<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Islam Adalah Jalan Hidupku</title>
	<atom:link href="http://taukhid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taukhid.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Dec 2011 17:58:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='taukhid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Islam Adalah Jalan Hidupku</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://taukhid.wordpress.com/osd.xml" title="Islam Adalah Jalan Hidupku" />
	<atom:link rel='hub' href='http://taukhid.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hukum Gadai Emas</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/10/09/hukum-gadai-emas/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/10/09/hukum-gadai-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:36:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : apa hukumnya gadai emas? Jawab : Gadai emas adalah produk bank syariah berupa fasilitas pembiayaan dengan cara memberikan utang (qardh) kepada nasabah dengan jaminan emas (perhiasan/lantakan) dalam sebuah akad gadai (rahn). Bank syariah selanjutnya mengambil upah (ujrah, fee) atas jasa penyimpanan/penitipan yang dilakukannya atas emas tersebut berdasarkan akad ijarah (jasa). Jadi, gadai emas merupakan akad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=478&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2011/08/emas-batangan.jpg"><img class="alignleft" title="emas-batangan" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2011/08/emas-batangan.jpg" alt="" width="189" height="118" /></a></span></h2>
<h2 style="text-align:justify;"><span class="Apple-style-span" style="font-size:13px;font-weight:normal;"><strong>Tanya :</strong></span></h2>
<div>
<p style="text-align:justify;"><em>apa hukumnya gadai emas?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gadai emas adalah produk bank syariah berupa fasilitas pembiayaan dengan cara memberikan utang (<em>qardh</em>) kepada nasabah dengan jaminan emas (perhiasan/lantakan) dalam sebuah akad gadai (<em>rahn</em>). Bank syariah selanjutnya mengambil upah (<em>ujrah, fee</em>) atas jasa penyimpanan/penitipan yang dilakukannya atas emas tersebut berdasarkan akad <em>ijarah </em>(jasa). Jadi, gadai emas merupakan akad rangkap (<em>uqud</em> <em>murakkabah, multi-akad</em>), yaitu gabungan akad <em>rahn</em> dan<em>ijarah</em>. (lihat Fatwa DSN MUI No 26/DSN-MUI/III/2002 tentang gadai emas).<span id="more-478"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kami gadai emas haram hukumnya, dengan 3 (tiga) alasan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama</em>, dalam gadai emas terjadi pengambilan manfaat atas pemberian utang. Walaupun disebut <em>ujrah</em> atas jasa penitipan, namun hakikatnya hanya rekayasa hukum (<em>hilah</em>) untuk menutupi riba, yaitu pengambilan manfaat dari pemberian utang, baik berupa tambahan (<em>ziyadah</em>), hadiah, atau manfaat lainnya. Padahal manfaat-manfaat ini jelas merupakan riba yang haram hukumnya. Dari Anas RA, bahwa Rasulullah SAW,”<em>Jika seseorang memberi pinjaman (qardh), janganlah dia mengambil hadiah</em>.” (HR Bukhari, dalam kitabnya <em>At-Tarikh Al-Kabir</em>). (Taqiyuddin An-Nabhani, <em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em>, II/341).</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnul Mundzir menyebutkan adanya ijma’ ulama bahwa setiap tambahan atau hadiah yang disyaratkan oleh pihak yang memberikan pinjaman, maka tambahan itu adalah riba. (<em>Al-Ijma’</em>, hlm. 39).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua,</em> dalam gadai emas, fee (<em>ujrah</em>) untuk jasa penitipan/penyimpanan dibebankan kepada penggadai (<em>rahin</em>), yaitu nasabah. Padahal seharusnya biaya itu dibebankan kepada penerima gadai (<em>murtahin</em>), yaitu bank syariah, bukan nasabah. Dalilnya sabda Rasulullah SAW,”Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya, dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan.” (HR Jama’ah, kecuali Muslim dan Nasa`i).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Imam Syaukani, hadits tersebut menunjukkan pihak yang menanggung biaya barang jaminan adalah <em>murtahin</em> (penerima gadai), bukan <em>rahin</em> (penggadai). Alasannya, bagaimana mungkin biayanya ditanggung <em>rahin</em>, karena justru <em>rahin</em> itulah yang memiliki barang jaminan. Jadi, menurut Imam Syaukani, hadits itu memberikan pengertian bahwa jika faidah-faidah terkait dengan kepentingan <em>murtahin</em>, seperti penitipan (<em>wadi’ah</em>) barang jaminan, maka yang harus menanggung biayanya<em> </em>adalah <em>murtahin</em>, bukan <em>rahin</em>. (Imam Syaukani, <em>As-Sailul Jarar,</em> hlm. 275-276).</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, dalam gadai emas terjadi akad rangkap, yaitu gabungan akad <em>rahn</em> dan <em>ijarah</em>. Bagi kami akad rangkap tidak boleh menurut syara’, mengingat terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, beliau berkata,”Nabi SAW melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (<em>shafqatain fi shafqatin</em>)” (HR Ahmad, <em>Al-Musnad</em>, I/398). Imam Syaukani dalam <em>Nailul Authar</em> mengomentari hadits Ahmad tersebut,”Para periwayat hadits ini adalah orang-orang kepercayaan (<em>rijaluhu tsiqat</em>).” Menurut Imam Taqiyuddin an-Nabhani hadits ini melarang adanya dua akad dalam satu akad, misalnya menggabungkan dua akad jual beli menjadi satu akad, atau menggabungkan akad jual-beli dengan akad ijarah. (<em>Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah</em>, II/308).</p>
<p style="text-align:justify;">Memang sebagian ulama telah membolehkan akad rangkap. Namun perlu kami sampaikan, ulama yang membolehkan pun, telah mengharamkan penggabungan akad<em>tabarru’</em> yang bersifat non komersial<em> </em>(seperti<em> qardh</em> atau <em>rahn</em>) dengan akad yang komersial (seperti <em>ijarah</em>)<em>.</em> (Ibnu Taimiyah, <em>Majmu’ al-Fatawa</em>, 29/62; Fahad Hasun, <em>Al-Ijarah al-Muntahiyah bi At-Tamlik</em>, hlm. 24).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan tiga alasan tersebut, gadai emas haram hukumnya. Kami tegaskan pula, fatwa DSN MUI mengenai gadai emas menurut kami keliru dan tidak halal diamalkan oleh kaum muslimin. <em>Wallahu a’lam</em>. (Ustadz Siddiq al Jawie)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2011/10/07/hukum-gadai-emas/">Sumber</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=478&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/10/09/hukum-gadai-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2011/08/emas-batangan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">emas-batangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM-HUKUM SYIRKAH</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/hukum-hukum-syirkah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/hukum-hukum-syirkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 01:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi Pengertian Syirkah Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhâri’), syarikan/syirkatan/syarikatan (mashdar/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau serikat (Kamus Al-Munawwir, hlm. 765). Kata dasarnya boleh dibaca syirkah, boleh juga dibaca syarikah. Akan tetapi, menurut Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, 3/58, dibaca syirkah lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=474&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><a href="http://tinypic.com/view.php?pic=33c1xcn&amp;s=5"><img src="http://i42.tinypic.com/33c1xcn_th.gif" alt="View Full Size Image" align="left" border="0" /></a>Pengertian Syirkah</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kata <em>syirkah</em> dalam bahasa Arab berasal dari kata <strong>syarika</strong> (<em>fi’il mâdhi</em>), <strong>yasyraku</strong> (<em>fi’il mudhâri’</em>), <strong>syarikan</strong>/<strong>syirkatan</strong>/<strong>syarikatan</strong> (<em>mashdar</em>/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau serikat (<strong><em>Kamus Al-Munawwir</em></strong>, hlm. 765). Kata dasarnya boleh dibaca syirkah, boleh juga dibaca syarikah. Akan tetapi, menurut <strong>Al-Jaziri</strong> dalam <strong><em>Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah</em></strong>, 3/58, dibaca <em>syirkah</em> lebih fasih (<em>afshah</em>).<span id="more-474"></span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Menurut arti asli bahasa Arab (makna <em>etimologis</em>), <em>syirkah</em> berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sedemikian rupa sehingga tidak dapat lagi dibedakan satu bagian dengan bagian lainnya (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 146). Adapun menurut makna syariat, <em>syirkah</em> adalah suatu akad antara dua pihak atau lebih, yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 146).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hukum Dan Rukun Syirkah</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah</em> hukumnya <em>jâ’iz</em> (mubah), berdasarkan dalil Hadis Nabi Saw berupa <em>taqrîr</em> (pengakuan) beliau terhadap syirkah. Pada saat beliau diutus sebagai nabi, orang-orang pada saat itu telah bermuamalah dengan cara ber-syirkah dan Nabi Saw membenarkannya. Nabi Saw bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra:</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua pihak yang ber-syirkah selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya. Kalau salah satunya berkhianat, Aku keluar dari keduanya</em>. [<strong>HR. Abu Dawud</strong>, <strong>al-Baihaqi</strong>, dan <strong>ad-Daruquthni</strong>].</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Rukun <em>syirkah</em> yang pokok ada 3 (tiga) yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">(<strong>1</strong>) akad (<em>ijab-kabul</em>), disebut juga <em>shighat</em>; (<strong>2</strong>) dua pihak yang berakad (<em>‘âqidâni</em>), syaratnya harus memiliki kecakapan (<em>ahliyah</em>) melakukan <em>tasharruf</em> (pengelolaan harta); (<strong>2</strong>) obyek akad (<em>mahal</em>), disebut juga <em>ma’qûd ‘alayhi</em>, yang mencakup pekerjaan (<em>amal</em>) dan/atau modal (<em>mâl</em>) (<strong>Al-Jaziri</strong>, 1996: 69; <strong>Al-Khayyath</strong>, 1982: 76; 1989: 13).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adapun syarat sah akad ada 2 (dua) yaitu: (<strong>1</strong>) obyek akadnya berupa <em>tasharruf</em>, yaitu aktivitas pengelolaan harta dengan melakukan akad-akad, misalnya akad jual-beli; (<strong>2</strong>) obyek akadnya dapat diwakilkan (<em>wakalah</em>), agar keuntungan syirkah menjadi hak bersama di antara para <em>syarîk</em> (mitra usaha) (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 146).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Macam-Macam Syirkah</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Menurut <strong>An-Nabhani</strong>, berdasarkan kajian beliau terhadap berbagai hukum <em>syirkah</em> dan dalil-dalilnya, terdapat lima macam syirkah dalam Islam: yaitu: (<strong>1</strong>) <em>syirkah inân</em>; (<strong>2</strong>) <em>syirkah abdan</em>; (<strong>3</strong>) <em>syirkah mudhârabah</em>; (<strong>4</strong>) <em>syirkah wujûh</em>; dan (<strong>5</strong>) <em>syirkah mufâwadhah</em> (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 148). <strong>An-Nabhani</strong> berpendapat bahwa semua itu adalah syirkah yang dibenarkan syariah Islam, sepanjang memenuhi syarat-syaratnya. Pandangan ini sejalan dengan pandangan ulama Hanafiyah dan Zaidiyah.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Menurut ulama Hanabilah, yang sah hanya empat macam, yaitu: <em>syirkah inân</em>, <em>abdan</em>, <em>mudhârabah</em>, dan <em>wujûh</em>. Menurut ulama Malikiyah, yang sah hanya tiga macam, yaitu: <em>syirkah inân</em>, <em>abdan</em>, dan <em>mudhârabah</em>. Menurut ulama Syafi’iyah, Zahiriyah, dan Imamiyah, yang sah hanya <em>syirkah inân</em> dan <em>mudhârabah</em> (<strong>Wahbah Az-Zuhaili</strong>, <strong><em>Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu</em></strong>, 4/795).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Syirkah Inân</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah inân</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi konstribusi kerja (<em>‘amal</em>) dan modal (<em>mâl</em>). <em>Syirkah</em> ini hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah dan Ijma Sahabat (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 148). Contoh <em>syirkah inân</em>: A dan B insinyur teknik sipil. A dan B sepakat menjalankan bisnis properti dengan membangun dan menjualbelikan rumah. Masing-masing memberikan konstribusi modal sebesar Rp 500 juta dan keduanya sama-sama bekerja dalam syirkah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam syirkah ini, disyaratkan modalnya harus berupa uang (<em>nuqûd</em>); sedangkan barang (<em>‘urûdh</em>), misalnya rumah atau mobil, tidak boleh dijadikan modal syirkah, kecuali jika barang itu dihitung nilainya (<em>qîmah al-‘urûdh</em>) pada saat akad.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Keuntungan didasarkan pada kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha (<em>syarîk</em>) berdasarkan porsi modal. Jika, misalnya, masing-masing modalnya 50%, maka masing-masing menanggung kerugian sebesar 50%. Diriwayatkan oleh <strong>Abdur Razaq</strong> dalam kitab <strong><em>Al-Jâmi’</em></strong>, bahwa Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata, &#8220;<em>Kerugian didasarkan atas besarnya modal, sedangkan keuntungan didasarkan atas kesepakatan mereka (pihak-pihak yang bersyirkah).</em>&#8221; (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 151).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Syirkah ‘Abdan</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah ‘abdan</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan konstribusi kerja (<em>‘amal</em>), tanpa konstribusi modal (<em>mâl</em>). Konstribusi kerja itu dapat berupa kerja pikiran (seperti pekerjaan arsitek atau penulis) ataupun kerja fisik (seperti pekerjaan tukang kayu, tukang batu, sopir, pemburu, nelayan, dan sebagainya) (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 150). <em>Syirkah</em> ini disebut juga <em>syirkah ‘amal</em> (<strong>Al-Jaziri</strong>, 1996: 67; <strong>Al-Khayyath</strong>, 1982: 35). Contohnya: A dan B. keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapatkan sebesar 60% dan B sebesar 40%.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam syirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian, tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja <em>syirkah ‘abdan</em> terdiri dari beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun, disyaratkan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal. (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 150); tidak boleh berupa pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan (celeng).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Keuntungan yang diperoleh dibagi berdasarkan kesepakatan; nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama di antara mitra-mitra usaha (<em>syarîk</em>).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah ‘abdan</em> hukumnya boleh berdasarkan dalil as-Sunnah (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 151). <strong>Ibnu</strong><strong> Mas’ud ra.</strong> pernah berkata, &#8220;<em>Aku pernah berserikat dengan Ammar bin Yasir dan Sa’ad bin Abi Waqash mengenai harta rampasan perang pada Perang Badar. Sa’ad membawa dua orang tawanan, sementara aku dan Ammar tidak membawa apa pun.</em>&#8221; [<strong>HR. Abu Dawud</strong> dan <strong>al-Atsram</strong>].</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hal itu diketahui Rasulullah Saw dan beliau membenarkannya dengan <em>taqrîr</em> beliau (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 151).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Syirkah Mudhârabah</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah mudhârabah</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak atau lebih dengan ketentuan, satu pihak memberikan konstribusi kerja (<em>‘amal</em>), sedangkan pihak lain memberikan konstribusi modal (<em>mâl</em>) (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 152). Istilah <em>mudhârabah</em> dipakai oleh ulama Irak, sedangkan ulama Hijaz menyebutnya <em>qirâdh</em> (<strong>Al-Jaziri</strong>, 1996: 42; <strong>Az-Zuhaili</strong>, 1984: 836). Contoh: A sebagai pemodal (<em>shâhib al-mâl</em>/<em>rabb al-mâl</em>) memberikan modalnya sebesar Rp 10 juta kepada B yang bertindak sebagai pengelola modal (<em>‘âmil</em>/<em>mudhârib</em>) dalam usaha perdagangan umum (misal, usaha toko kelontong).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Ada dua bentuk lain sebagai variasi <em>syirkah mudhârabah</em>. <strong><em>Pertama</em></strong>, dua pihak (misalnya, A dan B) sama-sama memberikan konstribusi modal, sementara pihak ketiga (katakanlah C) memberikan konstribusi kerja saja. <strong><em>Kedua</em></strong>, pihak pertama (misalnya A) memberikan konstribusi modal dan kerja sekaligus, sedangkan pihak kedua (misalnya B) hanya memberikan konstribusi modal, tanpa konstribusi kerja. Kedua bentuk syirkah ini masih tergolong <em>syirkah mudhârabah</em> (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 152).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hukum <em>syirkah mudhârabah</em> adalah <em>jâ’iz</em> (boleh) berdasarkan dalil as-Sunnah (<em>taqrîr</em> Nabi Saw) dan Ijma Sahabat (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 153). Dalam syirkah ini, kewenangan melakukan <em>tasharruf</em> hanyalah menjadi hak pengelola (<em>mudhârib</em>/<em>‘âmil</em>). Pemodal tidak berhak turut campur dalam <em>tasharruf</em>. Namun demikian, pengelola terikat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Jika ada keuntungan, ia dibagi sesuai kesepakatan di antara pemodal dan pengelola modal, sedangkan kerugian ditanggung hanya oleh pemodal. Sebab, dalam <em>mudhârabah</em> berlaku hukum <em>wakalah</em> (perwakilan), sementara seorang wakil tidak menanggung kerusakan harta atau kerugian dana yang diwakilkan kepadanya (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 152). Namun demikian, pengelola turut menanggung kerugian, jika kerugian itu terjadi karena kesengajaannya atau karena melanggar syarat-syarat yang ditetapkan oleh pemodal (<strong>Al-Khayyath</strong>, <strong><em>Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah</em></strong>, 2/66).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Syirkah Wujûh</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah wujûh</em> disebut juga <em>syirkah ‘ala adz-dzimam</em> (<strong>Al-Khayyath</strong>, <strong><em>Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah</em></strong>, 2/49). Disebut <em>syirkah wujûh</em> karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (<em>wujûh</em>) seseorang di tengah masyarakat. <em>Syirkah wujûh</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak (misal A dan B) yang sama-sama memberikan konstribusi kerja (<em>‘amal</em>), dengan pihak ketiga (misalnya C) yang memberikan konstribusi modal (<em>mâl</em>). Dalam hal ini, pihak A dan B adalah tokoh masyarakat. Syirkah semacam ini hakikatnya termasuk dalam <em>syirkah mudhârabah</em> sehingga berlaku ketentuan-ketentuan <em>syirkah mudhârabah</em> padanya (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 154).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Bentuk kedua <em>syirkah wujûh</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak atau lebih yang ber-syirkah dalam barang yang mereka beli secara kredit, atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, tanpa konstribusi modal dari masing-masing pihak (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 154). Misal: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan B ber-<em>syirkah wujûh</em>, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang (misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki 50% dari barang yang dibeli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan kepada C (pedagang).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam <em>syirkah wujûh</em> kedua ini, keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki; sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan berdasarkan kesepakatan. <em>Syirkah wujûh</em> kedua ini hakikatnya termasuk dalam <em>syirkah ‘abdan</em> (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 154).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hukum kedua bentuk syirkah di atas adalah boleh, karena bentuk pertama sebenarnya termasuk <em>syirkah mudhârabah</em>, sedangkan bentuk kedua termasuk <em>syirkah ‘abdan</em>. <em>Syirkah mudhârabah</em> dan <em>syirkah ‘abdan</em> sendiri telah jelas kebolehannya dalam syariat Islam (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 154).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Namun demikian, <strong>An-Nabhani</strong> mengingatkan bahwa ketokohan (<em>wujûh</em>) yang dimaksud dalam <em>syirkah wujûh</em> adalah kepercayaan finansial (<em>tsiqah mâliyah</em>), bukan semata-semata ketokohan di masyarakat. Maka dari itu, tidak sah syirkah yang dilakukan seorang tokoh (katakanlah seorang menteri atau pedagang besar), yang dikenal tidak jujur, atau suka menyalahi janji dalam urusan keuangan. Sebaliknya, sah <em>syirkah wujûh</em> yang dilakukan oleh seorang biasa-biasa saja, tetapi oleh para pedagang dia dianggap memiliki kepercayaan finansial (<em>tsiqah mâliyah</em>) yang tinggi, misalnya dikenal jujur dan tepat janji dalam urusan keuangan (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 155-156).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Syirkah Mufâwadhah</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>Syirkah mufâwadhah</em> adalah <em>syirkah</em> antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas (<em>syirkah inân</em>, <em>‘abdan</em>, <em>mudhârabah</em>, dan <em>wujûh</em>) (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 156; <strong>Al-Khayyath</strong>, 1982: 25). <em>Syirkah mufâwadhah</em> dalam pengertian ini, menurut <strong>An-Nabhani</strong> adalah boleh. Sebab, setiap jenis syirkah yang sah ketika berdiri sendiri, maka sah pula ketika digabungkan dengan jenis syirkah lainnya (<strong>An-Nabhani</strong>, 1990: 156).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis syirkah-nya; yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal (jika berupa <em>syirkah inân</em>), atau ditanggung pemodal saja (jika berupa <em>syirkah mudhârabah</em>), atau ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang dimiliki (jika berupa <em>syirkah wujûh</em>).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Contoh: A adalah pemodal, berkonstribusi modal kepada B dan C, dua insinyur teknik sipil, yang sebelumnya sepakat, bahwa masing-masing berkonstribusi kerja. Kemudian B dan C juga sepakat untuk berkonstribusi modal, untuk membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam hal ini, pada awalnya yang ada adalah <em>syirkah ‘abdan</em>, yaitu ketika B dan C sepakat masing-masing ber-syirkah dengan memberikan konstribusi kerja saja. Lalu, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka bertiga terwujud <em>syirkah mudhârabah</em>. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C sebagai pengelola. Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan konstribusi modal, di samping konstribusi kerja, berarti terwujud <em>syirkah inân</em> di antara B dan C. Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud <em>syirkah wujûh</em> antara B dan C. Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan semua jenis syirkah yang ada, yang disebut <em>syirkah mufâwadhah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Daftar Pustaka</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">1. An-Nabhani, Taqiyuddin. 1990. <em>An-Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm</em>. Cetakan IV. Beirut: Darul Ummah.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">2. Antonio, M. Syafi’i. 1999. <em>Bank Syariah Wacana Ulama dan Cendekiawan</em>. Jakarta: Bank Indonesia &amp; Tazkia Institute.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">3. Al-Jaziri, Abdurrahman. 1996. <em>Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah</em>. Juz III. Cetakan I. Beirut: Darul Fikr.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">4. Al-Khayyath, Abdul Aziz. 1982. <em>Asy-Syarîkât fî asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah wa al-Qânûn al-Wâdh‘i</em>. Beirut: Mua’ssasah ar-Risalah.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">5. —————. 1989. Asy-Syarîkât fî Dhaw’ al-Islâm. Cetakan I. T.Tp. Darus Salam.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">6. Az-Zuhaili, Wahbah. 1984. <em>Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu</em>. Juz IV. Cetakan III. Damaskus: Darul Fikr.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">7. Siddiqi, M. Nejatullah. 1996. <em>Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam Hukum Islam (Partnership and Profit Sharing in Islamic Law)</em>. Terjemahan oleh Fakhriyah Mumtihani. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">8. Vogel, Frank E. &amp; Samuel L. Hayes III. 1998. <em>Islamic Law and Finance: Religion, Risk and Return</em>. Denhag: Kluwer Law International.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=474&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/hukum-hukum-syirkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i42.tinypic.com/33c1xcn_th.gif" medium="image">
			<media:title type="html">View Full Size Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAGIAN WARIS UNTUK SEORANG ISTERI, SATU ANAK PEREMPUAN, DAN DUA ANAK LAKI-LAKI</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/bagian-waris-untuk-seorang-isteri-satu-anak-perempuan-dan-dua-anak-laki-laki/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/bagian-waris-untuk-seorang-isteri-satu-anak-perempuan-dan-dua-anak-laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 00:57:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Seorang laki-laki meninggal dengan para ahli waris sebagai berikut : seorang isteri, seorang anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Harta warisnya senilai Rp 80 juta. Mohon bantuan Ustadz menghitung bagian ahli waris masing-masing. (FW, Rancaekek). Jawab : Dalam hukum waris Islam, isteri merupakan ash-habul furudh, yaitu ahli waris yang mendapat bagian harta waris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=466&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Tanya :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong><em>Seorang laki-laki meninggal dengan para ahli waris sebagai berikut : seorang isteri, seorang anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Harta warisnya senilai Rp 80 juta. Mohon bantuan Ustadz menghitung bagian ahli waris masing-masing.</em> (FW, Rancaekek).<span id="more-466"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Dalam hukum waris Islam, isteri merupakan <em>ash-habul furudh</em>, yaitu ahli waris yang mendapat bagian harta waris dalam jumlah tertentu. Isteri mendapat 1/4 (seperempat) jika suami yang meninggal tidak mempunyai anak, dan mendapat 1/8 (seperdelapan) jika mempunyai anak.  (Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, <em>Risalah fil Faraidh</em>, hal. 7).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Dalam kasus ini suami mempunyai anak, maka bagian isteri adalah 1/8 (seperdelapan) sesuai dalil Al-Qur`an :<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ</strong><br />
<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>&#8220;Jika kamu (suami) mempunyai anak, maka para isteri itu memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan&#8230;&#8221;</em> (QS An-Nisaa` : 12).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sedangkan seorang anak perempuan dan dua anak laki-laki adalah <em>ashabah</em>, yaitu ahli waris yang mendapat bagian harta waris sisanya setelah diberikan lebih dulu kepada <em>ash-habul furudh</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Ketiga anak tersebut mendapat harta sebanyak = 7/8 (tujuh perdelapan), berasal dari harta asal dikurangi bagian ibu mereka (1 – 1/8 = 7/8).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Selanjutnya bagian 7/8 (tujuh perdelapan) itu dibagi kepada ketiga anak tersebut dengan ketentuan bagian anak laki-laki adalah dua kali bagian anak perempuan sesuai dalil Al-Qur`an :</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>يُوْصِيْكُمُ اللهُ فِيْ أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأْنُْثَيَيْنِ<br />
</strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><em>&#8220;Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian harta waris untuk) anak-anakmu, yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.&#8221;</em> (QS An-Nisaa` [4] : 11)</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maka bagian anak perempuan tersebut (misalkan namanya A) = 1 bagian. Bagian anak laki-laki pertama (misal namanya B) = 2 bagian, dan bagian anak laki-laki kedua (misalnya namanya C) = 2 bagian. Maka harta <em>ashabah</em> tadi (7/8) akan dibagi menjadi 5 bagian (dari penjumlahan 1 + 2 + 2).  Atau penyebutnya adalah 5.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Jadi bagian A= 1/5 dari 7/8 = 1/5 X 7/8 = 7/40 (tujuh perempatpuluh). Bagian B = 2/5 dari 7/8 = 2/5 X 7/8 = 14/40 (empat belas perempatpuluh). Bagian C sama dengan bagian B = 2/5 X 7/8 = 14/40 (empat belas perempatpuluh).</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Berdasarkan perhitungan di atas, maka bagian isteri = 1/8 X Rp 80 juta = Rp 10 juta. Bagian A (anak perempuan) = 7/40 x Rp 80 juta = Rp 14 juta. Sedang bagian B dan C (dua anak laki-laki) masing-masing = 14/40 x Rp 80 juta = Rp 28 juta.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Demikian perhitungan warisnya. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=466&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/06/02/bagian-waris-untuk-seorang-isteri-satu-anak-perempuan-dan-dua-anak-laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DENDA KARENA TERLAMBAT BAYAR UTANG, BOLEHKAH?</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/denda-karena-terlambat-bayar-utang-bolehkah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/denda-karena-terlambat-bayar-utang-bolehkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 00:37:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=463</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Ustadz, apa hukumnya denda karena terlambat membayar utang atau angsuran utang? Jawab : Dalam fiqih kontemporer denda karena terlambat membayar utang atau angsuran utang disebut al-gharamat at-ta`khiriyah atau al-gharamat al-maliyah. (Abdullah Mushlih &#38; Shalah Shawi, Maa Laa Yasa’u at-Tajir Jahlahu, hal. 279 &#38; 335; Ali as-Salus, Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah, hal. 458). Para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=463&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><img src="http://donacrochet.com/images/3893279774-penyaluran-kredit-umkm-meningkat-28-48-persen.jpg" border="0" alt="" width="188" height="188" align="left" />Tanya :</p>
<p></strong><em>Ustadz, apa hukumnya denda karena terlambat membayar utang atau angsuran utang?</em><em> </em><strong>Jawab :</p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam fiqih kontemporer denda karena terlambat membayar utang atau angsuran utang disebut <em>al-gharamat at-ta`khiriyah</em> atau <em>al-gharamat al-maliyah. </em>(Abdullah Mushlih &amp; Shalah Shawi, <em>Maa Laa Yasa’u at-Tajir Jahlahu</em>, hal. 279 &amp; 335; Ali as-Salus, <em>Mausu’ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah</em>, hal. 458).<span id="more-463"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam masalah  ini. Sebagian membolehkan dan sebagian lagi mengharamkan. Yang  membolehkan antara lain berdalil dengan sabda Nabi SAW,&#8221;<em>Tindakan menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.&#8221;</em> (HR Bukhari). Juga sabda Nabi SAW,<em>&#8220;Tindakan orang mampu [menunda pembayaran utangnya] telah menghalalkan kehormatannya dan sanksi kepadanya.&#8221;</em> (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa`i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pihak yang membolehkan, hadits ini menjadi  dalil jika orang yang mampu menunda pembayaran utangnya maka ia berhak  mendapatkan hukuman, termasuk hukuman denda. Namun mereka menetapkan dua  syarat. <em>Pertama</em>, denda ini tidak boleh disyaratkan di awal akad, untuk membedakannya dengan riba jahiliyah (<em>riba nasi`ah</em>). <em>Kedua</em>,  denda ini hanya dikenakan bagi yang mampu, tak berlaku bagi yang miskin  atau dalam kesulitan. (QS Al-Baqarah : 280). (Abdullah Mushlih &amp;  Shalah Shawi, <em>ibid.</em>, hal. 337).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang pihak yang mengharamkan berdalil denda semacam ini mirip dengan riba jahiliyah (<em>riba nasi`ah</em>),  yaitu tambahan dari utang yang muncul karena faktor waktu/penundaan.  Padahal justru riba inilah yang diharamkan saat Al-Qur`an turun (QS  Al-Baqarah : 275). Maka apapun namanya, ia tetap riba, baik diambil dari  orang yang mampu atau tidak, baik disyaratkan di awal akad atau tidak.  (Abdullah Mushlih &amp; Shalah Shawi, <em>ibid.</em>, hal. 338).</p>
<p style="text-align:justify;">Pendapat yang rajih adalah yang mengharamkan. Alasannya : <em>Pertama</em>,  meski orang mampu yang menunda pembayaran utang layak dihukum, tapi tak  pernah ada sepanjang sejarah Islam seorang pun qadhi (hakim) atau  fuqaha yang menjatuhkan hukuman denda. Padahal kasus semacam ini banyak  sekali terjadi di berbagi kota di negeri-negeri Islam. Jumhur fuqaha  berpendapat hukumannya adalah <em>ta’zir</em>, yaitu ditahan (<em>al-habs</em>) meski sebenarnya boleh saja bentuk ta’zir lainnya. (Abdullah Mushlih &amp; Shalah Shawi, <em>ibid.</em>, hal. 338; Ali As-Salus, <em>ibid.</em>, hal. 449).</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu karena sudah maklum bahwa pemberi utang hanya  berhak atas sejumlah uang yang dipinjamkannya, tidak lebih. Baik ia  mendapatkannya tepat pada waktunya atau setelah terjadi penundaan.  Tambahan berapa pun yang diambilnya sebagai kompensasi dari penundaan  pembayaran tiada lain adalah riba yang diharamkan. (Ali As-Salus, <em>ibid.</em>, hal. 449).</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em> , denda karena terlambat membayar  utang mirip dengan riba, maka denda ini dihukumi sama dengan riba  sehingga haram diambil. Kaidah fiqih menyebutkan : <strong><em>Maa qaaraba al-syai’a u’thiya hukmuhu</em></strong> (Apa saja yang mendekati/mirip dengan sesuatu, dihukumi sama dengan sesuatu itu). (M. Shidqi Burnu, <em>Mausu’ah al-Qawa’id Al-Fiqhiyah</em>,  9/252). Kesimpulannya, menjatuhkan denda karena terlambat membayar  utang atau angsuran utang hukumnya haram karena termasuk riba. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Yogyakarta, 28 Desember 2010</p>
<p style="text-align:justify;">Muhammad Shiddiq Al-Jawi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/463/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/463/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=463&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/denda-karena-terlambat-bayar-utang-bolehkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://donacrochet.com/images/3893279774-penyaluran-kredit-umkm-meningkat-28-48-persen.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PARFUM BERALKOHOL, NAJISKAH?</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/parfum-beralkohol-najiskah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/parfum-beralkohol-najiskah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 00:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Ustadz, apa hukumnya menggunakan parfum yang beralkohol? Jawab : Parfum beralkohol adalah setiap parfum yang mengandung alkohol (etanol). Banyak orang mengira kadar alkohol dalam parfum lebih sedikit dibanding kadar parfum murninya. Padahal faktanya kadar alkoholnya lebih banyak. Menurut Al-Dhumairi, umumnya kadar parfum murninya hanya 10 % sedang kadar alkoholnya 90 %. Paling banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=460&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><img src="http://www.krazymarket.com/fileimg/20100926095629Perfume_Bottles.jpg" border="0" alt="" width="187" height="187" align="left" />Tanya :</p>
<p></strong><em>Ustadz, apa hukumnya menggunakan parfum yang beralkohol?</p>
<p></em><strong>Jawab :</p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Parfum beralkohol adalah setiap parfum yang  mengandung alkohol (etanol). Banyak orang mengira kadar alkohol dalam  parfum lebih sedikit dibanding kadar parfum murninya. Padahal faktanya  kadar alkoholnya lebih banyak. Menurut Al-Dhumairi, umumnya kadar parfum  murninya hanya 10 % sedang kadar alkoholnya 90 %. Paling banyak kadar  parfum murninya hanya sekitar 25 %. Jadi, sebutan yang tepat sebenarnya  alkohol berparfum, bukan parfum beralkohol. (Abu Malik Al-Dhumairi, <em>Fathul Ghafur fi Isti’mal Al-Kuhul Ma’a al-‘Uthur</em>, hal. 14-15).<span id="more-460"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya  menggunakan parfum beralkohol. Sebagian ulama tidak membolehkan, karena  menganggap alkohol najis. Sedang sebagian lainnya membolehkan, karena  tak menganggapnya najis. Perbedaan pendapat tentang kenajisan alkohol  berpangkal pada perbedaan pendapat tentang khamr, apakah ia najis atau  tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Khamr itu sendiri dalam pengertian syar’i adalah setiap minuman yang memabukkan (<em>kullu syaraabin muskirin</em>) (Abdurrahman al-Maliki, <em>Nizhamul ‘Uqubat</em>,  hal. 25). Di masa modern kini telah diketahui, unsur yang membuat khamr  memabukkan adalah alkohol (etanol). Maka dalam pengertian teknis kimia,  khamr didefinisikan sebagai setiap minuman yang mengandung alkohol  (etanol) baik kadarnya sedikit maupun banyak. (Abu Malik Al-Dhumairi, <em>ibid.,</em> hal. 13).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut jumhur (mayoritas) fuqaha, seperti Imam Abu  Hanifah, Maliki, Syafi’i, Ahmad, dan Ibnu Taimiyah, khamr adalah najis.  Namun sebagian ulama, seperti Imam Laits bin Sa’ad, Muzani, dan Rabi’ah  Al-Ra`yi, menganggap khamr itu suci, tidak najis. (Wahbah Zuhaili, <em>Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu</em>, 1/260 &amp; 7/427; Imam Al-Qurthubi, <em>Ahkamul Qur`an</em>, 3/52; Abdurrahman al-Jaziri, <em>Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah</em>, 1/18).</p>
<p style="text-align:justify;">Ulama yang menganggap khamr najis antara lain berdalil dengan ayat (artinya),<em>&#8220;Wahai  orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi,  (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan  keji (rijsun) termasuk perbuatan syaitan.&#8221;</em> (QS Al-Ma`idah : 90). Ayat ini menunjukan kenajisan khamr, karena Allah SWT menyebut khamr merupakan <em>rijsun</em>,  yang berarti najis. Karena itu, menurut ulama Hanafiyah pakaian yang  tersiram khamr seukuran koin dirham tidak boleh digunakan sholat karena  dianggap terkena najis. (Wahbah Zuhaili, <em>ibid.</em>, 7/427).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ulama yang menganggap khamr tak najis membantah pendapat tersebut. Menurut mereka kata <em>rijsun</em> dalam ayat tersebut artinya adalah najis secara maknawi, bukan najis  secara hakiki. Artinya khamr tetap dianggap zat suci, bukan najis,  meskipun memang haram untuk diminum. Karena zat yang haram tak selalu  najis, meski zat yang najis pasti haram. (<em>Tafsir Al-Manar</em>, 58/7; Imam Shan’ani, <em>Subulus Salam</em>, 1/36; Sayyid Sabiq, <em>Fiqih As-Sunnah</em>, 1/19).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun menurut kami, yang rajih adalah pendapat  jumhur bahwa khamr itu najis. Dalilnya memang bukan ayat tentang khamr  (QS Al-Ma`idah : 90), namun hadits Nabi SAW dari Abu Tsa’labah  Al-Khusyani RA. Dia pernah bertanya kepada Nabi SAW,&#8221;Kami bertetangga  dengan Ahli Kitab sedang mereka memasak babi dalam panci-panci mereka  dan meminum khamr dalam bejana-bejana mereka.&#8221; Nabi SAW menjawab,&#8221;Jika  kamu dapati wadah lainnya, makan makan dan minumlah padanya. Jika tidak  kamu dapati wadah lainnya, cucilah wadah-wadah mereka dengan air dan  gunakan untuk makan dan minum.&#8221; (HR Ahmad &amp; Abu Dawud, dengan isnad  shahih).(<em>Subulus Salam</em>, 1/33; <em>Nailul Authar</em>, hal. 62).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas menunjukkan kenajisan khamr, sebab  Nabi SAW tidak memerintahkan untuk mencuci wadah mereka dengan air,  kecuali karena khamr itu najis. Ini diperkuat dengan riwayat  Ad-Daruquthni, bahwa Nabi SAW bersabda,&#8221;maka cucilah wadah-wadah mereka  dengan air karena air itu akan menyucikannya.&#8221; (<em>farhadhuuhaa bil-maa`i fa-inna al-maa`a thahuuruhaa</em>) (Mahmud Uwaidhah, <em>Al-Jami’ Li Ahkam Al-Shalah</em>, 1/45).</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulannya, alkohol (etanol) itu najis karena khamr itu najis. Maka, parfum beralkohol tidak boleh digunakan karena najis. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yogyakarta, 28 Desember 2010</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=460&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/parfum-beralkohol-najiskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.krazymarket.com/fileimg/20100926095629Perfume_Bottles.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, DAN TRANSGENDER ADALAH PENYIMPANGAN DAN TINDAKAN KRIMINAL YANG HARUS DIHUKUM TEGAS*</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/lesbian-gay-biseksual-dan-transgender-adalah-penyimpangan-dan-tindakan-kriminal-yang-harus-dihukum-tegas/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/lesbian-gay-biseksual-dan-transgender-adalah-penyimpangan-dan-tindakan-kriminal-yang-harus-dihukum-tegas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 00:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi** HIV/AIDS : Masalah Kesehatan dan Perilaku Masalah HIV/AIDS sebenarnya bukan sekadar masalah kesehatan (medis), namun juga masalah perilaku. Sebab telah terbukti penyebab terbesar penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, yaitu zina dan homoseksual. (Ali As-Salus, Mausu‘ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Muashirah, hal. 705). Terlebih jika ditelusuri sejarahnya, HIV / AIDS pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=457&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi**</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><img src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPf54kF71yh9NcOaiZimUMc0V-ixOeo7e84m64BZphW0LVGhAc" border="0" alt="" width="182" height="112" align="left" />HIV/AIDS : Masalah Kesehatan dan Perilaku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah HIV/AIDS sebenarnya bukan sekadar masalah  kesehatan (medis), namun juga masalah perilaku. Sebab telah terbukti  penyebab terbesar penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, yaitu  zina dan homoseksual. (Ali As-Salus, <em>Mausu‘ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Muashirah</em>, hal. 705).<span id="more-457"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terlebih jika ditelusuri sejarahnya, HIV / AIDS pertama kalinya memang ditemukan di kalangan gay San Fransisco pada tahun 1978. Selanjutnya HIV/AIDS menular hingga ke seluruh penjuru dunia terutama lewat perilaku seks  bebas seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender. Inilah  bukti bahwa HIV/AIDS tidak dapat dianggap semata-mata hanya masalah  kesehatan, melainkan juga masalah perilaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perumusan masalah seperti ini, maka solusinya  menjadi jelas dan terarah. Jadi HIV/AIDS harus ditanggulangi bukan hanya  dengan mencegah dan mengobati HIV/AIDS sebagai masalah kesehatan,  melainkan harus disertai pula dengan upaya menghapuskan segala perilaku  menyimpang, seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah solusi yang diserukan Islam dan solusi  yang memang sesuai dengan kenyataan yang ada. Islam memang memandang  HIV/AIDS sebagai masalah kesehatan, karena penyakit AIDS memang  berbahaya (<em>dharar</em>) lantaran menyebabkan lumpuhnya sistem kekebalan tubuh. Berbagai penyakit akan mudah menjangkiti penderitanya yang ujung-ujungnya adalah kematian. Padahal Islam adalah agama yang melarang terjadinya bahaya (<em>dharar</em>) pada umat manusia. Rasulullah SAW bersabda,<em>&#8220;Tidak  boleh menimpakan bahaya pada diri sendiri dan juga bahaya bagi orang  lain dalam Islam (laa dharara wa laa dhiraara fi al-islam).&#8221;</em> (HR Ibnu Majah no 2340, Ahmad 1/133; hadits sahih).  Namun Islam juga memandang HIV/AIDS sebagai  masalah perilaku, karena HIV/AIDS pada sebagian besar kasusnya berawal  dan tersebar melalui perilaku seks bebas yang menyimpang, seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender.  Semua perilaku ini adalah perbuatan kotor dan tercela dalam pandangan  Islam. Semuanya adalah tindakan kriminal yang layak mendapat hukuman  yang tegas. (Imam Al-Ajiri, <em>Dzamm Al-Liwath</em>, Kairo: Maktabah Al-Qur`an, 1990, hal. 22; Mahran Nuri, <em>Fahisyah al-Liwath</em>, hal. 2; Abdurrahman Al-Maliki, <em>Nizham Al-Uqubat</em>, hal. 18-20).  Solusi Islam ini jelas berbeda berbeda dengan  solusi model sekular-liberal selama ini. Solusi ini hanya memandang  HIV/AIDS sebagai masalah kesehatan, bukan masalah perilaku. Maka  solusinya hanya terkait dengan persoalan kesehatan semata, misalnya  kondomisasi, pembagian jarum suntik steril, kampanye bahaya AIDS, dan  yang semisalnya. Sedang perilaku seks bebas seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender dianggap tidak ada masalah, tidak perlu dihukum, dan dianggap tak ada hubungannya dengan penanggulangan HIV/AIDS. Jelas solusi ini adalah solusi yang dangkal dan bodoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikatakan &#8220;dangkal&#8221; karena solusi yang ada berarti  hanya menyentuh fenomena permukaan yang nampak secara empiris. Tidak  menyentuh persoalan yang lebih mendalam dan hakiki, yaitu persoalan  nilai-nilai kehidupan (<em>morality</em>) dan gaya hidup (<em>life style</em>) yang terekspresikan lewat seks bebas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dikatakan &#8220;bodoh&#8221; karena solusi tersebut  berarti memerosotkan derajat manusia setara dengan binatang. Karena  perilaku yang jelas-jelas bejat seperti lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender  dianggap legal dan sah-sah saja dilakukan. Padahal semua perilaku  sampah itu hakikatnya adalah mempertuhankan hawa nafsu dan membunuh akal  sehat. Bukankah ini suatu kebodohan? Firman Allah SWT (artinya) : <em>&#8220;Terangkanlah  kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.  Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu  mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu  tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat  jalannya (daripada binatang ternak itu).</em> (QS Al-Furqaan : 43-44).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mengatasi HIV/AIDS hanya sebagai masalah  kesehatan tanpa mempersoalkan perilaku seks bebas yang menyertainya,  adalah solusi dangkal dan bodoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayang sekali, solusi dangkal dan bodoh inilah  yang justru diadopsi oleh pemerintah dan berbagai LSM komprador asing.  Solusi ini sebenarnya hanya strategi impor dari kaum kafir penjajah, dengan perspektif sekuler-liberal (versi UNAIDS). Namanya saja yang keren, &#8220;<em>Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS.&#8221; </em>Tapi intinya bukan penanggulangan yang serius, melainkan sekedar kedangkalan dan kebodohan.<em> </em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah dan berbagai LSM itu seolah-olah memang  tulus mengajak masyarakat untuk menjauhkan diri dari HIV/AIDS. Gunakan  kondom, pakai jarum suntik steril, kalau bisa jangan zina, kalau bisa  jangan ganti-ganti pasangan dan bla, bla, bla lainnya yang kelihatannya  hebat dan heroik. Padahal kampanye itu bukanlah solusi yang benar,  bahkan malah mungkin akan semakin menyuburkan HIV/AIDS. Mengapa? Karena  mereka telah memasang kacamata kuda ketika memandang masalah HIV/AIDS  menjadi sebatas masalah kesehatan. Akhirnya mereka mengabaikan  perilaku-perilaku sampah semisal zina, homoseksual, biseksual, dan  sebagainya. Padahal perilaku seperti inilah yang menjadi penyebab  terbesar dari HIV/AIDS.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, itikad pemerintah dalam menanggulangi  HIV/AIDS sangat patut diragukan, selama mereka masih mentolerir perilaku  bejat yang menjijikkan semisal lesbianisme, gay, biseksual, transgender dan semacamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tegas kami nyatakan, selama HIV/AIDS hanya dipandang  masalah kesehatan, tanpa ada usaha untuk menghapuskan perilaku seks  bebas, maka penanggulangan HIV/AIDS apa pun dan bagaimana pun juga  strateginya, sudah pasti ditakdirkan gagal. Pasti. Sebab selain  menyalahi fakta keras yang ada, bahwa HIV/AIDS tak dapat dilepaskan dari  zina dan liwath (homoseksual), penanggulangan semacam itu juga  menyimpang dari ajaran Islam. Setiap penyimpangan dari Islam tak akan  pernah menemui keberhasilan, tapi hanya berbuah kegagalan di dunia dan  akhirat. Firman Allah SWT (artinya),<em>&#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan [di dunia] dan azab yang pedih [di akhirat].</em>&#8221; (QS An Nuur : 63).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyoal LGBT</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Islam  memang berbeda dengan gaya hidup liar yang diajarkan  sekularisme-liberalisme. Menurut mereka perilaku seks bebas seperti  lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender adalah boleh karena  merupakan hak asasi manusia (HAM) dan bagian dari kebebasan individu  yang harus dihormati dan dijaga oleh negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun Islam tak menyetujui selera rendahan ala  binatang seperti itu. Perilaku lesbianisme, gay, biseksual, dan  transgender hukumnya haram dalam Islam. Tak hanya itu, semua perbuatan  haram itu sekaligus dinilai sebagai tindak kejahatan/kriminal (<em>al-jarimah</em>) yang harus dihukum. (Abdurrahman Al-Maliki, <em>Nizham Al-Uqubat</em>, hal. 8-10).</p>
<p style="text-align:justify;">Lesbianisme dalam kitab-kitab fiqih disebut dengan istilah <em>as-sahaaq</em> atau <em>al-musahaqah</em>.  Definisinya adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama  wanita. Tak ada khilafiyah di kalangan fuqaha bahwa lesbianisme hukumnya  haram. Keharamannya antara lain berdasarkan sabda Rasulullah SAW : <em>&#8220;Lesbianisme adalah [bagaikan] zina di antara wanita&#8221; (as-sahaq zina an-nisaa` bainahunna)</em>. (HR Thabani, dalam <em>al-Mu’jam al-Kabir</em>, 22/63). (Sa’ud al-Utaibi, <em>Al-Mausu’ah Al-Jina`iyah al-Islamiyah</em>, hal. 452).</p>
<p style="text-align:justify;">Lesbianisme menurut Imam Dzahabi merupakan dosa besar (<em>al-kaba`ir</em>). (Dzahabi, <em>Az-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba`ir</em>,  2/235). Namun hukuman untuk lesbianisme tidak seperti hukuman zina,  melainkan hukuman ta’zir, yaitu hukuman yang tidak dijelaskan oleh  sebuah nash khusus. Jenis dan kadar hukumannya diserahkan kepada qadhi  (hakim). Ta’zir ini bentuknya bisa berupa hukuman cambuk, penjara,  publikasi (<em>tasyhir</em>), dan sebagainya. (Sa’ud al-Utaibi, <em>Al-Mausu’ah Al-Jina`iyah al-Islamiyah</em>, hal. 452; Abdurrahman Al-Maliki, <em>Nizham Al-Uqubat</em>, hal. 9).</p>
<p style="text-align:justify;">Homoseksual dikenal dengan istilah <em>liwath</em>. Imam Ibnu Qudamah mengatakan bahwa telah sepakat (ijma’) seluruh ulama mengenai haramnya homoseksual (<em>ajma’a ahlul ‘ilmi ‘ala tahrim al-liwaath</em>). (Ibnu Qudamah, <em>Al-Mughni</em>, 12/348). Sabda Nabi SAW,<em>&#8220;Allah  telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi  Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan  kaum Nabi Luth Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti  perbuatan kaum Nabi Luth.&#8221;</em> (HR Ahmad, no 3908). Hukuman untuk  homoseks adalah hukuman mati, tak ada khilafiyah di antara para fuqoha  khususnya para shahabat Nabi SAW seperti dinyatakan oleh Qadhi Iyadh  dalam kitabnya <em>Al-Syifa`</em>. Sabda Nabi SAW,<em>&#8220;Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya.&#8221;</em> (HR Al Khamsah, kecuali an-Nasa`i).</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja para sahabat Nabi SAW berbeda pendapat  mengenai teknis hukuman mati untuk gay. Menurut Ali bin Thalib RA, kaum  gay harus dibakar dengan api. Menurut Ibnu Abbas RA, harus dicari dulu  bangunan tertinggi di suatu tempat, lalu jatuhkan gay dengan kepala di  bawah, dan setelah sampai di tanah lempari dia dengan batu. Menurut Umar  bin Khaththab RA dan Utsman bin Affan RA, gay dihukum mati dengan cara  ditimpakan dinding tembok padanya sampai mati. Memang para shahabat Nabi  SAW berbeda pendapat tentang caranya, namun semuanya sepakat gay wajib  dihukum mati. (Abdurrahman Al-Maliki, <em>Nizham Al-Uqubat</em>, hal. 21).</p>
<p style="text-align:justify;">Biseksual adalah perbuatan zina jika dilakukan dengan  lain jenis. Jika dilakukan dengan sesama jenis, tergolong homoseksual  jika dilakukan di antara sesama laki-laki, dan tergolong lesbianisme  jika dilakukan di antara sesama wanita. Semuanya perbuatan maksiat dan  haram, tak ada satu pun yang dihalalkan dalam Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Hukumannya disesuaikan dengan faktanya. Jika tergolong zina, hukumnya rajam (dilempar batu sampai mati) jika pelakunya <em>muhshan</em> (sudah menikah) dan dicambuk seratus kali jika pelakunya bukan <em>muhshan</em>. Jika tergolong homoseksual, hukumannya hukuman mati. Jika tergolong lesbianisne, hukumannya ta’zir.</p>
<p style="text-align:justify;">Transgender adalah perbuatan menyerupai lain jenis.  Baik dalam berbicara, berbusana, maupun dalam berbuat, termasuk dalam  aktivitas seksual. Islam mengharamkan perbuatan menyerupai lain jenis  sesuai hadits bahwa Nabi SAW mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita  dan mengutuk wanita yang menyerupai laki-laki (HR Ahmad, 1/227 &amp;  339).</p>
<p style="text-align:justify;">Hukumannya, jika sekedar berbicara atau berbusana  menyerupai lawan jenis, adalah diusir dari pemukiman atau perkampungan.  Nabi SAW telah mengutuk orang-orang waria (<em>mukhannats</em>) dari kalangan laki-laki dan orang-orang tomboy (<em>mutarajjilat</em>) dari kalangan perempuan. Nabi SAW berkata,<em>&#8220;Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.&#8221;</em> (<em>akhrijuuhum min buyutikum</em>).  Maka Nabi SAW pernah mengusir Fulan dan Umar RA juga pernah mengusir  Fulan (HR Bukhari no 5886 dan 6834). (Lihat Imam Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, hal. 1306).</p>
<p style="text-align:justify;">Jika transgender melakukan hubungan seksual maka  hukumannya disesuaikan dengan faktanya. Jika hubungan seksual terjadi di  antara sesama laki-laki, maka dijatuhkan hukuman homoseksual. Jika  terjadi di antara sesama wanita, dijatuhkan hukuman lesbianisme. Jika  hubungan seksual dilakukan dengan lain jenis, dijatuhkan hukuman zina.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang dalam Islam dikenal istilah <em>khuntsa</em>,  atau hermaphrodit, yakni orang yang mempunyai kelamin ganda. Mereka  memang diakui dalam fiqih Islam. Namun ini sama sekali berbeda dengan  transgender, karena kaum transgender mempunyai kelamin yang sempurna,  bukan kelamin ganda, hanya saja mereka berperilaku menyerupai lawan  jenisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa  lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender adalah perbuatan yang  diharamkan Islam, sekaligus merupakan tindakan kriminal yang harus  dihukum tegas.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang berhak menjatuhkan hukuman adalah Imam (Khalifah) dalam negara Khilafah yang akan menjalankan Syariah Islam secara <em>kaffah</em> (komprehensif). Memang, Khalifah sekarang sudah tak ada sejak hancurnya Khilafah di Turki tahun 1924.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka menjadi tugas umat Islam, untuk mengembalikan Khilafah itu di muka bumi sekali lagi sebagai Khilafah yang mengikuti <em>minhaj nubuwwah</em> (metode kenabian). Dialah nanti yang akan menjalankan Syariah Islam secara <em>kaffah</em>, termasuk menjatuhkan hukuman-hukuman yang tegas untuk manusia-manusia hina yang melakukan perbuatan lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender. <em>Wallahu a’lam</em> [ ]<strong>DAFTAR BACAAN</p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Utaibi, Sa’ud bin Abdul ‘Ali Al-Barudi, <em>Al-Mausu’ah Al-Jina`iyah al-Islamiyah, </em>(Riyadh : t.p), 1427 H</p>
<p style="text-align:justify;">As-Salus, Ali Ahmad, <em>Mausu‘ah Al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Muashirah</em>, (Qatar : Daruts Tsaqafah), 2006</p>
<p style="text-align:justify;">Rosyidah, Faizatul, <em>Kritik Islam Terhadap Strategi Penanggulangan HIV-AIDS Berbasis Paradigma Sekula-Liberal dan Solusi Islam Atasnya,</em> http://faizatulrosyidahblog.blogspot.com  Komisi Penanggulangan AIDS, <em>Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007 – 2010</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Laporan Pelaksanaan Kegiatan Sekretariat KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Nasional, Bulan Juni, Agustus, September 2010</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Ajiri, <em>Dzamm Al-Liwath</em>, (Kairo: Maktabah Al-Qur`an), 1990</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al-Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, (Beirut : Dar Ibn Hazm), 2000</p>
<p style="text-align:justify;">Nuri, Mahran, <em>Fahisyah al-Liwath</em>, www.waqfeya.com</p>
<p style="text-align:justify;">= = = =</p>
<p style="text-align:justify;">*Makalah disampaikan dalam Seminar Mahasiswa Peduli Generasi, dengan tema <em>Benarkah Lesbi, Gay, Bisex dan Transgender Adalah Kehendak Tuhan ?<strong>, </strong></em>diselenggarakan  oleh Lembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian dan Pengamalan Islam (UPPI)  Institut Seni Indonesia Surakarta bekerjasama dengan Badan Lembaga  Dakwah Kampus (BKLDK) Solo Raya, 18 Desember 2010, di Gedung J, Kampus  ISI Surakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">**DPP HTI; Pimpinan Pesantren (Mudir Ma’had) Hamfara Yogyakarta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/457/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=457&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2011/03/21/lesbian-gay-biseksual-dan-transgender-adalah-penyimpangan-dan-tindakan-kriminal-yang-harus-dihukum-tegas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPf54kF71yh9NcOaiZimUMc0V-ixOeo7e84m64BZphW0LVGhAc" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM REBONDING</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2010/03/14/hukum-rebonding/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2010/03/14/hukum-rebonding/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 16:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Tsaqofah & Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Ustadz apa hukumnya rebonding? (Dudung, Majenang) Jawab : Rebonding adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh lebih lurus dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. Pertama, rambut diberi krim tahap pertama untuk membuka ikatan protein rambut. Kemudian rambut dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti disetrika dengan alat pelurus rambut bersuhu tinggi. Kedua, rambut diberi krim tahap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=453&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=8CrmpUc4lOmzpstIhsNsKoh4l5k2TGxc"><img src="http://i47.tinypic.com/4iij3m_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya  :</strong><br />
<em>Ustadz apa hukumnya rebonding?</em> (Dudung, Majenang)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab  :</strong><br />
Rebonding adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh lebih  lurus dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. <em>Pertama</em>, rambut  diberi krim tahap pertama untuk membuka ikatan protein rambut. Kemudian  rambut dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti disetrika dengan alat  pelurus rambut bersuhu tinggi. <em>Kedua</em>, rambut diberi krim tahap  kedua untuk mempertahankan pelurusan rambut.<span id="more-453"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Proses rebonding  melibatkan proses kimiawi yang mengubah struktur protein dalam rambut.  Protein pembentuk rambut manusia disebut keratin, yang terdiri dari  unsur sistin (<em>cystine</em>) yaitu senyawa asam amino yang memiliki  unsur sulfida. Jembatan disulfida -S-S- dari sistin inilah yang paling  bertanggung jawab atas berbagai bentuk dari rambut kita. Rambut  berbentuk lurus atau keriting dikarenakan keratin mengandung jembatan  disulfida yang membuat molekul mempertahankan bentuk-bentuk tertentu.  Pada proses rebonding, pemberian krim tertentu bertujuan untuk  membuka/memutus jembatan disulfida itu, sehingga bentuk rambut yang  keriting menjadi lemas/lurus.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses rebonding menghasilkan perubahan permanen pada  rambut yang terkena aplikasi. Namun rambut baru yang tumbuh dari akar  rambut akan tetap mempunyai bentuk rambut yang asli. Jadi, rebonding  bukan pelurusan rambut biasa yang hanya menggunakan perlakuan fisik,  tapi juga menggunakan perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein  dalam rambut secara permanen. Inilah fakta (<em>manath</em>) rebonding.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut  kami, rebonding hukumnya haram, karena termasuk dalam proses mengubah  ciptaan Allah (<em>taghyir khalqillah</em>) yang telah diharamkan oleh  nash-nash syara’. Dalil keharamannya adalah keumuman firman Allah  (artinya), <em>&#8220;Dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan  Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya&#8221;</em>. (<strong>QS An-Nisaa` [4] :  119</strong>). Ayat ini menunjukkan haramnya mengubah ciptaan Allah, karena  syaitan tidak menyuruh manusia kecuali kepada perbuatan dosa.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengubah  ciptaan Allah (<em>taghyir khalqillah</em>) didefinisikan sebagai proses  mengubah sifat sesuatu sehingga seakan-akan ia menjadi sesuatu yang lain  (<em>tahawwul al-syai` ‘an shifatihi hatta yakuna ka`annahu syaiun akhar</em>),  atau dapat berarti menghilangkan sesuatu itu sendiri (<em>al-izalah</em>).  (Hani bin Abdullah al-Jubair, <em>Al-Dhawabit al-Syar’iyah li  al-‘Amaliyat al-Tajmiliyyah</em>, hlm.9).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari definisi tersebut,  berarti rebonding termasuk dalam mengubah ciptaan Allah (<em>taghyir  khalqillah</em>), karena rebonding telah mengubah struktur protein dalam  rambut secara permanen sehingga mengubah sifat atau bentuk rambut asli  menjadi sifat atau bentuk rambut yang lain. Dengan demikian, rebonding  hukumnya haram.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain dalil di atas, keharaman rebonding juga  didasarkan pada dalil Qiyas. Dalam hadis Nabi SAW, diriwayatkan oleh  Ibnu Mas&#8217;ud RA, dia berkata,<em>&#8220;Allah melaknat wanita yang mentato dan  yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan  bulu alisnya, serta wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan,  mereka telah mengubah ciptaan Allah.&#8221;</em> (<strong>HR Bukhari</strong>).</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis  ini telah mengharamkan beberapa perbuatan yang disebut di dalam nash,  yaitu mentato, minta ditato, mencabut atau minta dicabutkan bulu alis,  dan merenggangkan gigi. Keharaman perbuatan-perbuatan itu sesungguhnya  didasarkan pada suatu illat (alasan penetapan hukum), yaitu mencari  kecantikan dengan mengubah ciptaan Allah (thalabul husni bi taghyir  khalqillah) (Walid bin Rasyid Sa’idan, <em>Al-Ifadah al-Syar’iyyah fi  Ba’dh al-Masa`il al-Thibbiyyah</em>, hlm. 62). Dengan demikian, rebonding  hukumnya juga haram, karena dapat diqiyaskan dengan perbuatan-perbuatan  haram tersebut, karena ada kesamaan illat, yaitu mencari kecantikan  dengan mengubah ciptaan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian ulama telah menyimpulkan  adanya illat dalam hadis tersebut, sehingga mereka mengambil kesimpulan  umum dengan jalan Qiyas, yaitu mengharamkan segala perbuatan yang  memenuhi dua unsur illat hukum, yaitu mengubah ciptaan Allah dan mencari  kecantikan. Abu Ja’far Ath-Thabari berkata,&#8221;Dalam hadis ini terdapat  dalil bahwa wanita tidak boleh mengubah sesuatu dari apa saja yang Allah  telah menciptakannya atas sifat pada sesuatu itu dengan menambah atau  mengurangi, untuk mencari kecantikan, baik untuk suami maupun untuk  selain suami.&#8221; (Imam Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, 10/156; Ibnu Hajar,  <em>Fathul Bari</em>, 17/41; <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, 7/91).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun  meluruskan atau mengeriting rambut tanpa perlakuan kimiawi yang  mengubah struktur protein rambut secara permanen, yakni hanya  menggunakan perlakuan fisik, seperti menggunakan rol plastik dan yang  semisalnya, hukumnya boleh. Sebab tidak termasuk mengubah ciptaan Allah,  tapi termasuk <em>tazayyun</em> (berhias) yang dibolehkan bahkan  dianjurkan syara’, dengan syarat tidak boleh ditampakkan kepada yang  bukan mahram. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jakarta, 31 Januari 2010</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad  Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(Catatan : Pendapat ini adalah pendapat pribadi  kami, tidak merepresentasikan pendapat Hizbut Tahrir Indonesia)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/453/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/453/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=453&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2010/03/14/hukum-rebonding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i47.tinypic.com/4iij3m_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>NON MUSLIM MENYUMBANG PEMBANGUNAN MASJID, BOLEHKAH?</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2010/01/26/non-muslim-menyumbang-pembangunan-masjid-bolehkah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2010/01/26/non-muslim-menyumbang-pembangunan-masjid-bolehkah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 03:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Ada non muslim ikut menyumbang pembangunan masjid. Hukumnya bagaimana ustadz? (Rohmad, Tulungagung) Jawab : Non muslim tidak berhak dan tidak boleh menyumbang pembangunan masjid. Sebab membangun masjid termasuk kegiatan memakmurkan masjid (’imaratul masajid) yang menjadi hak dan kewajiban khusus kaum muslimin, bukan yang lain. Dalilnya adalah firman Allah SWT (artinya) : &#8220;Tidak pantas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=450&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=f%2BydX%2FAT8aV0gDvLXoMA94h4l5k2TGxc"><img src="http://i49.tinypic.com/68henq_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya :</strong></p>
<p><em> </em><em>Ada non muslim ikut menyumbang pembangunan masjid. Hukumnya bagaimana ustadz?</em> (Rohmad, Tulungagung)</p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p>Non muslim tidak berhak dan tidak boleh menyumbang pembangunan masjid. Sebab membangun masjid termasuk kegiatan memakmurkan masjid (<em>’imaratul masajid</em>) yang menjadi hak dan kewajiban khusus kaum muslimin, bukan yang lain.<span id="more-450"></span></p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah SWT (artinya) : <em>&#8220;Tidak pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir.&#8221;</em> (QS At-Taubah [9] : 17). Yang dimaksud &#8220;masjid-masjid Allah&#8221; (<em>masajidallah</em>) dalam ayat ini adalah masjid secara umum, bukan hanya Masjidil Haram di Makkah. (<em>Tafsir Al-Qurthubi</em>, 8/89; <em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, 4/119).</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir tidak berhak memakmurkan masjid. Terkait masalah ini Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari mengutip Abu Ja’far yang berkata,&#8221;Sesungguhnya masjid-masjid dibangun untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk kufur kepada Allah. Maka barangsiapa kafir kepada Allah, tidak berhak dia memakmurkan masjid-masjid Allah.&#8221; (Imam Thabari, <em>Tafsir Ath-Thabari</em>, 14/165).</p>
<p>Dalil ayat di atas diperjelas dengan ayat selanjutnya, sesuai firman Allah (artinya) : <em>&#8220;Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah.&#8221;</em> (QS At-Taubah [9] : 18). Ayat ini menunjukkan yang berhak memakmurkan masjid hanyalah orang muslim, bukan yang lain. Sebab sifat-sifat yang dilekatkan Allah kepada orang yang memakmurkan masjid, hanyalah sifat-sifat khusus muslim, yaitu beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegakkan shalat lima waktu, dan membayar zakat. (<em>Tafsir Al-Qurthubi,</em> 8/90-91).</p>
<p>Adapun yang dimaksud aktivitas memakmurkan masjid (<em>’imaratul masajid</em>) adalah segala kegiatan yang terkait dengan kemaslahatan masjid, baik kegiatan fisik (<em>hissiyah</em>) maupun non fisik (<em>ma’nawiyah</em>). Kegiatan fisik contohnya membangun masjid, memperbaiki bagian-bagian masjid yang rusak, memasang lampu penerangannya, melayani jamaahnya, dan menjaga kebersihannya.</p>
<p>Sedang kegiatan non fisik contohnya mengerjakan sholat jamaah di dalamnya, mengangkat imam dan muadzinnya, mengadakan i’tikaf di dalamnya, berdzikir di dalamnya, mengadakan berbagai majelis pengajian di dalamnya, seperti pengajian tafsir Al-Qur`an, pengajian hadis Nabi SAW, pengajian fikih, dan sebagainya.</p>
<p>Termasuk memakmurkan masjid adalah mencegah segala penyimpangan, ketidakpantasan, atau kegaduhan di dalam masjid. Misalnya mencegah perempuan yang haid berdiam di masjid, mencegah jual beli di masjid, mencegah suara gaduh di masjid yang mengganggu orang shalat, seperti suara orang mengaji Al-Qur`an yang terlalu keras, suara dering HP, atau teriakan anak-anak, dan sebagainya. (Muhammad Al-Arfaj, <em>Al-Masyru’ wa Al-Mamnu’ fi Al-Masjid</em>, hal. 15; Sa’id Al-Qahthani, <em>Al-Masajid</em>, hal. 20; Abdullah Al-’Askar, <em>Ahkam Hudhur Al-Masjid</em>, hal. 16-17).</p>
<p>Kesimpulannya, non muslim tidak dibolehkan menyumbang pembangunan masjid. Sebab non muslim tidak berhak turut serta dalam kegiatan memakmurkan masjid. Hanya kaum muslimin saja yang berhak dan berkewajiban memakmurkan masjid. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Yogyakarta, 17 Januari 2010</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<p><strong><a href="http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=704&amp;Itemid=33" target="_blank">Sumber</a><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=450&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2010/01/26/non-muslim-menyumbang-pembangunan-masjid-bolehkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i49.tinypic.com/68henq_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>TIDAK SHALAT JUM&#8217;AT KARENA BEKERJA</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/29/tidak-shalat-jumat-karena-bekerja/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/29/tidak-shalat-jumat-karena-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 08:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah1924.org]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Tanya : Ustadz, apa hukumnya tidak sholat Jum&#8217;at karena sedang bekerja, misalnya satpam, pekerja pabrik, pegawai hotel, dll? Jawab : Sholat Jumat hukumnya fardhu &#8216;ain bagi setiap muslim. (Uwaidhah, Al-Jami&#8217; li Ahkam Al-Shalat, II/170; Ali Raghib, Ahkam Al-Shalah, hlm. 44). Dalilnya firman Allah (artinya):&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk menunaikan shalat pada hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=447&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://tinypic.com/usermedia.php?uo=dSQmRIlC78v%2BNR%2B0fuXU7oh4l5k2TGxc"><img src="http://i35.tinypic.com/mkigm_th.jpg" border="0" alt="" align="left" /></a>Tanya :</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ustadz, apa hukumnya tidak sholat Jum&#8217;at karena sedang bekerja, misalnya satpam, pekerja pabrik, pegawai hotel, dll?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sholat Jumat hukumnya fardhu &#8216;ain bagi setiap muslim. (Uwaidhah, <em>Al-Jami&#8217; li Ahkam Al-Shalat</em>, II/170; Ali Raghib, <em>Ahkam Al-Shalah</em>, hlm. 44). Dalilnya firman Allah (artinya):<em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.&#8221;</em> (QS Al-Jumu&#8217;ah : 9).<span id="more-447"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada orang-orang yang tidak diwajibkan shalat Jumat, karena ada nash-nash hadis yang mengecualikan ayat di atas. Mereka adalah : anak-anak, budak, perempuan, orang sakit, orang dalam perjalanan (<em>musafir</em>), dan orang-orang yang ada <em>udzur</em> (halangan) misal orang dalam ketakutan (<em>al-kha`if</em>) karena perang dll. (Uwaidhah, <em>Al-Jami&#8217; li Ahkam Al-Shalat</em>, II/170). Nabi SAW bersabda,&#8221;<em>Shalat Jum&#8217;at adalah hak yang wajib atas setiap muslim dalam suatu jamaah, kecuali empat orang : budak, perempuan, anak-anak, dan orang sakit.&#8221;</em> (HR Abu Dawud no 901). Nabi SAW bersabda,&#8221;<em>Tak ada atas musafir kewajiban shalat Jumat.&#8221;</em> (HR Daruquthni no 1601). Nabi SAW bersabda,<em>&#8220;Barangsiapa mendengar adzan Jumat, lalu tidak ada udzur yang menghalanginya untuk mengikutinya, maka tak ada shalat baginya.&#8221; Para sahabat bertanya,&#8221;Apakah udzurnya?&#8221; Nabi SAW menjawab,&#8221;Takut atau sakit.&#8221; </em>(HR Al-Hakim no 857; Abu Dawud no 464).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka dari itu, orang-orang yang tidak dikecualikan, tetap terkena kewajiban shalat Jumat. Jadi mereka yang sedang bekerja seperti satpam, pekerja pabrik, pegawai hotel, tetap wajib shalat Jumat, sebab tidak ada nash yang mengecualikan keumuman ayat yang mewajibkan shalat Jumat (QS Al-Jumu&#8217;ah : 9). Jika mereka meninggalkan shalat Jumat, mereka berdosa karena telah meninggalkan kewajiban yang ditetapkan Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun menurut kami masih ada jalan keluarnya. Laksanakan shalat Jumat walaupun hanya oleh dua orang saja. Inilah jumlah minimal peserta shalat Jumat (termasuk imam/khatib) yang <em>rajih</em> (kuat) menurut kami. (Uwaidhah, <em>Al-Jami&#8217; li Ahkam Al-Shalat</em>, II/172). Ini adalah pendapat Imam Ibrahim an-Nakha`i, Imam Ibnu Hazm, dan Imam Asy-Syaukani. (Ibnu Hazm, <em>Al-Muhalla</em>, Juz V/45, Al-Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, Juz 5/289). Dalilnya adalah kemutlakan hadis shalat jamaah yang sah dengan minimal dua orang. (HR Bukhari, no 618).</p>
<p style="text-align:justify;">Memang ada khilafiyah tentang jumlah minimal peserta shalat Jumat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan ada 15 pendapat dalam masalah ini (<em>Fathul Bari</em>, Juz III/349). Namun yang rajih ialah minimal dua orang seperti telah kami kemukakan. Sebab tidak ada dalil yang sahih yang mensyaratkan jumlah orang tertentu dalam shalat Jumat (misalkan 40 orang). Imam Suyuthi berkata,&#8221;Tidak ada satupun hadis sahih yang menetapkan jumlah tertentu dalam shalat Jumat.&#8221; (Al-Syaukani, <em>Nailul Authar</em>, Juz 5/289).</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil, mereka yang bekerja seperti satpam, pekerja pabrik, pegawai hotel, dan semisalnya, tetap wajib shalat Jumat. Jalan keluarnya, laksanakan dalam jamaah kecil minimal dua orang. Boleh salah satunya sudah shalat Jumat. Khutbah tetap wajib. Waktunya pun boleh agak diakhirkan misalnya jam 13.00 atau jam 14.00 karena waktu shalat Jumat sama dengan waktu shalat Dzuhur. <em>Wallahu a&#8217;lam</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yogyakarta, 16 Oktober 2009</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad Shiddiq Al-Jawi</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=447&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/29/tidak-shalat-jumat-karena-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i35.tinypic.com/mkigm_th.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Soal Jawab: Karamah</title>
		<link>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/25/soal-jawab-karamah/</link>
		<comments>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/25/soal-jawab-karamah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 16:33:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taukhid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[www.hizbut-tahrir.or.id]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taukhid.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Jawab Soal Soal: mukjizat adalah perkara yang keluar dari kebiasaan (menyalahi kenormalan) dan itu tidak terjadi kecuali bagi para nabi dan rasul. Akan tetapi para ulama banyak mengulang kata karamah. Mereka mendefinisikannya dengan berbagai definisi. Mereka berupaya berdalil atas karamah itu dengan ayat-ayat dan hadis-hadis yang banyak. Pertanyaannya adalah, apakah ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=441&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jawab Soal</strong></p>
<p><strong>Soal: </strong>mukjizat adalah perkara<strong> </strong>yang keluar dari kebiasaan (menyalahi kenormalan) dan itu tidak terjadi kecuali bagi para nabi dan rasul. Akan tetapi para ulama banyak mengulang kata karamah. Mereka mendefinisikannya dengan berbagai definisi. Mereka berupaya berdalil atas karamah itu dengan ayat-ayat dan hadis-hadis yang banyak. Pertanyaannya adalah, apakah ada yang disebut karamah, atau apa? Jika jawabnya benar ada, kami ingin mendapat penjelasan yang mencukupi dalam masalah tersebut. Jika jawabannya tidak, lalu bagaimana kami membantah kisah misalnya <em>ashhabul kahfi</em> dan <em>ashhabul uhdud</em>, atau perkataan Umar “Wahai detasemen (ke arah) gunung”. Demikian pula cerita Sa’ad bin Abiy Waqash di sungai Tigris dan banyak contoh dalam masalah itu?<span id="more-441"></span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p>1.                   Allah SWT telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan dengan aturan-aturan dan karakteristik-karakteristik yang manusia tidak bisa merubahnya atau merusaknya:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;"> لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ </span></p>
<p><em>Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.</em> <strong>(QS Yâsîn [36]: 40)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ * وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ}</span></p>
<p><em>Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?</em> <strong>(QS adz-Dzâriyât [50]: 20-21)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ * إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ}</span></p>
<p><em>Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.</em><strong> (QS Yunus [10]: 5-6)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ}</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang</em><strong> (QS ash-Shaffat [37]: 6)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ}</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang</em><strong> (QS al-Hijr [15]: 16)</strong></p>
<p>Dan ayat-ayat lainnya.</p>
<p>2.                   Allah SWT telah memudahkan makhluk-makhlukNya untuk hidup sesuai dengan potensi fithriyah yang telah Dia tetapkan pada diri mereka. Maka manusia tidak bisa terbang di udara dengan tubuhnya seperti burung. Ia juga tidak bisa berjalan di atas air dengan tubuhnya seperti makhluk-makhluk air. Manusia hidup di atas kedua kakinya di daratan. Ia tidak bisa merusak undang-undang (aturan) tersebut dan berjalan dengan kedua kakinya di atas air atau terbang di udara…</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ}</span></p>
<p><em>Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.</em> <strong>(QS al-An’âm [6]: 38)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ}</span></p>
<p><em>Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</em> <strong>(QS an-Nûr [24]: 45)</strong></p>
<p>3.                   Begitu pula Allah memberikan karakteristik pada sesuatu yang tidak bisa dilampaui. Api bisa membakar, maka tidak seorang pun yang mampu menghapuskan karakteristik membakar yang telah diciptakan oleh Allah di dalam api selama itu adalah api. Kecuali Allah menghapuskannya sebagaimana Allah menyelamatkan Ibrahim as. dari api. Maka Allah menghilangkan karakteristik membakar itu dari api. Allah SWT berfirman:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ}</span></p>
<p><em>Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. </em><strong>(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 69)</strong></p>
<p>Begitu pulalah karakteristik yang ada pada benda-benda lainnya.</p>
<p>4.                   Kemudian sungguh Allah telah menundukkan alam semesta ini untuk kita agar kita hidup di dalamnya sesuai implikasi <em>fitriyah qanuniyah</em>. Setiap penelantaran terhadap undang-undang itu akan bertentangan dengan ditundukkannya alam semesta itu. Allah SWT sajalah yang Maha Kuasa atas hal itu. Jika Allah SWT memberitahu kita akan penelantaran undang-undang itu maka kita mengimaninya. Dan sebaliknya jika Allah tidak memberitahu kita maka itu termasuk di dalam cakupan ditundukkannya alam semesta ini untuk kita.</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ}</span></p>
<p><em>Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.</em> <strong>(QS an-Nahl [16]: 14)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ}</span></p>
<p><em>Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.</em> <strong>(QS al-Hajj []: 65)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ}</span></p>
<p><em>Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.</em> <strong>(QS Luqmân [31]: 20)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ}</span></p>
<p><em>Dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.</em> <strong>(QS al-A’râf [7]- 54)</strong></p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ * وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ}</span></p>
<p><em>dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.</em> <em>Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.</em> <strong>(QS Ibrahim [14]: 32-33)</strong></p>
<p>5.                   Allah SWtT telah mengutus para rasul dan mendukung mereka dengan berbagai mukjizat yang menetapkan kesahihan risalah mereka. Yaitu hal-hal yang keluar dari kebiasaan. Allah mengabaikan sebagian undang-undang yang Dia langsungkan atas tangan rasul-rasulNya. Hal itu sebagai tantangan kepada manusia agar mereka mengimani bahwa siapa yang menampakkan perkara-perkara yang menyalahi (keluar dari) kebiasaan di atas tangannya adalah seorang nabi yang diutus.</p>
<p>Allah SWT membuat perubahan tongkat yang mati menjadi ular besar yang hidup secara hakiki, yaitu bukan hanya perubahan dalam pandangan orang-orang seperti halnya sihir. Karena itu, para tukang sihir ketika mereka melihat tongkat menjadi hidup benar-benar (hakiki), mereka pun menjadi orang-orang pertama yang beriman bahwa Musa as adalah nabi yang diutus Allah Rabb semesata alam. Hal itu kerena mereka paham bahwa kejadian itu menyalahi kebiasaan yang tidak bisa dilakukan manusia. Semisal dengan itu ketika Musa as dan kaumnya berjalan di atas air dan mereka membelah laut … Begitu pula Isa as menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Demikian pula Rasul saw berbicara dengan bahasa arab yang orang arab sendiri tidak bisa melakukannya … Dan mukjizat di tangan para nabi dan rasul merupakan perkara yang sudah diketahui bersama berserta dalil-dalilnya.</p>
<p>6.                   Adapun yang disebut oleh orang-orang sebagai karamah bagi selain para nabi dan rasul, maka itu merupakan <em>taufiq</em> dari Allah SWT untuk hambanya dalam suatu aktifitas dalam bentuk yang memikat pandangan. Itu kadang berupa sesuatu yang menyalahi kebiasaan (kenormalan) yaitu menyalahi undang-undang alam semesta. Dan kadang kala tidak menyalahi kenormalan, melainkan hal itu memikat membuat orang membayangkan karena kuatnya <em>taufiq</em> itu.</p>
<p>Jika menyalahi kenormalan, maka Allah SWT memberitahu kita tentangnya, karena nash-nash yang ada bersifat umum tentang ditundukkannya alam semesta untuk manusia yaitu dalam koridor hukum-hukum alam. Jadi penghapusan penundukan itu dalam kondisi khusus, yaitu menyalahi undang-undang alam pada kondisi khusus, maka itu memerlukan nash yang mengkhususkan keumuman itu.</p>
<p>Jika terdapat nash yang menyatakan bahwa <em>taufiq</em> yang dijadikan oleh Allah untuk seorang hamba itu adalah perkara yang menyalahi kenormalan, kita mengimaninya. Sebaliknya jika tidak terdapat nash tentang sesuatu yang menyalahi kenormalan, maka itu hanyalah <em>taufiq</em> dari Allah SWT dalam koridor undang-undang alam yang telah diciptakan oleh Allah SWT.</p>
<p>Karena itu, rezki yang datang kepada Maryam as tidak pada waktunya tanpa ada seorang pun yang mendatangkannya, artinya merupakan rezki yang menyalahi kenormalan, maka kita mengimaninya karena Allah SWT memberitahu kita tentangnya.</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">{كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}</span></p>
<p><em>Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. </em><strong>(QS Ali Imran [3]: 37)</strong></p>
<p>Begitulah, apa yang dinyatakan di dalam al-Kitab dan as-Sunnah seputar peristiwa-peristiwa yang menyalahi kenormalan milik selain para nabi dan rasul, maka kita megimaninya menurut konteksnya, yaitu kita membenarkannya secara pasti jika terdapat nash yang <em>qath’i tsubut</em> dan <em>qath’i dilalah</em>, atau membenarkannya tanpa kepastian jika tidak bersifat <em>qath’i tsubut</em> dan <em>qath’i dilalah</em>.</p>
<p>Ini adalah jawaban atas apa yang disebutkan berupa peristiwa-peristiwa yang menyalahi kenormalan yang disebutkan di dalam nash-nash, seperti kisah <em>Ashhabul Kahfi</em>, <em>Ashhabul Uhdud</em>, Maryam as. … Semua itu dinyatakan di dalam al-Quran maka kita mengimaninya.</p>
<p>Adapun pasca wafatnya Rasul saw, maka nash yang diriwayatkan telah terputus (tidak ada lagi nash baru), kecuali berupa ijmak shahabat yang mengungkapkan adanya dalil yang mereka dengar dari Rasul saw tetapi tidak mereka riwayatkan. Dan kecuali berupa hadis-hadis di mana Rasul saw pada masa kehidupan Beliau memuji sebagian sahabat dengan pernyataan atas mereka dan nama-nama mereka dalam hal perkataan dan perbuatan yang berlangsung melalui tangan mereka sesuai dengan <em>taufiq</em> yang sampai menyalahi kenormalan. Jika terdapat nash-nash yang mensifati pribadi-pribadi tertentu bahwa perkataan atau perbuatan berlangsung melalui tangan mereka dalam kondisi-kondisi tertentu, maka kita membenarkannya berdasarkan konteksnya yaitu secara tegas (pasti) atau tidak tegas sesuai dengan tsubutnya.</p>
<p>Sedangkan selain itu di antara perkataan dan perbuatan yang dilakukan sebagian kaum Muslim tanpa ada nash yang menyatakan pribadi-pribadi mereka di dalam al-Kitab dan as-Sunnah, maka semua perkataan dan perbuatan itu tidak menyalahi kenormalan. Akan tetapi tetap dalam koridor undang-undang alam semesta. Dan itu merupakan tawfiq dari Allah SWT kepada hambanya yang bertakwa dengan kesuksesan di dalam perbuatan-perbuatan mereka dan keselamatan dari keburukan musuh-musuh mereka dan semacamnya.</p>
<p>7.                   Adapun terkait dengan apa yang terjadi melalui lisan Umar ra berupa perkataannya “Wahai detasemen, (ke arah) gunung”, dan bahwa Allah SWT menyampaikan perkataannnya itu kepada para tentara sehingga mereka meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka, maka Rasul saw bersabda tentang Umar dalam hadis yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari jalur Abu Dzar ra., ia berkata:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">«سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ»</span></p>
<p><em>Aku mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Allah meletakkan kebenaran di atas lisan Umar yang ia ucapkan</em></p>
<p>Sedangkan hadis yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dari jalur Ibn Umar bahwa Rasul saw pernah bersabda:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">« إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ»</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di atas lisan Umar dan hatinya</em></p>
<p>Dan apa yang dikeluarkan oleh imam Ahmad dari jalur Ibn Umar bahwa Nabi saw pernah bersabda:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ»</span></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di atas lisan Umar dan hatinya</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Karena itu kita mengambil hadis-hadis tersebut dan membenarkan perkataan Umar “Hai detasemen, (ke arah) gunung” berdasarkan konteksnya secara tegas atau tidak secara tegas sesuai <em>tsubut</em> riwayat. Hal itu berdasarkan hads-hadis Rasul saw yang telah disebutkan.</p>
<p>8.                   Sedangkan apa yang dinyatakan tentang Sa’ad bin Abi Waqash ra., tentang melintasi sungai Tigris, maka demikian pula kita membenarkannya berdasarkan konteksnya sesuai <em>tsubut</em> riwayat baik secara tegas atau tidak tegas. Karena Rasul saw memuji Sa’ad secara pribadinya. Rasul saw bersabda dalam hadis yang dikeluarkan oleh imam Ahmad di dalam Musnadnya dari jalur Abdullah bin Amru</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">«أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ مِنْ هَذَا الْبَابِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ»</span></p>
<p><em>Bahwa Nabi saw bersabda: “Yang pertama kali memasuki pintu ini adalah seorang laki-laki di antara penduduk surga” maka Sa’ad bin Abi Waqash pun masuk.</em></p>
<p>Dan hadis yang dikeluarkan oleh Ibn Hibban dari jalur Ibn Umar ia berkata: “Kami sedang duduk bersama Rasulullah saw, Beliau bersabda:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">« يَدْخُلُ عَلَيْكُمْ مِنْ ذَا الْبَابِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»</span></p>
<p><em>Masuk kepada kalian dari pintu itu seorang laki-laki dari penduduk surga</em></p>
<p>Ibn Umar berkata: “Dan ternyata Sa’ad bin Abiy Waqash muncul (dari pintu itu).”</p>
<p>Demikian pula Rasul saw berdoa kepada Allah SWT agar menjawab doa Sa’ad sebagaimana yang dinyatakan di dalam <em>al-Mustadrak ‘alâ ash-Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>y<span style="text-decoration:underline;">h</span>ayn</em> karangan al-Hakim dan di dalam <em>Dalâil an-Nubuwwah</em> oleh al-Baihaqi dan Ibn Hibban dari jalur Qays bin Abi Hazm ia berkata: “Aku mendengat Sa’ad, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepadaku:</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">« اَللَّهُمَّ اِسْتَجِبْ لَهُ إِذَا دَعَاكَ »</span></p>
<p><em>Ya Allah jawablah ia jika ia memohon kepadaMu </em><strong>(al-Hakim di dalam <em>al-Mustadrak</em>-nya berkata: “ini hadis sahih sanadnya”)</strong></p>
<p>Sedangkan dalam riwayat melintasi sungai pada penaklukan Mada’in dalam bentuk melintasi sungai, maka Sa’ad ketika itu memobilisasi tentara dan ia berkata: “Aku memandang hendaknya kalian berjihad memerangi musuh sebelum kalian mendapatkan dunia. Ingatlah aku telah bertekad untuk menyeberangi lautan untuk menggempur mereka”. Kemudian Sa’ad berdoa kepada Allah dan berkata kepada pasukan: katakanlah</p>
<p><span style="font-size:16pt;font-family:traditional arabic;">نَسْتَعِيْنُ بِاللهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَاللهِ لَيَنْصُرُنَّ اللهُ وَلِيَهُ وَلَيَظَهَرْنَ دِيْنَهَ وَلَيَهْزِمَنَّ عَدُوَّهُ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ<strong> </strong></span></p>
<p><em>Kami memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung, demi Allah Dia pasti menolong waliNya dan pasti memenangkan agamaNya dan pasti mengalahkan musuhNya, tiada kekuatan kecuali dengan kekuatan yang berasal dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung</em></p>
<p>Kemudian Sa’ad melintasi sungai Tigris dan orang-orang ikut melintasi sungai dan mereka menunggangi kuda-kuda mereka …</p>
<p>Dan itu meskipun pada beberapa riwayat arus sungai itu bisa mencapai punggung kuda jika tidak ada lumpur. Sedangkan dalam kondisi berlumpur maka arus air sungai itu meninggi, khususnya ketika Sa’ad melintasi sungai itu… Bisa saja mereka melintasi sungai itu pada tingkat arus tertentu. Meskipun demikian yang bisa dipahami dari riwayat pembebasan Mada’in, Sa’ad dan pasukannya telah melintasi sungai dan ketika itu sedang banyak air.</p>
<p>Di dalam beberapa riwayat dinyatakan bahwa salah seorang dari mereka tenggelam saat melintas itu. Ibn al-Kalbi menyebutkan bahwa Sulail bin Zaid: telah syahid pada saat pembebasan Irak dan pada hari kaum muslim melintasi (sungai) menuju Mada’in ia tenggelam di sungai Tigris sedangkan yang lainnya tidak tenggelam. Ath-Thabari menyebutkan di dalam <em>Târîkh</em>nya bahwa kaum muslim ketika mereka melintasi sungai Tigris mereka selamat hingga orang yang terakhir kecuali satu orang dari Bariq yang dipanggil Gharqadah jatuh dari punggung kuda yang memiliki rambut berwarna blonde lalu al-Qa’qa’ bin Amru melemparkan tali kekang kudanya dan meraih dengan tangannya sehingga berhasil melintasinya.</p>
<p>Artinya ketika itu ada yang tenggelam dan ada yang jatuh dari punggung kudanya kemudian al-Qa’qa’ berhasil meraihnya …</p>
<p>Akan tetapi pada semua kondisi, baik itu menyalahi kenormalan atau karena kemahiran, maka keadaan Sa’ad yang mustajab doanya dan bahwa ia berdoa memohon memperoleh kemenangan dan musuh menderita kekalahan… Dan kenyataan Rasul saw telah menyebut Sa’ad termasuk ahlul jannah dan berdoa dengan doa mustajab, maka kita mengambil hadis-hadis ini dan membenarkan riwayat berdasarkan konteksnya, baik secara tegas atau tidak tegas sesuai dengan tsubutnya.</p>
<p>Ringkasnya:</p>
<ul class="unIndentedList">
<li> Alam semesta ini sudah ditundukkan untuk manusia sesuai dengan undang-undang dan karakteristiknya.</li>
<li> Pengabaian suatu undang-undang dan karakteristik adalah pengkhususan terhadap nash-nash yang bersifat umum tentang ditundukkannya alam semesta untuk manusia.</li>
<li> Berikutnya, maka pembenaran suatu hal yang menyalahi kenormalan memerlukan nash.</li>
<li> Jika tidak terdapat nash maka perkara-perkara itu tetap mengikuti fithrah yang telah dijadikan dasar penciptaannya.</li>
<li> Dan jika terdapat nash maka kita mengimaninya berdasarkan konteksnya seperti mukjizat para Nabi dan seperti karamah untuk selain para nabi yang dinyatakan oleh nash-nash yang ada.</li>
<li> Selain yang demikian, yaitu yang tidak terdapat nash tentangnya, maka suatu perbuatan atau perkataan besar yang memikat pandangan yang dilakukan oleh seorang muslim betatapun ketakwaannya, maka itu bukan sesuatu yang menyalahi kenormalan, dan tidak merusak undang-undang alam semesta. Akan tetapi ia merupakan <em>taufiq</em> dari Allah SWT untuk hambaNya dalam bentuk kesuksesan di dalam perbuatan mereka, atau benteng dari keburukan-keburukan musuh-musuh mereka.</li>
</ul>
<p><strong>13 Juni 2009</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taukhid.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taukhid.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taukhid.wordpress.com&amp;blog=4045792&amp;post=441&amp;subd=taukhid&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taukhid.wordpress.com/2009/12/25/soal-jawab-karamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92e0450f3b6c6c79a51cbddbe48ecc3c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taukhid</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
