menyangkut kepada urusan aqidah, sebagaimana firman Allah swt :<span id="more-410"></span></p>
<p class="ArabCenter" style="text-align:justify;">لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah : <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Namun apabila muamalah bisnis itu sudah menyangkut urusan aqidah bahkan dapat mengukuhkan eksistensi orang-orang kafir, seperti pembuatan kartu-kartu ucapan Natal, spanduk-spanduk Perayaan Natal dan yang sejenisnya maka hal ini tidak diperbolehkan karena termasuk didalam kategori tolong-menolong dalam perbuatan maksiat dan dosa.</p>
<p style="text-align:justify;">Syeikh Abdul Aziz bin Bazz—semoga Allah merahmatinya—mengatakan bahwa orang-orang beriman baik laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan membantu perayaan hari raya orang-orang Nasrani, Yahudi atau pun yang lainnya karena perayaan-perayaan itu bertentangan dengan syariah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu tidak diperbolehkan ikut sera didalamnya, tidak bertolong-tolongan dengan mereka (pada saat itu), tidak membantu mereka dengan sesuatu apa pun baik berupa secangkir teh, kopi atau yang lainnya, sebagaimana firman Allah swt :</p>
<p class="ArabCenter" style="text-align:justify;">وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)</p>
<p style="text-align:justify;">Membantu orang-orang kafir didalam hari raya mereka merupakan salah satu dari bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.” (Majmu’ Fatawa Syeikh Ibn Bazz juz VI hal 405)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam penjelasannya, al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’ menyebutkan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim bertolong-tolongan dengan orang-orang kafir dalam bentuk pertolongan apa pun untuk hari raya mereka seperti :</p>
<p style="text-align:justify;">menyebarluaskan dan mengumumkan hari raya mereka, seruan-seruan kepadanya dengan sarana apapun baik seruan melalui media informasi, logo-logo jam, spanduk-spanduk, pembuatan pakaian-pakaian, kartu-kartu ucapan, buku-buku tulis sekolah, discount-discount harga atau hadiah-hadiah, kegiatan-kegiatan oleh raga atau pemberian harga khusus yang ditujukan untuk perayaan itu. (http://www.islam-qa.com)</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu A’lam</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/410/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/410/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/410/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&blog=4045792&post=410&subd=taukhid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/07/16/hukum-membuat-spanduk-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>